728x90 AdSpace

Update
5 Agustus 2020

Artikel Kontemplatif

Banyak diantara kita yang bersikap berlebihan ketika menghormati pemangku jabatan, tapi kemudian bisa menjadi sangat pemarah mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat kecil. Padahal barangkali kesewenang-wenangan mereka itu dihasilkan dari sikap kita saat ini. Sikap kita yang berlebihan dalam memperlakukan mereka hingga mereka lupa tugas dan tujuan mereka bekerja.

Kita kerapkali menuding generasi muda yang nakal dengan sekenanya, menyalahkan pesatnya arus globalisasi, teknologi yang 'terlalu' canggih, kurikulum yang bobrok dan kualitas guru yang turun kelas. 

Akan selalu ada banyak hal yang dapat menjadi kambing hitam. Ketidakmampuan KPI dalam menyensor tayangan, menyalahkan pemerintah karena regulasi yang longgar dalam mengatur IT, menyalahkan menteri pendidikan yang gonta-ganti kurikulum, menyalahkan guru yang belum kompeten.

Pernah tidak dalam satu kesempatan saja menggunakan waktu untuk berpikir sejenak? Bahwa perubahan yang terjadi adalah dampak dari perbuatan diri kita sendiri, yang belum sepenuhnya menyadari terhadap keberadaan diri sebagai hamba yang tidak berdaya tanpa-Nya & belum sepenuhnya mempercayai kekuasaan Tuhan atas diri kita.

Yang korupsi, berperilaku amoral dan menyalahgunakan jabatan penyebabnya hanya satu, karena mereka tidak menaati ajaran Agama.

Anehnya, kita bersepakat bahwa 'semua agama mengajarkan kebaikan' atau 'semua agama baik' tetapi dengan tidak menjalankan ajaran agama yang kita anut dengan taat. Bagaimana mungkin kita dapat mengklaim semua agama itu baik ketika agama yang kita anut saja aturannya sering kita lalaikan?

Banyak yang bersepakat bahwa harta, tahta dan wanita adalah ujian. Tetapi seringkali tidak mau disalahkan atas sikap hormat kita yang mendewakan orang yang memiliki jabatan dan orang yang memiliki harta lebih banyak dari yang kita miliki. Enggan dianggap ikut andil telah bersikap berlebihan mengagung-agungkan harta dan jabatan. Padahal tanpa kita sadari sikap seperti itulah yang telah menciptakan tatanan hidup yang hedonis. Menciptakan manusia-manusia yang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan harta dan tahta agar tidak diremehkan oleh lingkungan. 

Tidak selayaknya manusia dewasa seperti kita mewariskan kehidupan yang buruk untuk generasi selanjutnya, menghapuskan sendi-sendi agama dengan dalih tidak ada sangkutpautnya. Padahal jika kaki terbentur ujung meja saja reflek melenguh, Ya Allah! untuk mengurangi rasa sakit, ketika bahkan Allah Ta'ala sudah memberikan kemampuan kepada manusia agar dapat menjaga diri. Hal terkecil saja masih meminta pertolongan Tuhan. Mengapa hal-hal besar seperti urusan Negara harus berlepas diri dari Agama?

Calendula.

Shafira.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Artikel Kontemplatif Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan