Hot News
20 Mei 2018

Pemberian Terbaik

oleh: Iwan Muhammad Sofwan
(Pengurus PC IPNU Kuningan, Departemen Dakwah & Kajian Keislaman)
 

Manusia adalah salah satu makhluk yang tercipta dengan segala kelebihannya. Bersamaan dengan itu, Allah SWT memberikan beberapa yang diperlukan oleh manusia. Pemberian itu ada yang baik dan ada yang buruk tergantung bagaimana Allah SWT menginginkannya.
Semua dari kita tentu mengharapkan pemberian-Nya yang terbaik baik untuk di dunia maupun di akhirat, setiap kali kita berdo’a pun selalu diiringi dengan do’a kebaikan yang kita kenal dengan do’a sapu jagat.

Berkenaan dengan itu sebuah hadits atsar (perkataan sahabat Nabi atau perkataan tabi’in) menjelaskan tentang beberapa macam pemberian terbaik dari Allah yang ditampilkan secara hierarkis/tersusun, sebagai berikut:

“Ketika Ahnaf bin Qais (Pemimpin Bani Tamim & Pahlawan bangsa Arab) ditanya tentang apakah pemberian Allah terhadap hamba-Nya yang paling baik? Dia menjawab: Akal gharizi. Apabila akal gharizi tidak ada? Dia menjawab: Tingkah laku yang baik. Apabila perilaku yang baik tidak ada? Dia menjawab: Teman yang setia. Apabila teman yang setia tidak ada? Dia menjawab: Hati yang sabar. Apabila hati yang sabar tidak ada? Dia menjawab: Diam. Apabila diam tidak ada? Dia menjawab: Mati.” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalany, Nashāih al-‘Ibād, Bab VI, Makalah ke-17)

Merujuk kepada apa yang disampaikan oleh sahabat Ahnaf bin Qais, maka ada tujuh macam pemberian Allah SWT yang terbaik kepada hamba-Nya, yaitu:
1.    Akal gharizi
Akal gharizi adalah akal tabi’i (bersifat pembawaan atau insting yang memberi petunjuk kepada kebenaran secara alami). Untuk menidentifikasinya kita bisa melihat pada dua fungsinya, yaitu: Pertama, menunjukkan ke jalan yang benar atau berfungsi sebagai petunjuk. Kedua, menolak kebathilan. Dalam implementasinya akal gharizi juga berpengaruh terhadap sikap manusia. Nabi SAW bersabda:
“Yang paling pokok dalam akal sesudah iman adalah mencintai sesama manusia.”

2.    Tingkah laku yang baik
Akhlak merupakan bagian penting dalam setiap aspek kehidupan, karena ianya akan menjadi penilaian utama dalam setiap interaksi dan bisa memberika kedudukan kepada pelakunya. Diketahui bersama bahwa pelopor dalam hal akhlak yang baik adalah Rasulullah SAW.
“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
Terlalu banyak jika harus menguraikan dalil dan hadits mengenai akhlak, tetapi dari hadits di atas kita bisa mengambil sebuah teladan dari apa yang telah Rasulullah contohkan.

3.    Teman yang setia
Pilihlah teman atau sahabat yang bisa membawa kita kepada kebaikan dan yang bisa memperbaiki akhlak dan iman kita, karena sahabat bisa menjadi cerminan dari kualitas keimanan kita.
“Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat.” (HR. Abu Daud)

4.    Hati yang sabar
“Dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Hati yang sabar merupakan gambaran dari seorang hamba yang beriman dan bertaqwa. Maka dalam setiap kondisi apapun hendaklah senantiasa bersabar baik bersabar dalam menerima musibah, bersabar dalam melaksanakan perintahnya dan bersabar dalam menjauhi larangannya. Karena dibalik itu semua Allah SWT akan membalasnya dengan balasan yang terbaik pula.

5.    Diam
Peribahasa mengatakan diam adalah perhiasan. Demikian itu, jika dalam bertingkah dan berucap tidak bisa berada pada posisi yang baik maka diam menjadi solusinya.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Siapa yang banyak bicaranya maka banyak pula kelirunya” (Mahfudzat)
Selain dalam rangka menghindari segala bentuk kejelekan, bahwa diam juga bisa kita jadikan sebagai sarana untuk ber-muhasabah atas apa yang telah dilakukan untuk kemudian memperbaikinya.

6.    Mati
Siapapun dari kita, siap atau tidak, kematian adalah kepastian kepastian. Ia selalu membuntuti kemanapun kita melangkah sekalipun berada dibalik benteng yang tinggi nan kokoh, (Lihat QS. An-Nisā: 78). 

Maka selalulah bersiap siaga dengan segala bentuk perbekalan yang baik. Jika kita memikirkan hakikat baik dari kematian, bahwa ketika Allah SWT mematikan kita itu artinya Dia telah merindukan kita dan menginginkan kita kembali kepada-Nya, di sisi lain Allah tidak menginginkan kita hidup di dunia dengan semakin bertambahnya dosa-dosa yang kita lakukan.

Beruntunglah kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT dengan pemberian-Nya yang terbaik. Tetapi itu semua tidak akan menjadi baik jika tidak diarahkan pada jalan kebaikan. Maka perlu kiranya kita waspada jika Allah telah memberikan pemberian-Nya yang terbaik lalu kita tidak bisa memanfaatkan pada kebaikan, tetapi justru terarah kepada apa yang tidak baik, bisa jadi itu adalah istidraj. Yang dimaksud istidraj adalah pemberian Allah SWT yang mulia tetapi malah memperdayakan dan menjerumuskan kita kepada kehinaan.

Harapan kita semua semoga kita selalu mendapat pemberian-Nya yang terbaik dan Allah SWT menjadikan kematian kita kematian yang khusnul khātimah. Āmīn.
Waallahu a’lam.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Pemberian Terbaik Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan