728x90 AdSpace

-->
Update
6 September 2016

Tanah, Sampah dan . . .


I. Tanah, Sampah dan Kesaksian

Tanah dan sampah sebagai tema besar yang dipentaskan oleh Teater Jalanan dalam satu panggung mewah Karnaval di Kota Kuningan beberapa hari lalu, pada mulanya adalah sebuah kesaksian. Tanah yang tampak melengket pada tubuh, dan sampah yang terlihat menggantungkan diri pada manusia, di dalam pementasan teater itu adalah dua saksi penjaga yang menjadi pengantar pesan tentang sebuah kehidupan yang sudah lama tidak dibangunkan.

Tubuh dan tanah adalah subjek pertama yang berbicara pada aksi teater jalanan tersebut. Tubuh yang “telanjang” digambarkan berada dalam kondisinya yang paling asli, mengingatkan banyak orang akan sosok Adam, manusia yang hidup pertama kali di muka bumi.

Baluran tanah liat yang tampak lekat, yang memenuhi sekujur tubuh para pementas, dari ujung rambut hingga telapak kaki, dari celah mata hingga ruas-ruas jari seakan menegaskan kembali tentang pertanyaan abadi siapa sesungguhnya yang berhak mengatasnamakan tanah di atas bumi ini.

Subjek kedua dalam pementasan teater jalanan itu tentu saja adalah sampah. Entah, kira-kira berapa banyak macam sampah yang diboyong ke dalam pementasan pada siang hari yang penuh dengan “hujan” tawa itu. Sampah-sampah plastik melingkar gontai pada masing-masing leher manusia-manusia tanah. Sedangkan sampah-sampah jajanan yang berserakan di pinggir-pinggir jalan diangkut dan dimasukkan ke dalam dua mobil rakitan yang kemudian menyembur keluar merupa lenggak-lenggok dangdut dan kumandang sumpah kritikan.

Kesaksian yang disampaikan tanah pada tubuh maupun kesaksian sampah yang ditujukkan pada manusia adalah kesaksian para seniman teater jalanan atas kondisi masyarakat yang sudah telalu lama menunduk diam. Membujang, tanpa gairah dan perlawanan.

Potret tentang sebuah kesaksian atas baku-beku kehidupan ditemukan dalam salah satu sajak penyair pamflet urakan, WS. Rendra: 
Aku, ujar Rendra, mendengar suara jerit hewan yang terluka. Melihat, orang memanah rembulan. Mengintip, ada anak burung terjatuh dari sarangnya. Karena itu, orang-orang harus dibangunkan. Begitu pula dengan kesaksian ia harus diberikan. Agar kehidupan bisa tetap terjaga. [Penyair dan Kesaksian;1974] .

II. Tanah, Tubuh dan Kehidupan
Tanah adalah rumah bagi tubuh yang merdeka. Demikian kira-kira tafsir lanjutan yang berusaha menggambarkan tentang keleluasaan para seniman teater jalanan dalam mempertunjukkan keliaran aksi aksi tarian. 

Di tengah-tengah aksi yang penuh dengan tenaga purba tersebut, sebuah pertanyaan usang tiba-tiba saja melintas, seberapa berhargakah tanah bagi tubuh-tubuh kehidupan manusia ? Sebegitu besarkah energi tanah hingga dapat menggerakkan tubuh yang semula beku membatu, kelu membisu, dapat seketika berubah menjadi kekuatan godam yang menghancurkan. Lantas, dimanakah letak bersembunyinya tanah yang bertenaga purba itu menurut pandangan tubuh (hidup manusia)?

Sekali lagi, di dalam kekritisan kondisi atas pertanyaan-pertanyaan singkat-sesaat tersebut, warisan sajak-sajak Rendra  kembali menunjukkan “tuah”nya.

“Hidup untuk mengolah hidup. Bekerja membalik tanah. Memasuki rahasia langit dan samudra. Mencipta dan mengukir dunia. [Sajak seorang tua untuk istrinya]

Dengan begitu, tubuh yang menyatu bersama kehidupan manusia, sudah seghalibnya harus terus menerus diolah. Pola olah hidup tidak dimulai dari lingkar terluar diri manusia melainkan dari balik tanah terdalam yang bersembunyi di samudra tubuh manusia. Syahdan, letak tanah rahasia yang dicari-dicari itu sejatinya tidak berada di luar diri manusia melainkan bersemayam di dalam relung terintim diri manusia.

III. Sampah dan Do’a Kemanusiaan
Sampah plastik, sampah politik
Sampah berita, sampah kata-kata
Sampah basi, sampah birokrasi
Sampah jalanan, sampah peraturan

Sampah calana, sampah pengangguran
Sampah mainan, sampah pengadilan
Sampah asap, sampah penyuap
Sampah keresek, sampah esek-esek  

Perlukah lirik-lirik perlawanan itu diurai lebih? menurut saya mah tidak.
Menyanyikannya setiap selesai sembahyang lima waktu, saya kira lebih berpahala.


/Syafaat mohamad/September 2016/
TABIK.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tanah, Sampah dan . . . Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan