728x90 AdSpace

7 Agustus 2019

Idul Adha, Berawal dari Keyakinan kemudian Pengorbanan


Oleh: Coach Ari (@leaderariship)

Trainer Muda Kuningan / Trainer Senior Al-Multazam Connector (Amco) / Mahasiswa Semester 4 Magister Manajemen Universitas Kuningan/ Pengasuh Asrama Ponpes Terpadu Al-Multazam Kuningan

Beberapa hari ke depan umat Islam akan menyambut kedatangan hari raya Idul Adha. Momentum tahunan ini tidak terlepas dari kegiatan ibadah haji di tanah suci dan penyembelihan hewan kurban. Melihat dari kegiatan idul adha, kita bisa melihat bahwa terdapat pengorbanan yang dilakukan baik dalam melaksanakan ibadah haji atau menyembelih hewan kurban.

Jika teringat masalah pengorbanan khususnya di momen idul adha, pasti tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim as yang diabadikan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Melihat terjemahan tersebut kita bisa mengetahui, bahwa Nabi Ibrahim meminta kepada Allah seorang anak, dan Alloh mengabulkannya. Tapi Ketika Isma’il berada dalam usia gulam dan ia telah sampai pada usia sa’ya, yaitu usia di mana anak tersebut sudah mampu bekerja yaitu usia tujuh tahun ke atas. Pada usia tersebut benar-benar Ibrahim sangat mencintainya dan orang tuanya merasa putranya benar-benar sudah bisa mendatangkan banyak manfaat Alloh menguji keimanan Ibrahim.






Terus, apakah kemudian nabi Ibrahim menolak? Menyalahkan Sang Pencipta? Tentunya tidak. Kenapa bisa begitu? Kenapa nabi Ibrahim rela mengorbankan anak yang selama ini didambakannya? Jawabannya adalah karena keyakinan. Ya, keyakinan yang kuat terhadap Sang Penciptalah yang membuat Nabi Ibrahim mengikuti apa yang ada dalam mimpinya (mimpi seorang Nabi adalah wahyu Illahi).

Yakin bahwa anaknya bukan miliknya tapi milik Sang Pencipta. Keyakinanlah yang membuat Ibrahim melakukan pengorbanan yang luar biasa.

Tapi ingatlah, setiap pengorbanan yang dilakukan karena Alloh akan menghasilkan kebahagiaan. Begitupun yang terjadi kepada Sang Nabi, karena sebelum penyembelihan itu terjadi Alloh menggantinya dengan domba. Itulah awal mula penyembelihan hewan kurban dilakukan karena keyakinan, pengorbanan itu bisa dilakukan.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Idul Adha, Berawal dari Keyakinan kemudian Pengorbanan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan