Iklan Google 728

22 September 2019

Keanehan Dibalik Pembenahan Makam Panjang Buyut Dingin Antakusumah Purwasari

KH. Ibrohim (ketiga dari kiri berkaos hitam), Hj. Tuti Rochayati (bertopi paling depan)
suarakuningan.com - Jarang terpublikasi, di sebrang jalan komplek pemakaman Desa Purwasari Kecamatan Garawangi terdapat areal makam tua dari batu. Hari ini, Ahad (22/9) dilakukan pembenahan areal makam di jalur Purwasari - Pakembangan dengan diawali keanehan.

Pertama, dua rombongan tokoh Desa Purwasari yakni KH. A. Ibrohim (Tokoh Agama) dan Hj. Tuti Rochayati (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan Periode 1997 - 1999) secara tak sengaja bertemu di komplek Makam Panjang dengan bermaksud akan melakukan pembenahan. Ya, tak sengaja, karena keduanya jarang bertemu dan tidak berjanjian untuk membenahi makam, tetapi sama-sama berniat membenahi makam panjang.

Walhasil, persediaan makanan yang cukup banyak dari Hj. Tuti (80) disediakan untuk rombongan KH. Ibrohim yang tengah mulai menyiapkan material untuk membenahi areal pemakaman tua tersebut.

Hj Tuti berkisah, sejak kecil dirinya kerap diajak berziarah ke makam ini oleh sang ayah (H. Zaenal) yang menurut sang ayah makam keramat tersebut salah satu sesepuh penyebar Islam di Garawangi dan biasa sang ayah menyebut "Eyang Murba", selain Mbah Padang di Godong.

Seiring waktu Hj. Tuti bertugas sebagai kepala sekolah lalu menjadi anggota DPRD, selepas pensiun beliau bermimpi berkali-kali kedatangan seorang ulama yang meminta Hj. Tuti membenahi makam.

"Dalam mimpi sosok tersebut menegaskan agar jangan sampai menimbulkan musyrik dengan adanya ziarah ke makam tersebut. wallahu 'alam. Namun akhirnya saya mengajak beberapa kerabat untuk melaksanakan pembenahan makam keramat tersebut hari ini. Tak disangka, rombongan Pa Haji Ibrohim telah memulai pembenahan hari ini, kaget dan senang saya," tuturnya.

KH. Ibrohim yang berasal dari Desa Mancahagar Kecamatan Kramatwangi Kabupaten Garut, menceritakan, masa kecilnya sekitar waktu terjadinya letusan Gunung Galunggung (1982-1983) sang ayah menggendongnya untuk menziarahi makam-makam keramat, salah satu yang paling beliau ingat adalah pesan aneh sang ayah. "engke lamun pareng aya jodona, teangan ngaran desa anu sarua jeung desa urang, ngaran kecamatanna sarupa di Kuningan, titip "tapak" karuhun didinya," ujar KH Ibrohim menirukan pesan sang ayah pada dirinya puluhan tahun silam.

Sang ayah mendorongnya mengenyam pesantren Tebu Ireng, Gontor, dan melanglang ke Mesir, dan selepas itu, beliau menyerahkan hak pemimpin pesantren nya kepada sang kakak. H. Ibrohim memilih mencari desa sesuai pesan sang ayah.

Sejak 2005, KH. Ibrohim menetap di Desa Mancagar (sekarang bermukim di Desa Citusari) Kecamatan Garawangi dan mengunjungi kembali makam-makam yang pernah disambangi bersama sang ayah. "Makam Eyang Padang di Godong alhamdulillah, terwujud dibenahi, hari ini, makam Mbah Dingin Antakusumah yang konon sebagai utusan Panglima Singa Malodra dibenahi bersama kerabat. Aneh, ternyata, bertemu bu Hj. Tuti yang ternyata bertujuan sama untuk membenahi makam hari ini, semoga barokah. Alamarhum ayah saya berpesan sangat keras, bahwa menziarahi makam dilarang meminta minta pada ahli kubur, kita hanya boleh mendoakan dan tetap menjaga akidah untuk tetap meminta hanya kepada Alloh SWT" paparnya.

Keanehan kedua, entah kebetulan atau tidak, dialami KH. Ibrohim malam jumat kliwon sebelumnya. "Wallahu 'alam bishowab, seusai yasinan kaliwonan yang rutin diadakan di rumah kediaman saya, seperti biasa saya melakukan ziarah ke sini (makam panjang). Saya bersama rekan-rekan dikejutkan suara pohon roboh dari arah dekat makam, tapi sama sekali tidak ada pohon tumbang. Dan saya memastikan dengan sorot lampu senter, tiba-tiba di atas makam terdapat benda berkilauan lalu saya pungut, ternyata uang keping seribu rupiah tahun 1996. Padahal siang hari saat membersihkan makam, tidak ada keping tersebut. Lalu saya berikan kepada salah satu rekan untuk disimpan. Entahlah, adakah hubungan apa," kisahnya.

Areal makam panjang menurut KH Ibrohim merupakan areal yang terdiri dari 4 makam dan dua diketahui yakni Buyut Dingin Antakusumah dan satu lagi Buyut Jaya Kusuma. "Waktu kecil, ada mata air sekira 20 meter arah barat makam panjang, seingat saya disitu saya dan ayah mengambil air wudhu sebelum berdoa. Tapi kini sudah tidak ada," pungkasnya.(red)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Keanehan Dibalik Pembenahan Makam Panjang Buyut Dingin Antakusumah Purwasari Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan