728x90 AdSpace

Update
23 Januari 2021

“ Break “

“ Break,“ katamu tiba-tiba

“ Jika itu solusi terbaik,“ jawabku dengan perasaan berkecamuk

Lagi-lagi perbincangan itu berakhir pada titik kulminasi terendah. Atau akupun begitu. Seperti musim hujan yang dirindukan saat kemarau berkepanjangan, namun ketika hujan turun terus menerus dingin dan basahnya membekukan setiap hati. Usahlah disesali jika bias pelangi tak bisa dinikmati karena aku datang terlambat, senja setelah hujan segera berakhir. Dan busana malam segera dikenakan berhias bintang-bintang sebagai mahkota.

Dan waktu menguji rasa kita, memulai hitungan, jam pasir begerak perlahan, sangat perlahan biar lama rasanya. Agar kau tahu camarpun enggan terbang rendah untuk menikmati gelombang yang menawarkan bias birunya lautan. Seluas hati yang akan menyimpanmu dalam bingkai terbuat dari bait-bait puisi para penyair pematri hati, dan terus memahat namamu seindah lukisan pualam di lorong-lorong gua berstalaknit cinta tak berkasta. Cinta selalu saja cinta, tiada kata yang tak bermakna, bahkan huruf menjadi hidup karena cinta. 

“Kapan dimulai? “ tanyamu antara bertanya dan menunggu mungkin aku menolak usulnya.

“Sekarang.” Menekan suara setenang mungkin agar kau tak tahu ada yang luruh disudut hati. Seiring bening di ujung netra mulai mengkristal dan menitik. 

“ Ok” Kau akhiri pesan whatsappmu

Dan aku dengan anggun tersenyum, angkuh memalingkan wajah pada sudut luka karena sayap-sayap yang menerbangkannya pada impian terindah patah sebelah. Aku kembali terhempas disudut diantara dawai-dawai kecapi yang putus oleh petikan sang pengelana. Perlahan mencoba berdiri dengan perih yang baru dimulai. Andai kau tahu hidup tanpamu ibarat rangkaian mawar yang dijalin indah menjadi sebuket mawar merah merona namun tak pernah sampai di genggaman  pengantin wanita yang berdiri anggun di altar pernikahan dua musim.

Senja hari ini lebih pekat, tanpa jingga diujung matahari. Awan hitam merangsak menggelasak merusak sebilah keyakinan akan cinta. Aku masih tergugu, duduk dipojokan dengan jari-jemari terus menari pada barisan tuts empat dimensi. Dan lamat penuh rayu lagu syahdu coba menghibur hati yang pilu. Lihatlah, lalu lalang kendaraan didepanku bagai barisan binatang melata, berkejaran satu mendahului yang lain. Mencoba menjadi yang pertama mengabarkan tentang pandemi yang tak jua menepi. 

Baiklah aku ikuti aliran rasa ini kemana bermuaranya. Seperti yang kau katakan, ini waktunya kita menguji seberapa kokoh kastil itu, kastil dimana mantra-mantra asmara mengurung kita. Menjadi bak bocah-bocah desa yang asik menemukan layang-layang yang tersangkut didahan yang rantingnya bahkan tak lagi berdaun. Mari memulai. 

“ Kita break !!!”

==== @@@ ====

“Udah pulang?” Pertanyaan apa ini, setelah kau ajukan “ Break” 

“ Belum.” Membalas pesan singkatnya

Setengah jam kemudian

“Udah dapat tumpangan.” Tanyamu lagi, 45 menit  dari “Break”

“Belum.” Dengan kristal pertama yang mulai jatuh. 

“Apa maumu sebenarnya?”  hanya ingin memastikan seberapa besar aku membutuhkanmu ?” atau seperti apa aku tanpamu ?” 

“Tunggu, aku antar pulang, siapkan saja segelas kopi tanpa gula.”  Jawabmu di menit ke 50 kata “ Break”. 

“ Hemmmmmmm.”


Oleh: Vera Verawati (Penggiat Literasi Kuningan)


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: “ Break “ Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan