728x90 AdSpace

Update
18 Mei 2020

Belajar dari Sejarah Andalusia (Part 1)

By. Ade Zezen MZM

Membaca sejarah adalah membaca sudut pandang, setiap kita akan dapat menyimpulkan dengan cara kita masing-masing, pun sama halnya setiap kita mau mengambil sisi positif atau sisi negatif dari hasil membaca kita terhadap sejarah. Karena setiap sejarah memiliki dua sisi yang bisa kita ambil sebagai hikmah dan pembelajaran.

Saya sering berhati-hati saat menyampaikan sejarah perang Shiffin. Saya selalu berharap seseorang yang mendengarkan sejarah tentang perang Shiffin bukan hanya melihat sisi negatif lalu mengabaikan sisi positif yang sebetulnya jauh lebih banyak bisa diceritakan. Oleh karena itu ketika saya bercerita tentang perang Shiffin maka saya tutup dengan kesimpulan, bahwa perang Shiffin terjadi adalah kesalahan strategi syetan yang awalnya ingin menghancurkan Islam melalui adu domba malah menjadikan Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia.

Begitupun perang Shiffin menjadi salah satu faktor lahirnya Dinasti Abbasiyah di kemudian hari. Dinasti Abbasiyah yang dikenal dengan pesona Andalusia dan Baghdad serta sejarah menyebutnya sebagai The Golden Age of Islam.

Saya rasa umat Islam hari ini harus membaca sejarah agar dapat memahami tentang posisi dirinya, apatah lagi yang dirinya merindukan masa kejayaan dan keemasan itu hadir kembali ditangan umat Islam. Oleh karena itu izinkan saya memberikan kesimpulan dari hasil membaca saya terhadap sejarah Andalusia sebagai The Golden Age of Islam.

Tiga Faktor Kejayaan Islam masa Dinasti Abbasiyah:

1. Politik
Pembebasan (bukan ekspedisi) kota-kota besar terus dilakukan oleh umat Islam pada masa dinasti Abbasiyah, dan puncaknya adalah pada masa Harun Ar-Rasyid.

Karel Agung (742 M – 814 M) merupakan penguasa Eropa, kekuasaanya meliputi seluruh Eropa modern saat ini yaitu Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, Denmark, Austria, Italia, dan termasuk Andalusia.
Karel Agung adalah ‘raksasa’ yang ditakuti baik secara jasmani maupun administrtif.[1]

Namun kehebatan Karel Agung itu masih berada dibawah kekuasaan Harun Ar-Rasyid yang berhasil melakukan kudeta diplomatik terhadap Imperium Romawi, sehingga Karel Agung yang kala itu menduduki puncak kekuasaan Imperium Romawi menjadi raja bawahan Harun Ar-Rasyid.[2]

Dengan sebab itu Benson Borick penulis buku Kejayaan Sang Harun Ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia Pada Zaman Keemasan Islam, memberikan julukan kepada Harun Ar-Rasyid sebagai 'raja diraja' yang sesungguhnya.

Pencapain Harun Ar-Rasyid adalah bukti umat Islam melek politik. Dan kehebatan bidang politik Harun Ar-Rasyid didapatkan tidak secara instan, namun sejak remaja Harun sudah belajar politik dari sang Ayah langsung yang mengutusnya sebagai pemimpin ekspedisi militer melawan Imperium Romawi sebanyak dua kali (779 dan 781 M). Harun muda juga pernah menjabat sebagai Gubernur As-Siafah pada tahun 779 M dan menjadi Gubernur Maroko pada tahun 780 M.

Intinya, salah satu faktor kejayaan Islam pada masa dinasti Abbasiyah adalah tidak apatis terhadap dunia politik. Sebaliknya, umat Islam begitu melek terhadap bidang politik, sehingga umat Islam menjadi penguasa panggung perpolitikan dunia.

2. Ekonomi
Upaya memajukan sektor perekonomian sudah dimulai sejak Al-Mansur khalifah ke dua dinasti Abbasiyah. Yaitu dengan memindahkan ibu kota ke Baghdad, karena kota ini terletak diantara sungai Eufrat dan Tigris yang kala itu menjadi lalu lintas perekonomian dunia.

Dengan lokasi strategis itu, Baghdad menjadi kota yang ramai sekaligus menjadi pusat perdagangan di wilayah Timur. Sehingga dinasti Abbasiyah kala itu sangat diuntungkan karena mendapat pasokan devisa dalam jumlah yang besar.

Upaya memajukan sektor perekonomian tersebut terus dilanjutkan oleh penerus Al-Mansur dan puncaknya pada masa Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun.

Pada masa Harun Ar-Rasyid setidaknya ada tiga sektor yang menjadi perhatian di dalam upaya peningkatan bidang perkekonomian;
1). Pertanian, dengan membangun bendungan, kanal, dan irigasi.
2). Industri, dengan kebijakan pembangunan industri berat seperti industri gelas dan sabun di Basrah, industri tekstil di Kufah, industri sutra di Khazakhstan, industri keramik di Syiria, dan kota-kota lainnya yang disulap menjadi kota industri.
3). Perdagangan, dengan membangun rest area bagi kafilah dagang serta menciptakan armada-armada dagang plus satuan polisi air-nya.

Intinya perhatian terhadap sektor perekonomian menjadi salah satu faktor kejayaan Islam pada masa dinasti Abbasiyah. Karena perekonomian adalah hal yang sangat vital yang harus diperhatikan untuk sebuah kejayaan.

3. Ilmu Pengetahuan
Kota baghdad tidak hanya dibangun secara fisiknya, tetapi juga segi peradabannya. Pokok peradaban yang dibangun oleh Al-Mansur adalah ilmu pengetahuan. Salah satu salah satu sumbangan besar Al-Mansur dalam pembangunan kota Baghdad dari segi intelektual adalah pembangunan lembaga Baitul Hikmah.

Kemasyhuran Baitul Hikmah, selanjutnya dikembangkan oleh para penerusnya seperti Harun Ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Wathiq.[3]

Darul Hikmah berfungsi sebagai ruang riset, perpustakaan dan biro pengalihbahasaan. Perhatian para khalifah dinasti Abbasiyah terhadap ilmu pengetahuan bukan saja dengan membangun sebuah fasilitas berupa gedung, namun juga perhatian itu diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan para pendidik, para ilmuwan, dan kaum intelektual lainnya sehingga mereka fokus dalam menghasilkan karya-karya terbaiknya.

Para ilmuwan yang terkenal pada masa kejayaan Baghdad diantaranya adalah Imam Bukhari dan Muslim di bidang Ilmu Hadist, Al-Fazari dan Ibnu Haitam di bidang astronomi, matematika, dan fisika, Ar-Razi dan Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Mas’ud di bidang Geografi dan Sejarah, Al-Farabi di bidang filsafat, serta ke-empat Imam ahli fiqih; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali. Selajutnya, silahkan googling sendiri apa saja karya-karya hebat mereka semua.

Intinya, kemajuan intelektulitas umat Islam pada masa dinasti Abbasiyah itulah yang menjadikan masa tersebut mendapatkan gelar The Golden Age of Islam. Bahkan Tim Wallace-Murphy penullis buku What Islam Did for US: Understanding Islam’s Contribution to Western Civillization menyatakan, “Utang barat terhadap Islam adalah hal yang tidak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun.”

__________

  [1]Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: dari Plato sampai Ignatius Loyola (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), hlm. 219
  [2]Benson Borick, Kejayaan Sang Harun Ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia Pada Zaman Keemasan Islam (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2013), hlm. 211
  [3]Rizem Aizid, Pesona Baghdad dan Andalusia: Meneropong Masa Kejayaan Islam di Baghdad dan Andalusia (Yogyakarta: Diva Press, 2017), hlm. 25

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Belajar dari Sejarah Andalusia (Part 1) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan