728x90 AdSpace

Update
4 April 2018

Kasrengan; Angkringan Versi Sunda


Penulis : Ali Nur Alizen
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2015
Pengurus IPPMK Jadetabek

Suarakuningan.com - Saat mengunjungi kota Jogja yang, katanya dicipta Tuhan saat mesem-mesem itu, sangat rugi bila tak sempat mampir di warung kuliner sederhana seperti Angkringan. Selain karena harganya yang relatif ramah memelihara pahlawan dalam bentuk uang lembaran, tempat ini begitu mudah ditemukan sebelum burjo dan warmindo.

Angkringan bisa menjadi rupa tempat, yang diambil dari  bagimana kebiasaan konsumennya menikmati hidangan. Dimana mereka para pemburu kudapan menghabiskannya dengan cara Nangkring, yaitu:  aktivitas tubuh dalam keadaan duduk, dengan satu kaki diangkat di atas kursi atau hanya di atas alas lesehan sederhana.

Di samping menyediakan menu makanan berat seperti nasi kucing atau nasi bakar, angkringan juga biasanya memiliki pasokan kudapan yang siap dibakar dadakan, semisal gorengan, telor puyuh, bakso, tempura atau jenis lain dari sosis di pasaran.

Itu Angkringan di Jogja, dari Jawa.
Di bumi Pasundan, yang kata Pidi Baiq dicipta Tuhan saat sedang tersenyum, ada warung kuliner yang masih satu peranakan dengan angkringan. Warung kuliner ini barangkai sama-sama lahir dari rahim mata pencaharian masyarakat. Hanya di kalangan warga sunda menyebutnya dengan Kenangan, eh, sory, mblo, maksudnya Kasrengan.
 
Seperti angkringan, Kasrengan adalah tempat saat makhluk yang kata Darwin turunan monyet ini mengisi kebuncitan perut dan ngopi sembari ngobrol ringan.

Biasa juga disebut sebagai Warung Kasreng, sebab nasi disana diberi nama Nasi Kasreng. Adalah Ibu Kasrih sebagai penggagas pertama Nasi Kasreng. Pada awalnya ia menjual nasi hanya dengan gorengan dan sambel pedas untuk para sopir angkutan di pasar. Namun kemudian produk jualannya itu dilekatkan dengan namanya. Kasrih dan Gorengan disingkat Kasreng.

Berbeda dengan Angkringan yang lauk pauk dan sambalnya dibungkus secara satu-kesatuan, nasi kasreng hanya nasi biasa yang dibungkus kerucut tanpa lauk pauk. Sementara itu lauk pauk dan sambelnya terpisah dan pelanggan diberi kebebasan mencomot semaunya.

Memang lauk pauk nasi kasreng tidak semewah lauk Nasi Padang atau Warteg mbae Tegal itu. Biasanya hanya ada Lauk Inden (ikan teri/rebon), lalaban berupa toge mentah, kol atau daun singkong dan sambel merah nya yang menggoda.

Lauk pauk diatas sudah sepaket dengan nasi, hanya saja dipisah. Saat membeli nasi kasreng untuk dibungkus dan dibawa pulang, sudah barang tentu akan diberi paketan lauk diatas juga. Ibaratnya itu adalah lauk pokok.

Meskipun dengan lauk yang begitu sederhana, warung kasreng juga biasa menyediakan lauk tambahan yang lebih raos, sebut saja seperti ragam pepesan dari tahu sampe jeroan, acar gurame, ayam dan lele goreng, dan juga mendoan.

Saat kita sudah tiba di warung kasreng dan mencomot bungkus nasi kerucut nya, maka satu gelas teh hangat tawar akan segera dihadirkan dengan seulas senyum dari bapa atau ibu penjualnya. Iya senyum someah silih asah silih asuh khas Sunda itu lho.

Bila angkringan bisa ditemukan di kota-kota besar model Jogja, Jakarta, Surabaya, Semarang atau bahkan Cirebon sekalipun. Kasrengan justru sebaliknya, ia didapati di daerah pedalaman yang jauh dari riuh hura-hara kota. Di tepi jalan, di pinggir pesawahan dengan panenjoan perbukitan.

Begitulah. Coba sesekali mampir ke warung kasreng. Tempat ini cocok sekali untuk mereka yang sedang baperan seperti Pak SBY atau calon yang masih panas antara Pak Anis dengan Koh Ahok sebelum lanjut di Pilkada putaran dua, atau kalian yang masih susah melupakan kenangan mantan. Mampirlah kesini. Jangan Ragu!

Bumi Pasundan yang dimaksud bukan Bandung, bukan juga Garut atau Sukabumi. Nasi kasreng dirintis oleh Ibu Kasrih dari Bumi Pasundan yang sering dilupakan, Luragung, Kuningan.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Kasrengan; Angkringan Versi Sunda Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan