728x90 AdSpace

Update
14 Februari 2020

Valentine dan Pemuda

oleh : Coach Ari  (FB. Ari M. Ridwan) ( IG; @ari_mohamad_ridwan)
(Trainer Amco / Leadership Trainer / Konsultan Permasalahan Pemuda / Trainer Muda Kuningan / Mahasiswa Semester Akhir Pasca Sarjana Uniku Prodi Magister Manajemen ) 

suarakuningan - Pada tanggal 10 Mei 2015, Republika pernah membahas terkait kisah Rasulullah saw dengan seorang pemuda yang meminta untuk berzina, Yunahar menjelaskan, berdasarkan hadits, suatu ketika Rasulullah didatangi oleh seorang pemuda yang ingin berzina, dia berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina (mendengar hal itu) orang-orang mencelanya dan berkata, 'Cukup..cukup'. Kemudian Nabi bersabda,“Suruhlah dia mendekat!”

Lalu pemuda itu pun mendekati Rasulullah hingga jaraknya dekat sekali, kemudian duduk. Setelah itu Nabi berkata kepadanya : “Apakah kamu suka jika perzinaan terjadi pada ibumu?”

Pemuda itu menjawab : “Tidak, demi Allah”. Nabi melanjutkan pertanyaan nya, “Demikian pula orang lain, mereka tidak suka jika perzinaan terjadi pada ibu-ibu mereka.”

Nabi bertanya kembali, “Apakah engkau suka jika perzinaan terjadi pada puterimu?”

Dia menjawab : “Tidak, demi Allah”. Nabi menjawab : “Demikian pula orang lain, mereka tidak suka jika perzinaan terjadi pada puteri-puteri mereka.”

Nabi bertanya kembali : “Apakah engkau suka jika perzinaan terjadi pada saudara perempuanmu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak demi Allah.” 

Nabi menjawab, “Demikian pula orang lain, tidak suka perzinaan terjadi pada saudara perempuan mereka.”
Nabi bertanya kembali, “Apakah engkau suka jika perzinaan terjadi pada saudara wanita ayahmu (bibi dari pihak ayah)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak demi Allah.” Nabi menjawab, “Demikian pula orang lain, tidak suka perzinaan terjadi pada bibi mereka.”

Nabi bertanya kembali : “Apakah engkau suka jika perzinaan terjadi pada saudara wanita ibumu (bibi dari pihak ibu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak demi Allah.” Nabi menjawab, “Demikian pula orang lain, tidak suka perzinaan terjadi pada bibi mereka.”

Kemudian Nabi meletakkan tangannya pada tubuh pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya”

Setelah doa ini, pemuda itu tidak pernah terpikirkan dengan perbuatan zina sedikitpun. Pemuda ini adalah pemuda yang jujur, pemuda yang takut bermaksiat kepada Allah. Dia tidak ingin nafsunya yang menggebu-gebu menjadikannya terjatuh dalam perzinahan. Maka dia “meminta izin” untuk berzina kepada Nabi.
Maka Nabi menasehati dan mendoakannya. Hingga hilanglah keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.

Demikianlah nasehat dan doa dapat menghilangkan kemungkaran.

Sesunggguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan zina, telah menerangkan kejinya, buruknya, dan jahatnya. Bahkan Dia melarang dari mendekatinya. "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isra : 32)

Nabi bersabda," Tidaklah pezina melakukan zina di saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman."

Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan bahwa, zina merupakan hal yang tidak baik dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak baik. Mereka membungkus ketidakbaikannya dengan kata ‘Valentine’.

Perayaan valentine pada awalnya adalah festival kaum pagan Romawi yang dirayakan sejak tahun 270 sebelum Masehi. Festival itu dikenal dengan nama Lupercalia dan dirayakan pada tanggal 15 Februari setiap tahunnya. Festival ditujukan untuk menghormati Lupa, serigala betina yang dalam legenda menyusui Romulus dan Remus, pendiri Kerajaan Romawi. Festival Lupercalia diawali dengan mengorbankan domba atau anjing, kemudian dilanjutkan dengan ritual mencabuk wanita. Wanita dicambuk dengan kulit binatang yang dilumuri darah binatang yang telah dikorbankan.

Tujuan festival Lupercalia adalah untuk meningkatkan kesuburan para wanita Romawi di tahun-tahun mendatang. Festival kaum pagan ini terus berlanjut higga era Constantine 1 (280 – 337 M), Kaisar Romawi yang menjadikan Kristen sebagai agama resmi Negara. Di akhir abad ke-5 Masehi, Paus Gelasius menganggap festival Lupercalia tidak sesuai dengan ajaran Kristen.

Dia kemudian mengganti perayaan pagan itu dengan hari untuk mengenang Saint Valentine. Dilaksanakan sehari sebelumnya, pada 14 Februari. Menurut legenda, Saint Valentine adalah pendeta yang hidup di masa pemerintahan kaisar Romawi, Claudius II (214 – 270 M). Claudius II saat itu melarang tentara untuk melarang tentara untuk menikah muda agar kuat berlama-lama di medan perang, tak berpikir untuk pulang. Valentine lantas secara diam-diam menikahkan tentara muda yang ingin menikah, tanpa sepengaetahuan pihak istana. Kaisar Claudius II geram setelah mengetahui hal itu dan memerintahkan Valentine untuk ditangkap dan dihukum mati.

Oleh gereja, Valentine diangkat sebagai Santo (orang suci). Kematiannya dikenang dan dirayakan oleh masyarakat Kristen Eropa. Di Eropa pada abad ke-14 Masehi, hari tersebut kemudian diasosiasikan dengan perayaan cinta dan romantisme. Karena ada anggapan saat itu bahwa pada setiap tanggal 14 Februari, burung-burung memulai musim kawinnya.

Baca Juga: Resolusi 2020: Making Hope Happen

Di masa penjajahan dan kolonialisme, budaya merayakan hari Valentine ini kemudian ikut tersebar ke seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2012, University of the Thai Chamber of Commerce di Thailand pernah membuat riset tentang Valentine. Hasilnya, 15,4 % anak muda berusia 16-18 tahun berencana untuk berhubungan seksual untuk pertama kalinya di hari valentine. 12,5 % yang berusia 19-22 tahun dan 16 % yang berusia 23-29 tahun juga menginginkan hal yang sama, hubungan seksual.

Peneliti Kristen Mark bahkan mengatakan bahwa hampir 85 % pria dan wanita mengatakan bahwa hubungan seksual penting saat valentine. Data dari brand kondom ternama mengatakan bahwa penjualan kondom meningkat 25 % ketika hari Valentine.

Bagaimana dengan negeri kita Indonesia? merdeka.com pernah memberitakan bahwa 2 hari jelang valentine, penjualan kondom di Samarinda meningkat. Tanggal 14 Februari 2017, okezone memberitakan penjualan kondom yang meningkat 25 % saat Valentine. Begitupun dengan MalangVoice tanggal 14 Februari 2018, yang memberitakan bahwa ketika valentine, penjualan kondom meningkat dua kali lipat.

Mengerikan memang, tapi itulah fakta yang ada. Fakta yang harus disadari oleh para pemuda agar bisa menjadi penerus dari para pemuda yang sudah mendeklarasikan sumpah pemuda, bukan menjadi sampah pemuda yang hanya membuat kerusakan di dunia.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Valentine dan Pemuda Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan