Iklan Google 728

8 Mei 2019

Puasa Menumbuhkan Kesadaran Omnipresent



Sebelum mengawali tulisan singkat tentang hikmah puasa, ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dijawab atau menjadi bahan renungan para pembaca yang budiman. Pertama, kenapa umat Islam mau menahan lapar dan haus seharian selama bulan puasa, padahal ketika dalam kondisi sendirian, siapapun bisa minum sebanyak-banyaknya atau makan sekenyangnya? Kedua, kenapa umat islam banyak yang melakukan korupsi?

Umat Islam, bahkan anak usia SD sekalipun, bisa menahan lapar dan haus sampai waktu magrib. Kemampuan anak itu muncul karena factor lingkungan, karena seluruh keluarganya melakukan hal yang sama, yaitu puasa sama-sama atau nampak sama-sama puasa. Atau kalaupun tidak sama-sama puasa, anak SD yang kuat menahan lapar dan haus seharian disebabkan oleh hadiah menarik yang sudah disiapkan orang tuanya. Mereka rela berpuasa karena akan dibelikan baju baru, akan dibelikan sepeda, atau yang lebih menarik akan dibelikan HP jenis terbaru yang bagus untuk selfie.

Di usia remaja berbeda cerita lagi. Anak remaja juga mampu menahan lapar dan haus sampai waktu magrib, sekalipun satu atau beberapa teman bermainnya tidak berpuasa. Kekuatan menahan tersebut muncul karena selaku umat islam yang sudah menerima kewajiban-kewajiban yang diperintah agama, dia merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk belajar taat melaksanakan perintah Allah. Kalau saja tidak berpuasa, selain lingkungan dinilai akan mengecamnya, bayangan siksa atau dosa juga akan senantiasa menghantui.

Dua alasan pertama, untuk anak usia SD, tentu tidak lagi menjadi alasan umat islam yang sudah dewasa. Orang dewasa tidak mementingkan lagi seberapa kuat lingkungan mendukung puasanya. Bagi orang dewasa juga, seberapa pun besar hadiah yang disiapkan untuknya, tidak akan memengaruhinya untuk berpuasa atau tidak. Karena tujuan puasa bukan mengharap hadiah fisik dan duniawi sebagaimana anak usia SD, melainkan mengharapkan imbalan yang lebih jauh dari itu, yaitu ampunan dan ridla Allah.

Bagi sebagian orang dewasa, kesadaran melaksanakan puasa lebih dominan seperti yang menimpa anak remaja. Puasa atau tidaknya seseorang lebih cenderung karena tanggung jawab dan sebuah konsekwensi yang mau tidak mau harus dilaksanakan karena sudah meyakini ajaran tersebut. Sebagai seorang penganut agama yang baik, ia merasa berkewajiban melaksanakan puasa sesuai ketentuan yang mengharuskannya. Apabila tidak melaksanakannya, ia takut dengan ancaman dosa besar dan siksaan yang sangat pedih. Karena sebab-sebab itulah umat islam secara suka rela manahan diri dari lapar dan haus sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Tetapi, alasan lebih menarik tentang kenapa bisa bertahan menahan haus dan lapar padahal siapapun bisa sembunyi-sembunyi minum dan makan sepuasnya kemudian berpura-pura puasa, adalah yang pernah disampaikan oleh Nurcholis Madjid. Menurutnya, sebagaimana ditulis dalam Buku Dialog Ramadhan Bersama Caknur, hal yang penting dari puasa adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran tentang akan adanya Tuhan yang Mahahadir (Omnipresent). Ibadah puasa, bagi beliau, merupakan penghayatan nyata akan makna firman QS. al-Hadid ayat 4 bahwa “Dia-lah (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Maha Melihat akan segala sesuatu yang kamu perbuat.”

Puasa, tanpa mengesampingkan unsur kewajiban bagi seorang muslim, adalah proses menumbuhkan kesadaran akan Tuhan yang Maha Hadir dan yang senantiasa mengawasi. Atas kesadaran itu maka, seorang muslim apalagi muslim yang taat, tidak bisa makan dan minum sebebasnya. Melalui puasa, umat islam kembali dilatih bagaimana Tuhan yang seringkali terlupakan ketika berdiri, duduk, berbaring, kondisi sibuk, dan kondisi lainnya, supaya kembali dan secara terus menerus dihadirkan sebagaimana keniscayaannya sebagai yang Mahahadir.

Harapan atau hikmah dari latihan tersebut sejatinya bisa diteruskan dan diaplikasikan pada bulan-bulan berikutnya, dari syawal sampai sya’ban bahkan kembali ramadhan. Sehingga tidak terjadi lagi ada umat islam yang korupsi, tidak ada lagi umat islam yang merugikan orang lain, dan tidak ada lagi perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

Kenapa korupsi atau perbuatan merugikan orang lain terus saja terjadi dan dilakukan oleh oknum umat islam, karena ketika oknum tersebut nekad melakukan korupsi, pada saat yang sama posisi Tuhan yang diyakini senantiasa hadir dan menyaksikan dirinya, hilang dari kesadarannya untuk sementara waktu. Setelah terkena OTT, baru dia kembali sadar, mengaku khilaf atau dijebak dan kemudian mungkin memohon ampun. Akhir catatan, semoga latihan menumbuhkan kesadaran Omnipresent melalui puasa kali ini bisa berhasil. Aamiin.

Cilowa, 3 Ramadhan 1440 H

Sopandi
Wartawan dan Ketua DKM al-Ihya Centre Kuningan

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Puasa Menumbuhkan Kesadaran Omnipresent Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan