728x90 AdSpace

Update
3 Mei 2020

Mahasiswa Indonesia di Tengah Covid-19 Malaysia; Antara Ikhtiar, Syukur dan Harap

oleh : Zaakiyah 
Mahasiswa IIUM Malaysia, Alumni pesantren modern Al Ikhlas Ciawilor Kuningan

Dampak pegebluk covid 19 yang penyebarannya kian waktu semakin meluas hingga kawasan Asia Tenggara membuat Pemerintah Malaysia mengambil kebijakan lockdown sejak 16 Maret 2020 lalu. Melalui siaran langsung yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Pemerintah Malaysia bahkan hingga tulisan ini dibuat (28/04) sudah memasuki masa perpanjangan lockdown yang ketiga, yaitu setelah 25 maret 2020 (I) dan 14 April 2020 (II).

Keputusan Pemerintah Malaysia menerapkan lockdown atau lebih dikenal dengan Perintah Kontrol Pergerakan Orang jelas berpengaruh pada warga negara setempat maupun bagi warga negara luar yang sedang merantau bekerja atau melakukan studi di negara serumpun melayu tersebut tak terkecuali bagi para mahasiswa IIUM asal Indonesia.

Kedudukan Kampus IIUM yang berada di Selangor, sebuah tempat perkuliahan dimana banyak mahasiswa asal Indonesia belajar di sana merupakan satu daerah yang menjadi Negara Bagian Malaysia dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi, yaitu hingga minggu awal bulan April lalu sudah mencapai total 1.020 pasien positif. 

Menyikapi perkembangan situasi Covid-19 di Malaysia yang semakin tak menentu, pihak pejabat Kampus IIUM pun semakin dituntut untuk bergerak lebih cepat dalam mengeluarkan kebijakan yang semula berorientasi pada upaya efektifitas akademik yang intensif kemudian bergeser menjadi kepentingan keselamatan hajat hidup para mahasiswa. 

Setelah kebijakan lockdown itu diumumkan, Kampus International Islamic University Malaysia (IIUM) dengan tiba-tiba menghentikan aktifitas perkuliahan fisik dan menggantinya dengan online class. Tak berlangsung lama dari itu pihak kampus IIUM pun membuat keputusan baru yakni mengubah kalender akademik pada mid-break semester ini dan mengumumkan bahwa perkuliahan akan ditangguhkan atau ditunda sampai 1 Juni 2020, serta dengan iringan woro-woro tambahan yang meniadakan kelas online serta tugas bawaan. Aturan kampus semakin diperketat, tidak ada lagi kebebasan bagi mahasiswa atau pihak manapun untuk dapat masuk atau keluar kampus. Bagi para penyedia jasa kiriman seperti goput, grabput, pandaput atau mecdi hanya diperkenankan mengantar sampai pintu gerbang saja. Para mahasiswa yang berada di dalam kampus dan tinggal di asrama pun tidak lagi diperbolehkan untuk jogging atau bahkan sekadar untuk nongkrong dan berkeliaran berjalan-jalan selain di dalam kamar.


Anomali kalender perkuliahan serta aktifitas keseharian yang dihadapi para mahasiswa maupun perantau asal Indonesia itu nyatanya menjadi kendala psikologis yang utama. Maklum saja sejumlah mahasiswa serta ratusan warga negara Indonesia yang tidak kembali ke tanah air  dan memilih untuk tetap bertahan di Malaysia tersebut saat ini sedang berada dalam situasi yang tak normal. Ketidaknormalan itu selain karena ancaman dan tekanan pageblug dari sisi mental, juga disebabkan pemenuhan keterjaminan kesehatan fisik yang mereka gantungkan atas belas dan otoritas kuasa dari negeri orang.

Aturan pembatasan itu membuat seluruh mahasiswa Indonesia mau tidak mau harus menjadi mukimin wajib dan menetap di asrama IIUM hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Sangat sulit membayangkan karena selama masa itu aktifitas benar-benar telah dibatasi. Tidak ada pergerakan bebas selain di dalam kamar. Kantin-kantin tempat sehari-hari untuk bersandar hidup dengan membeli lauk pauk maupun cemilan makanan pun tutup. Kalaupun ada kantin dan store yang diperbolehkan beroperasi saat itu pun jaraknya cukup jauh dari asrama kami tinggal, hal ini tentu saja dimaksudkan agar kontak langsung antara pihak di lokasi dan kawasan itu dapat dibatasi atau setidaknya dapat berkurang.

Kabar Baik
Di tengah kondisi dan suasana yang benar-benar menantang dari aspek mental dan fisik itu, tak dinyana selang beberapa waktu tersiar kabar dari pihak pejabat IIUM yang akan mengambil peran aktif dalam mengatasi situasi covid di Kampus. Bersama dukungan awal para donator, pihak Kampus kemudian menyediakan free food  sebanyak dua kali sehari, yaitu lunch and dinner. Bantuan ini selanjutnya bertambah menjadi 3 kali sehari dengan tambahan di pagi hari. 

Dari sisi kualitas makanan yang disediakan jauh dari kategori “alakadarnya”. Paket yang diberikan benar-benar menu lengkap, termasuk air mineral botol atau softdrink, dengan asupan buah di menu pagi hari. Para volunteer pun bermunculan untuk ikut membantu membagikan makanan pada setiap orang di asrama. Pada tiap asrama, terdapat minimal 1 orang Principal asrama tersebut yang mengawasi pembagian makanan ini. Keunikan dari sajian menu makanan yang memang terus berubah pun tak terhindarkan, khususnya ketika lidah orang Indonesia diajak untuk akrab mengenali makanan khas ala Malaysia. Syahdan, cita rasa dari bumbu masak tanah melayu pun dengan nikmatnya kian bertukar-kenal, diantara aroma rempah hingga uraian rasa di sela-sela kecap lidah. 

Dan ibarat bola salju yang terus bergulir, dukungan kesukarelaan menghadapi pandemic di negeri orang, kian berdatangan. Salah satunya dari organisasi alumni IIUM yang memberikan bantuan berupa makanan kering untuk stok di kamar yang dibagikan kepada tiap-tiap orang di seluruh asrama se-IIUM. Bingkisan berupa 1 pack mie instan (isi 6 buah), 1 pack Milo, 1 bungkus biskuit, dan 1 bungkus roti cukup menggenapi kesediaan amunisi tambahan, khususnya untuk menemani datangnya keroncongan perut di waktu malam. Dan tak ketinggalan pula melalui Department of English Language and Literature (DELL)  yang berkolaborasi dengan Secretariat of English Language and Literature (ELITS) IIUM, pun turut memberikan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sampo, pasta gigi, sanitary pads dan shaver. Bahkan puncaknya pada tanggal 8 April 2020 lalu, Pertubuhan Peladang Kebangsaan atau lebih dikenal dengan National Farmers Organization (NAFAS) juga memberikan banyak buah hasil panen mereka untuk dibagikan.

Doa Baik
Wal akhir, dengan hadirnya sekelumit catatan yang coba disampaikan ini ghalibnya adalah wujud syukur kami kepada Allah Swt dan kepada semua pihak yang telah menjadi juru kebaikan di tengah laju senyap ancaman pageblug Covid-19 selama tahun 2020 ini. Dengan ungkap syukur yang tiada batasnya ini, saya pun sembari ingin mengabarkan kepada kedua orang tua tercinta di tanah air agar senantiasa merasa tenang serta mampu menyingkirkan sisi kekhawatiran yang berlebih, karena hingga saat ini kebutuhan yang ada cukup terjamin dan teratasi. 
Pun halnya dengan pilihan untuk tetap menetap sementara hingga kelak pandemic ini usai, merupakan sikap tulus yang kami ambil semata ikhtiar bersama untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 sepreventif mungkin. 

Dan seraya mewakili para sahabat mahasiswa atau perantauan yang lain, kami kembali kepada para orang tua tercinta di tanah air, semoga senantiasa sehat dan terus terjaga dan tak henti-hentinya harapan doa dari kalian semua, semoga ujian besar ini dapat segera berlalu. 

Kami sangat bersyukur atas apa yang kami dapatkan. Ujian besar ini memang terkadang membuat sedih juga mengkhawatirkan apalagi untuk pandemic seperti saat ini. Tetapi percayalah, dimanapun letaknya ujian itu berada, dan siapapun yang tertimpa, tidak membuat kami putus asa akan rahmat Allah SWT. Karena ujian yang terkadang kita anggap musibah itu hanya akan memunculkan kebaikan dan membuat kami percaya bahwa orang baik itu masih ada dan memang selalu ada, saya merasakannya sendiri.***

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Mahasiswa Indonesia di Tengah Covid-19 Malaysia; Antara Ikhtiar, Syukur dan Harap Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan