728x90 AdSpace

Update
24 September 2017

Cerpen: BALIGO, GO, GO, GO...!


Oleh: Candrika Adhiyasa* (Kang Gurat)

     Dayat sepertinya sedang melamunkan sesuatu. Sudah beberapa belas menit berlalu, ia tampak seperti seorang tuna wicara yang memiliki dunianya sendiri. Kopinya tak ia minum, aku ia campakkan, betis berbulunya dibiarkan tertiup angin padahal ia membawa sarung. Air mukanya selalu berriak. Kadang tenang, kadang kerut, kadang pula berombak. Mungkin ia masih terpikirkan perkataan Kang Semar, seorang penduduk kampung X kemarin sore tentang banyaknya baligo yang terpampang di pinggir jalan. Pemilu di Kabupaten Y kita padahal satu tahun lagi, tapi wajah-wajah manis calon pemangku tanggung jawab dunia akhirat seluruh rakyat se-Kabupaten Y sudah dengan sikap siap sempurna bertengger di dalam bingkai bambu sebagai piguranya.
  
Ada satu rumus yang saya dengar dari Kang Semar. Beliau bilang bahwa rumus yang notabene digunakan oleh para balon maupun calon pemimpin selalu berpola terbalik. “Lho, ko begitu, Kang?” tanyaku yang sama sekali tidak paham.
“Mereka selalu menggunakan rumus Jika A maka B, dan dengan polosnya kita tidak paham.”
“Memangnya apa maksudnya, Kang? Apa ada sesuatu yang begitu penting dari terbaliknya pola rumus yang mereka pakai?” tanyaku.
“Ya jelas ada, atuh.”
“Apa itu terusannya, Kang?” Dayat menyahut.
“Jika A maka B. menurut saya artinya jika saya terpilih, maka saya akan menyejahterakan rakyat.”
“Lalu maksud Akang dengan terbaliknya pola rumus yang mereka gunakan itu apa, Kang?” tanya Dayat semakin penasaran.
“Ya, seharusnya mereka menggunakan rumus yang kedua, Jika A maka B = Jika B maka A. Nah! Mereka seharusnya menggunakan Jika B maka A!”
“Jika saya menyejahterakan rakyat, maka saya akan terpilih?” jawabku.
“Éta pisan!” sahut Kang Semar.
“Dan saya begitu heran, Kang. Kenapa di baligo para calon pemimpin itu hanya tertera kelebihan-kelebihannya sendiri? Dan itupun menurut saya dari sudut pandang dirinya sendiri. Kenapa mereka tidak mencantumkan kekurangan-kekurangan mereka agar kelak dapat dipahami oleh rakyat. Misalnya dicantumkan kekurangan mereka adalah pelupa, maka rakyat akan memaklumi kalau seandainya kelak pemimpin itu lupa, dan bisa pula nanti diingatkan oleh rakyatnya. Selain pemimpin itu terbantu, ada komunikasi dua arah yang persuasif pula hingga akhirnya terjalin keterbukaan dan kedekatan. Tapi kalau dari awal saja saya sudah merasakan aroma riya dari apa yang tertera di baligo-baligo itu, lantas bagaimana saya percaya pada mereka?”
“Ya, makanya kita lihat saja mana yang mereka dahulukan. Terpilih dahulu, atau menyejahterakan rakyat terlebih dahulu.”
“Kalau sudah habis uang besar untuk kampanye, bukannya rugi dua kali kalau harus menyejahterakan rakyat juga, Kang?” kata Dayat.
“Menyejahterakan rakyat tak melulu tentang uang, Dayat. Mereka amanah, terbuka, adil, demokratis, kemudian menjadi suri tauladan yang baik juga bukannya sudah cukup menyejahterakan rakyat?”
“Iya sih, Kang.”
“Tapi alangkah baiknya, kalau bisa menyejahterakan rakyat dari himpitan ekonomi juga. Hehe.” Dayat tetap bertahan dengan argumennya.
“Ya. . Maka dari itu, mari kita berdoa agar kiranya kita dikaruniakan figur pemimpin yang mampu mengemban amanah, jujur, tidak suka berdusta, tidak suka mencuri, tidak suka memalingkan muka ketika rakyatnya sengsara, mau menerima kritik, mau menampung aspirasi, berempati pada rakyatnya, demokratis, dan mendahulukan hak dan kewajibannya kepada rakyatnya. Agar dengan begitu mampu menyejahterakan kita secara lahir maupun batin.”
“Aamiin...” ucap kami bertiga.

                                                                                                                              24 September 2017

*Penulis
Buku Puisi "DIORAMA"
Buku Puisi "Pulangkan Jasadku Sampai ke Rumah Tuaku"
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: BALIGO, GO, GO, GO...! Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan