728x90 AdSpace

Update
17 September 2017

Tanyakan Pada Cermin

Catatan Pinggir Penulis Novel Terkenal dari Kuningan, Candrika Adhiyasa

Saat ini begitu banyak orang yang merasa dirinya berpendidikan. Karenanya, orang-orang itu malah berlaku individualistis dan tidak mau ikut campur perkara ‘hal-hal jorok’ yang seringkali menjadi problematika masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Ini bukanlah suatu fenomena yang asing, melainkan suatu peristiwa lumrah menimbang lapisan masyarakat terdidik berada di lapisan kasta teratas, apalagi kalau sudah dibalut dengan berbagai lencana kekuasaan. Mereka itu ibarat Shiwa, dan orang-orang yang kurang terdidik adalah kaum-kaum yang bermukim di dasar kasta—dan, sudah barangtentu mesti menyembah mereka dengan prosesi yang berbeda. Kemiskinan, kesenjangan sosial antara miskin-kaya, juga buruh dan direktur, wabah kelaparan, dan lain sebagainya rupanya hanya berdiri sebagai objek kajian para golongan intelek sebagai penelitian, yang outputnya bukan pada implementasi dari kesimpulan solusi yang dibuat, melainkan kepada kenaikan golongan atau pangkat, atau pula ‘gengsi sosial’ sebagai cendikiawan yang produktif, kemudian mematangkan potensi pribadinya untuk menjadi individu yang mapan dalam segi ekonomi.
Saya sering dibuat bingung oleh hal-hal semacam ini. Menurut saya, pendidikan adalah medium untuk mematangkan kemampuan mengorganisir permasalahan, yang dalam konteks ini, bukan hanya pada subjektivisme dan individualisme, melainkan kepada pihak manapun yang terjangkit masalah yang relevan. Pada intinya, setiap lapisan masyarakat yanng terdidik mesti melakukan berbagai upaya untuk menolong lapisan masyarakat yang kurang terdidik dari posisi yang tersudut, mejadi mapan, bukan malah melakukan upaya untuk menolong dirinya sendiri dari posisi yang mapan menjadi lebih mapan, atau bahkan jika bisa menjadi maha mapan.

    Dayat, kawanku yang penyuka puisi, pernah membacakan puisi yang ditulisnya di pos ronda ini saat membahas permasalahan serupa. Begini puisinya:

Pendidikan adalah instrumen untuk melawan pembodohan dan kebodohan
Kalau kau hanya diam melihat kesenjangan sosial,
Penindasan rakyat lemah,
Pengkebirian demokrasi,
Kelaparan yang melanda tetangga,
Kemiskinan yang menjangkiti masyarakat,

Coba kautunjuk wajahmu sendiri di cermin
Kemudian tanyakan dengan keras
“APA BENAR KAU TERDIDIK?!!!”
Kemudian ludahi cermin yang membingkai wajahmu

Kurang lebih, begitu puisinya.
“Galak banget, Dayat.”
“Habis aku muak dengan orang sok pintar yang hanya pintar diam dan memperkaya diri!”
Dan hal ini tentunya menjadi PR bagi kita semua untuk mulai merekonstruksi pola pikir yang terselubung egosentrisme.


Candrika Adhiyasa, 17 September 2017

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tanyakan Pada Cermin Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan