728x90 AdSpace

Update
23 Agustus 2016

Cerpen: "Obsesi"


Siang begitu terik, matahari bersinar terasa mencekik, di tengah kota Jakarta yang pelik, hiruk pikuk tingkah pengamen yang menggelitik. Sengatan matahari membuat kepala mahasiswa/i Universitas Trisakti semakin mendidih, khususnya mahasiswa Program Studi Pariwisata. 

Tugas dari dosen mata kuliah Indonesia Tourism Development membuat mereka pusing tujuh keliling. Begitupun dirasakan oleh Dhani, mahasiswa berprestasi di berbagai bidang dan akademik yang membuat dosen dan teman-temannya geleng-geleng kepala. Ia sangat mementingkan nilainya. Semester-semester sebelumnya ia lalui dengan IPK 3,99, nyaris sempurna.

Begitupun tugas hari ini telah diselesaikannya tepat waktu, sisanya ia harus menunggu temannya yang belum mengumpulkan, karena Pak Henky mengamanahkannya menjadi pengumpul tugas sampai pukul 14.00.

“Perhatian semuanya, sekarang sudah pukul 13.30 aku harus segera mengumpulkan tugas ini, kalau tidak nilai kita akan “D” semua” teriak Dhani di depan kelas.

“Tunggu sebentar, tugas ini sulit banget Dhan. Kau tahu sendiri kan tingkat kesulitannya kaya gimana? Aku saranin, sebaiknya kamu menghadap ke pak Henky dulu buat minta tambahan waktu. Kamu liat sendiri kan, baru kamu doang yang udah selesai.” jawab Rara sambil berdiri, Rara adalah mahasiswi tercantik tapi juga pintar di kelas.

“iya betul tuh, kita masih ngerjain nih, susah banget tau !!!” teriak anak-anak lain menyetujui perkataan Rara.

Suasana kelas pun mulai kacau balau, konsentrasi mereka jadi buyar, tugas mereka terbengkalai, semuanya tertuju pada sang Kosma yang terlalu menekan teman-temannya, tanpa tahu kemampuan mereka, tanpa membantu sebisanya, Dhani adalah Kosma yang hanya mementingkan nilainya, nilai teman sekelasnya urusan belakangan.

“DIAM semua!!!, kalian tuh manja banget. Mau selesai kek, mau enggak kek tugas kalian, terseraahh. Gak ngurusin, yang penting Aku sudah ngumpulin!” teriakan Dhani membuat seisi kelas terdiam.

Tak sampai satu menit seisi kelas berangsur-angsur kosong, penghuninya keluar dari kelas tanpa memberikan respon atas apa yang telah  diucapkan Dhani. Mereka belakangan ini sudah terbiasa dengan sikapnya, tatapan benci serta cibiran-cibiran  sinis selalu didapatkan atas tindakannya itu. Sebelum Rara meninggalkan kelas, ia menghampiri Dhani.

“kamu ini kenapa sih Dhan ?” tanya Rara dengan nada sedikit emosi.

“aku? Kenapa? Apanya ra? Aku gak ngerasa kenapa-kenapa” jawab Dhani santai.

“Dhani, Dhani emang kamu gak sadar ya? belakangan ini kamu tuh terlalu egois sama kita? Kemarin-kemarin iya, aku diam aja atas semua tindakanmu yang kekanak-kanakan, kamu inget gak, kamu udah nambah jadwal kuliah tanpa persetujuan teman-teman, gak nyebarin adanya penambahan tugas, selalu ngumpulin tugas sesuai keinginanmu dan masih banyak lagi. Tapi kali ini kita udah capek dengan sikapmu. Harusnya kamu sadar, kamu itu kami tunjuk jadi Kosma karena kami percaya.” kata-kata itu keluar dengan spontan dari mulut Rara, bagaikan sambaran petir di siang bolong, tetapi Dhani hanya diam.

“terserahlah jika itu maumu, toh suatu saat kamu akan tahu apa akibat dari tindakanmu itu.” Rara pun meninggalkan Dhani di dalam kelas.

Dhani merenung, ia kaget akan apa yang ia dengarkan barusan. Selama ini ia menganggap tindakannya itu wajar-wajar saja, tetapi ternyata teman-temannya tidak menyukainya. Parahnya lagi, teman-temannya menjadi dirugikan karena dirinya. Ia pun mengingat dan meratapi apa saja kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat selama ini.

Keesokan harinya, Seperti biasa kegiatan perkuliahan berlangsung pukul 08.00. Pak Henky selaku dosen pengampu memberikan penjelasan singkat mengenai syarat-syarat untuk mengikuti Ujian Semester minggu depan. Sebelum itu mahasiswa diberikan tugas per kelompok.

“Ada berapa jumlah kalian di kelas ini? Saya akan membagi kelompok dimana satu kelompok beranggotakan 3 orang”

“Jumlah kami 34 pak, dan itu berarti ada 1 orang yang tidak memiliki kelompok” jawab Dhani

“naah itu cocok untukmu, kan kamu bisa menyelesaikan segalanya sendirian”


“lagian emang ada yang mau sekelompok dengan kamu?” kata Ricky dengan sinis.

“Sudah-sudah, itu terserah kalian. pokoknya yang saya mau satu kelompok itu beranggotakan maksimal 3 orang” dengan suara lantang Pak Henky menghentikan keributan di kelas.

Dan akhirnya Dhani pun mengerjakan tugasnya sendirian, tak ada satu pun dari temannya yang mau sekelompok dengan dia. Dhani sadar ternyata obsesinya untuk mendapatkan nilai tinggi membuatnya menjadi orang yang egois dan dijauhi oleh teman-temannya. Ia malu terhadap dirinya sendiri, kepercayaan yang selama ini diberikan kepada dirinya sudah tidak berarti apa-apa lagi di mata teman-temannya.

Hari ini pengumuman nilai akhir semester genap dipampang. Dhani berlari dengan terengah-engah menyusuri koridor kampus. hari ini merupakan saat yang mendebarkan. Hampir sama dengan semester-semester sebelumnya, perasaannya diselimuti dengan rasa takut, gelisah, senang, dan was-was.

Dengan perasaan yang campur aduk, Dhani berhenti di depan papan pengumuman. Sembari mencari-cari, ia masih khawatir akan IPKnya. Dan betapa kecewanya ia setelah melihat angka yang tertulis di samping namanya.

Ia berjalan dengan tatapan kosong dan perasaan hancur. Segala sesuatu dilewatkan begitu saja. Saat ini, ia tidak peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya. Semua bagaikan rumput yang kehadirannya tidak begitu penting, semuanya terasa beda. Ia bagaikan orang yang jatuh ke jurang dengan kedalam 50 km dari permukaan tanah.

IPKnya turun menjadi 3,49. Dhani tidak menyangka akan hasil yang ia dapatkan, hal ini menjadi beban pikirannya. Dengan begitu beban pikirannya pun semakin bertambah, teman-teman sekelasnya telah menjauhinya dan sekarang IPKnya ikut menjauhi obsesinya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. ia tertekan, dan tak ada satu pun orang yang mau menghiburnya.

So, manusia adalah makhluk sosial, jangan beranggapan segala sesuatunya bisa dilakukan sendiri, apalagi sampai menyinggung perasaan orang lain, karena Aku, Kamu dan Kita mempunyai hak yang sama. _^_

By: Eman_Sukmana
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: "Obsesi" Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan