Iklan Google 728

22 November 2019

Menjaga Sungai, Menjaga Kehidupan

Krisis Air Bersih dan Isyarat untuk Berbenah

suarakuningan.com - Ketersediaan air bersih yang sehat dan aman untuk dikonsumsi merupakans salah satu isu strategis lingkungan saat ini. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kuningan merilis data kekeringan air bersih periode 9 agustus-4 November 2019 yang menimp 7 kecamatan, 15 desa, 29 dusun, 108 RT, 6.332 KK dan19.473 jiwa. Tujuh kecamatan itu yakni Ciwaru, Kalimanggis, Karangkancana, Cidahu, Cigandamekar dan Ciawigebang. 

Kita patut memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah menunjukan kepedulian kepada mereka yang mengalami krisis air bersih. Antusiasme dan kegembiraan warga nampak nyata terlihat saat mereka mengantri dengan jerigen, ember dan sejenisnya untuk menampung air bersih yang dikirim menggunakan mobil tengki. 

Setidaknya, mereka tidak dibiarkan sendiri berjuang menghadapi kelangkaan air bersih yang sangat diperlukan untuk berbagai keperluan. Namun demikian, kita tidak mungkin merasa puas dengan solusi jangka pendek seperti itu. Harapan kita semua, di tahun-tahun yang akan datang tak lagi terjadi masalah kelangkaan air bersih. Artinya perlu dipikirkan bersama, serta diimplemetasikan dalam tindakan konkrit upaya untuk mengantisipasi kelangkaan air di masa yang akan datang. Menjaga kelestarian sungai adalah solusi yang harus dilakukan oleh kita semua.

Wikipedia memberikan definisi sungai atau kali (Inggris: river) adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan sungai sebagai aliran air yang besar (biasanya buatan alam). 

Sungai disebut dalam beragam istilah di Indonesia yakni ci, walungan, wahangan, susukan dalam bahasa Sunda. 

Sementara itu bengawan/kali (Bahasa Jawa), krueng (Bahasa Banda Aceh), tukad (Bahasa Bali), binangan (Bahasa Batak), way/air (Bahasa Lampung), kokok (Bahasa Sasak), salo/salu (Bahasa Bugis/Makasar), dan batang banyu (Bahasa Banjar). Syarifuddin, et al (2000) mengartikan sungai sebagai bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah sebagai tempat aliran air tawar menuju ke reservoir lainnya seperti sungai lain, danau, rawa, atau laut. Bagian sungai meliputi sungai di bagian hulu, sungai di bagian tengah, dan sungai di bagian hilir. 

Dalam Wikipedia disebutkan sungai berperan penting dalam siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan obyek wisata sungai.

Pada umumnya sungai di Pulau Jawa termasuk sungai periodik yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit. Dan umumnya sungai di Pulau Jawa termasuk sungai hujan yakni sungai yang berasal dari air hujan.

Dengan demikian, secara umum sungai memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai penampung air hujan, sebagai pembangkit listrik tenaga air, sebagai pusat ekosistem, sebagai tempat rekreasi dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (memasak, mandi, mencuci pakaian, mencui perabotan, menyiram tanaman dan lainnya).

Sungai di Bumi Kajene

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui Buku Profil Perkembangan Kependudukan Kabupaten Kuningan Tahun 2018 menjelaskan sebagai berikut. Kabupaten Kuningan merupakan daerah hulu 3 (tiga) daerah aliran sungai (DAS) yang menyuplai air untuk kabupaten/kota di sekitar Kuningan. Data wilayah DAS yang bermula dari Kabupaten Kuningan adalah DAS Cijolang yang meliputi Cijolang (Cilebak, Selajambe)  dan Citaal-Cijangkelo (Ciwaru, Karangkancana, Cibeureum dan Cibingbin). 

DAS Ciberes Bangkaderes yang mencakup Ciberes Hulu (Cipicung, Kramatmulya, dan Japara), Ciberes Hilir (Ciawigebang, Kalimanggis, dan Cidahu), Bangkaderes (Jalaksana, Cigandamekar, dan Cilimus), Ciwaringin (Pasawahan, Mandirancan, dan Pancalang). Dan DAS Cisanggarung yang terdiri dari Cisanggarung Hulu (Darma, Nusaherang, Kadugedem Cigugur, Kuningan, dan Sindangagung) dan Cisanggarung Hilir (Maleber, Lebakwangi, Luragung, Cimahi, Ciniru, Hantara, dan Garawangi).

Laman Pemerintah Kabupaten Kuningan menyebutkan jumlah sungai besar dan sungai kecil di Kabupaten Kuningan mencapai 64 buah dengan panjang keseluruhan 597,7 kilometer persegi. Selanjutnya disebutkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki 7 (tujuh) Satuan Wilayah Sungai). Pertama, SWS Cisanggarung (terdiri dari 41 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 9,06 KM). Kedua SWS Ciberes (terdiri dari 2 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 13,47 KM). 

Ketiga, SWS Cijolang (terdiri dari 3 sungai/drainase) dengan panjang rata-rata 14.83 KM). Keempat, SWS Cimanis (terdiri dari 7 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 7.61 KM). Kelima, SWS Cipager (terdiri dari 3 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 4,43 KM). 

Keenam, SWS Cibacang (terdiri dari 3 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 4,67 KM). Dan ketujuh, SWS Cisamaya (terdiri dari 5 sungai/drainase dengan panjang rata-rata 5,90 KM). Air sungai banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi yang memiliki luas lahan basah sekitar 19.418 Ha.

Seperti halnya sungai di daerah lain di Pulau Jawa, sungai di Kabupaten Kuningan termasuk sungai periodik dan sungai hujan. Keberlimpahan air sangat bergantung pada faktor musim hujan. Dan memang pada umumnya, saat musim kemarau tiba; debit air cenderung berkurang.

Kesadaran Kolektif Menjaga Sungai

Sikap kita untuk menjaga kelestarian sungai sangat bergantung pada tiga hal. Pertama, aspek koginitif yakni mengetahui arti, manfaat dan cara menjaga sungai. Kedua, aspek afektif yaitu rasa mikanyaah atau menyayangi sungai karena mengetahui arti dan manfaat sungai bagi kehidupan. Dan ketiga, aspek konatif yaitu tindakan konkrit yang ditunjukan sebagai implementasi adanya pengetahuan arti dan manfaat sungai serta dukungan psikologi rasa sayang terhadap sungai. Kesaran kolektif itu harus satu kesatuan sikap. 

Tak cukup hanya tahu arti, manfaat dan cara menjaga sungai. Aspek kognitif sangat lemah dan tidak berguna, ketidak tak secuilpun rasa sayang tumbuh di dalam jiwa kita untuk menjaga kelestarian sungai. Kognitif an afektif juga masih sangat lemah, tanpa tindakan nyata untuk bertindak konkrit menjaga kelestarian sungai.

Kesadaran kolektif itu harus terus digelorakan khususnya pada kecamatan atau desa yang dilewati tiga Daerah Aliran Sungai. Unsur pemerintah desa dan kecamatan memiliki peran yang sangat strategis bagaimana menumbuhkan kesadaran kolektif warga untuk menjaga sungai. Warga perlu terus diingatkan agar memahami keberadaan sungai dan diajak secara berkelanjutan untuk menjaga sungai. Alangkah baik jika alokasi dana desa juga diprioritaskan untuk menjaga kelestarian sungai. 

Pada tataran penguatan aspek kognitif, nampaknya kita perlu mendorong unsur Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mensosialisasikan aturan mengenai larangan membuang sampah ke aliran sungai. Tokoh agama, tokoh masyarakat, berbagai institusi pendidikan berkelindan bersama mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian sungai. 

Tidak hanya itu, entitas bisnis baik sekala rumahan, umkm, maupun yang lebih besar dari itu diingatkan agar tidak membuang limbah ke aliran sungai. Namun demikian, memperbaiki pola perilaku di aliran tengah dan hilir sungai saja tidak cukup. Kita pun perlu mengingatkan agar hulu sungai juga dijaga kelestariannya.

Hentikan penebangan hutan yang tidak terkendali, tanami hutan dengan tanaman yang mampu menyerap air ketika musim penghujan tiba, tumbuhkan kearifan lokal agar setiap warga menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan budaya yang tidak terpisahkan.
    

Entitas bisnis perusahaan swasta perlu juga diajak berpartisipasi untuk menjaga kelestarian sungai. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, akan sangat baik jika prioritas penggunaan dana CSR juga diarahkan untuk memperkuat ikhtiar para pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga kelestarian sungai.

Bentuk kegiatan bisa beragam, mulai dari edukasi kelestarian sungai, penanaman pohon di sepanjang aliran DAS, dan kegiatan lainnya. Inisiatif-inisiasit positif dari para pencinta lingkungan juga perlu didukung oleh banyak pihak termasuk unsur pemerintah Kabupaten Kuningan dan jajaran sampai ke tingkat desa/kelurahan. Intinya semua pihak saling berkontribusi dengan porsinya masing-masing untuk menunjukan komitmen pelestarian sungai.

Kita semua mesti menyadari, alam yang kita nikmati hari ini sesungguhnya adalah warisan bagi anak cucu kita. Maka sebai-baik warisan, tinggalkanlah sungai yang terjaga kelestariannya, tinggalkanlah sungai yang terjaga keberlimpahan airnya, sungai yang terjaga kebersihannya. Setiap tindakan kita, sesederhana apapun akan sangat bermakna bagi pelestarian sungai. Menjaga sungai, menjaga kehidupan.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menjaga Sungai, Menjaga Kehidupan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan