728x90 AdSpace

Update
18 Maret 2017

Cerpen: Sepenggal Kisah Ayu



Oleh : TR
     Namaku Ayu, kata orang namaku secantik parasku. Teman-teman perempuan banyak yang bilang kalau mereka iri dengan wajahku. Tentu saja aku yang sama sekali tak pernah tersentuh make up bisa memiliki paras yang cantik berbeda dengan teman-temanku yang suka berpakaian glamour dan berdandan ala artis Korea.

    Banyak yang bilang sebagai seorang gadis, hidupku telah sempurna. Hampir semua lelaki yang berkenalan denganku pasti memuji kecantikanku, bahkan banyak diantaranya yang berebut ingin menjadi pacarku. Bayu, seorang anak guru terpandang di desaku bahkan selalu menyempatkan diri untuk menjemputku setiap pagi dengan sepeda motor kebanggaannya. Ada pula Rio, anak seorang petani sukses yang memiliki sawah berhektar-hektar pun ikut-ikutan melakukan tebar pesona supaya aku mau jadi pacarnya.

    Tapi tak ada yang tahu aku terkadang  menyesali hidupku saat ini. Kenapa aku dilahirkan dengan kondisi kehidupan seperti sekarang. Bukan masalah kecantikan tentunya. Tapi aku menyesali keadaan keluargaku yang serba pas-pasan bahkan kekurangan.
    Bapakku, dia adalah seorang buruh bangunan. Bagi anak gadis sepertiku, ketika dimana-mana orang memuji parasku rasanya memalukan sekali ketika harus mengakui bahwa pekerjaan ayahku hanya seorang buruh bangunan. Setiap hari kerjaannya hanya berkutat dengan pasir, semen, bata dan cat. Bukan dengan orang-orang kebanyakan yang ber-safari atau berdasi. Apalagi membayangkan jika ayahku bisa memakai mobil mewah kesana kemari, sepertinya benar-benar mustahil.
    Ibuku pun hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak. Ya, aku punya seorang adik yang masiih kecil. Namanya Agus. Usianya 6 tahun. Dia belum bersekolah karena bapakku tak sanggup membiayainya jika harus menyekolahkan aku dan adikku. Biaya sekolah tk saat ini lumayan mahal bagi kami. Sekali lagi karena ekonomi.
    Aku sering protes pada nasibku, kenapa harus aku yang merasakan ini. Teman-temanku tak ada yang tahu kalau aku hanya anak dari seorang buruh bangunan. Aku tak pernah mengajak mereka main atau datang kerumahku. Aku akan lebih suka main ke rumah teman daripada mereka yang harus datang kerumahku. Ada banyak alasan yang bisa aku karang tentunya. Yang penting mereka tidak tahu dan tidak akan pernah tahu dengan kondisi keluargaku. Bagaimana nanti pandangan Bayu atau Rio jika mereka tahu aku hadalah anak seorang buruh? Membayangkannya saja aku tak mau.
    Sebagai bentuk protes pada kondisiku saat ini, aku sering menyalahkan bapak dan ibu. Aku anggap mereka tidak sungguh-sungguh mencari uang. Padahal banyak orang lain yang walaupun bukan lulusan sarjana tapi bisa punya kendaraan dan punya banyak uang. Dan sebagai bentuk pelampiasanku, aku tak pernah mendengar apa yang bapak dan ibuku katakan. Aku tak pernah mengindahkan apapun yang mereka nasihatkan. Ya iyalah, aku tidak boleh ini tidak boleh itu. Padahal kan sebagai seorang gadis remaja yang banyak disukai lawan jenisku, aku pasti ingin tampil baik, minimal tidak mempermalukan diriku sendiri.
****
    Siang itu aku pulang diantar temanku. Tentu saja aku tidak turun persis depan rumh. Aku akan pilih jalan yang memutar biar temanku tak tahu rumahku yang sebenarnya.
“ Sudah pulang, Ayu?” tanya ibu waktu aku membuka pintu rumah.
“Ya,” jawabku singkat. Aku bergegas pergi ke kamar tanpa mencium tangan ibu.
Sempat kulihat raut sedih di wajah ibu saat aku berlalu tanpa menghiraukannya. Saat itu aku berpikir takut terlambat kalau harus ber basa basi dulu dengan ibu. Biasanya kalau aku cium tangan ibu sepulang sekolah, dia akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan, bagaimana tadi sekolahnya, dengan siapa kamu pulang, sudah shalat apa belum dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menurutku garing dan tak penting.
“Kamu mau pergi lagi? Mau kemana? Sore-sore gini berangkat nanti pulangnya sama siapa? Bapak kan gak punya kendaraan,” tanya ibuku saat melihatku sudah mandi dan berganti pakaian.
“Aku mau pergi kerumah Dian bu. Dia ulang tahun nanti malam. Aku dijemput koq sama Tantri, naik mobilnya dia,” jawabku ketus.
“Apa gak bisa siang ya acaranya? Kan gak baik anak gadis keluar malam-malam,” tanya ibu.
“Ibu gimana sih. Biasanya kalau pesta ulang tahun itu ya malam. Ibu gak pernah sih datang ke pesta. Makanya ibu tuh mesti gaul sama orang-orang elit biar ketularan elitnya.,” elakku dengan ketusnya.
“Tapi nak, nanti kamu pulangnya gimana? Bapak hari ini pulangnya agak malam karena harus menyelesaikan coran rumah Bu Hasna. Kamu jangan berangkat saja ya! Perasaan ibu gak enak,” kata ibu seraya memelas.
“Bu, kalau aku gak datang ke pesta itu. Aku bakalan diejek sama teman-temanku. Ibu mau anaknya diejek? Ibu seneng kalau aku di tertawakan? Udah lah bu. Lagian aku gak minta uang koq sama ibu,” elakku lagi.
“Tapi kan nak di luar mendung sepertinya mau turun hujan. Ibu khawatir. Lagipula inikan malam Jumat. Mending kamu ngaji dan temani ibu sama adikmu dirumah,” pinta ibu dengan penuh iba.
“Sudahlah bu, pokoknya aku mau berangkat. Lagipula aku sudah janji sama Tantri kalau mau berangkat bareng,” jawabku ketus tanpa menghiraukan ucapan ibu.
*****
    Akhirnya mobil yang kutunggu datang. Aku menunggunya seperti biasa di teras rumah Pak Kosim tetangga belakang rumahku.
“Hai......ayo masuk. Sorry nih telat kakaku gak bisa nganter. Dia masih sibuk sama tugas kuliahnya. Jadinya aku bawa sendiri deh mobilnya,” sapa Tantri dari dalam mobil.
Aku bergegas masuk ke dalam mobil. “Gak apa-apa koq. Tapi beneran kamu bisa bawa mobilnya?” tanyaku dengan sedikit ragu dan takut.
“Gampang.....aku sudah beberapa kali bawa mobil sama kakakku,”jawab Tantri.
“Ok, ya udah ayo kita berangkat. Takut telat nantinya,” jawabku.
    Mobil melaju dengan lambat pada awalnya. Sepertinya Tantri masih kurang nyaman dengan setirnya pikirku saat itu. Selama perjalanan kami mengobrol banyak hal. Kadang kami tertawa, kadang bernyanyi-nyanyi kecil hingga tak sadar kalau ternyata hujan turun dan jalanan jadi licin. Pandangan jadi agak sedikit kabur karena hujan yang cukup deras. Tiba di pertigaan kami masih asyik ngobrol. Tantri cerita dia sedang naksir anak kelas sebelah. Dia minta saran dariku. Namun di tengah keasyikan kami mengobrol, tiba tiba seekor kucing melintas di tengah jalan. Tanti tidak bisa mengendalikan setirnya, dia bantingkan setirnya ke kanan dan brukkk..............
*****
    Sakit sekali.....aku merasakan sakit yang luar biasa. Sepertinya tubuhku di sayat-sayat oleh puluhan pedang tajam. Tiba-tiba aku teringat bapak, ibu dan adikku di rumah. Aku teringat larangan ibu saat aku mau berangkat tadi. Aku pun terbayang bapak.........pagi, siang, malam bapak sering lupa waktu. Kasihan bapak........aku terhenyak. Baru kali ini aku merasa kasihan sama bapak. Aku ingat bapak sering datang ke kamarku, aku pura-pura tertidur. Bapak merapikan selimutku sambil memandangi wajahku.
    Aku juga ingat ibu. Aku ingat wajah sendu dan sabarnya ibu. Aku tak pernah membantunya di rumah. Padahal ibu sangat menyayangiku. Ibu sering pura-pura kenyang kalau ada makanan, supaya aku dan adik bisa makan. Ibu sering mngelus-elus rambutku. Ibu tak pernah marah meskipun aku bersikap tidak baik padanya.
    Dan adikku, aku tak pernah main dengannya. Aku ingat dia suka menarik-narik tanganku minta diajak main. Tapi aku sering mengacuhkannya. Dia anak yang lucu. Dia selalu bilang sayang sama aku. Tapi aku terlalu sibuk dengan duniaku.
    Tiba-tiba aku kangen rumah. Aku ingin pulang. Aku ingin mencium tangan bapak dan ibuku. Aku ingin peluk bapak. Aku juga ingin ada di dekapan ibu. Aku ingin mohon maaf pada bapak dan ibu. Aku janji akan menuruti semua ucapan bapak dan ibu. Aku tidak akan malu mengakui bapakku seorang buruh bangunan. Aku juga janji tidak akan berkata kasar atupun ketus lagi sama ibu. Aku ingin peluk ibu.
Aku juga ingin memeluk adikku. Aku ingin habiskan waktuku dengannya. Aku tak akan marah-marah lagi sama Agus. Aku akan ajak dia main, aku akan jaga dia. Aku juga tidak akan rebutan makanan lagi sama adikku.
Aku janji.
    Tapi aaahhhhhh........sakit sekali. Tubuhku sepertinya di iris-iris, disayat dan ditusuk puluhan pedang. Sakiiiitttt.............
Bapak......Ibu.......aku takut..............
Tiba-tiba sesosok bayangan putih menghampiriku.
*****

Penulis: Tati Rahmawati, S. Pd. Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Cidahu
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. Dalam rangka peringatan Isro Mi'raj Nabi Muhammad SAW, pondok pesantren Al Amin yang berada di Desa Karangtawang Kec/Kab Kuningan akan kembali menyelenggarakan Festival Sholawat ke III se Kabupaten Kuningan yang akan diikuti oleh kelompok Pengajian/Majelis Ta'lim yang ada di wilayah kabupaten Kuningan.

    Selengkapnya
    http://pondokpesantrenal-amin.blogspot.co.id/2017/03/festival-sholawat-se-kabupaten-kuningan.html

    BalasHapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Sepenggal Kisah Ayu Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan