728x90 AdSpace

Update
10 Mei 2021

Jangan Gugur Menjadi Tamu Allah

Spirit Energi Menuju Finishing Ramadhan

Oleh: UGIN LUGINA (Ketua DMI Kuningan)

“Celakalah orang yang menjumpai bulan ramadhan, hingga selesai bulan ini, dia belum diampuni dosanya”. (Hadis shahih riwayat Turmudzi).


Ramadhan sudah di minggu akhir, mendekati penghujung bulan yang tentunya bakal pasti berlalu. Semoga kita sekalian termasuk yang mendapat undangan Allah SWT. dengan waktu yang bebera hari lagi, tidak gugur menjadi tamu Allah SWT.

Peta perjuangan tamu Allah yang diprogram selama satu bulan ini, membutuhkan ketaatan dan aktifitas amal yang stabil, istiqomah. Sebab kalau hanya sebatas menjalani ibadah ramadhan seacara “standar”saja, seperti : puasa menahan lapar, haus dengan kegiatan tarawih dan tadarus, yang umumnya orang melakukannya, jangan sampai kita termasuk pada yang dikhawatirkan Rasulullah SAW., yakni menjalani puasa dengan sia-sia. Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW.bersabda: ”Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanyatersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR. At-Tabroni)

Begitu pula, bila tidak ada ikhtiar mengoptimalkan amal ibadah, atau malah sebaliknya banyak berkembang perilaku yang merusak nilai-nilai puasa, waspadalah…!!! Nabi mengabarkan : “Celakalah orang yang menjumpai bulan ramadhan, hingga selesai bulan ini, dia belum diampuni dosanya”. (Hadis shahih riwayat Turmudzi).

Waspada untuk tidak gugur dan tidak mendapat ampunan dosa itu, perlu dibangun pengawalan total, bahwa dalam puasa itu ada BATAL, ada RUSAK. Yang batal adalah segala bentuk makanan minuman dan pelanggaran yang sebagaimana telah diatur dalam piqih puasa. Dan prakteknya insya Allah banyak yang mampu melintasi puasa dengan tidak batal, termasuk anak-anak kecil pada mampu sampai maghrib dan tidak batal. Namun yang RUSAK dalam puasa sebagaimana bentuk penyakit hati, tidak sehat berpikir dan perilaku mungkarat yang melanggar kaidah-kaidah ajaran Islam. Seperti puasa tetapi tidak Shalat Shubuh, puasa tapi bergibah, berselisih. Itu yang bisa jadi puasanya tidak batal, tetapi puasanya rusak. Dan yang mebuat puasa rusak itu tidak dalam lintas waktu terbit fajar sampai maghrib, tetapi total dalam waktu 24 jam, serta kelanjutan waktu setelah Bulan Ramadhan juga.

Kewaspadaan lainnya juga adalah bisa gugur menjadi tamu Allah, bila satu minggu dalam ramadhan kencang penuh semangat, minggu berikutnya kendor….baik dalam tarawih, tadarus, maupun amaliah sosial. Karena itu di posisi iman kita yazidu wayangqush (pasang surut), maka ada spirit energi tambahan yang potensial dapat mendongkrak semangat kita, seperti adanya malam laelatul qadar sebagai “malam anugrah”yang setara dengan kebaikan 1000 bulan (QS. Al Qadar) dengan lintas waktunya 10 hari terakhir atau malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, itu kesempatan emas untuk diperoleh dengan program I’tikaf berdiam di masjid dengan aktifitas Shalat Berjamaah, Tarawih, Tadarus, Berdzikir dan kegiatan muhasabah.

Begitu pula semangat amaliah sosialnya, Allah programkan zakat fitrah dengan bahan makanan pokok/beras 2,5 kg atau uang Rp. 30.000 per-jiwa, ini penting bagi yang mampu untuk dikembangkan melalui semangat berbagi dengan aneka kepedulian padakaum dhuafa (kaum lemah) dan anak yatim piatu. Dengan demikian, spirit energi menuju finishing ibadah Ramadhan, di samping menunaikan dan mentaati amaliyah ramadhan yang bersifat standar, seperti puasa menahan lapar, haus berlanjut dengan mengendalikan hawa nafsu dan mengerem aneka perilaku salah dan dosa.

Dengan kegiatan Shalat fardlu berlanjut shalat sunnah rawatib, dari tarawih berlanjut tahajud, dari khatam Al Quran berlanjut memahami al quran, dari menunaikan zakat fitrah 2,5 kg beras atau uang Rp. 30.000 berlanjut kegiatan peduli sosial pada kaum dhuafadan / fakir miskin dan anak yatim piatu.

Ayo, jangan gugur menjadi tamu Allah dengan gagal Ramadhan, seperti berikut ini:

1. Mengulur shalat fardhu, bahkan diabaikan.

2. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

3. Malas membaca Al-Qur’an.

4. Mudah mengumbar amarah.

5. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

6. Memutuskan tali silaturrahim.

7. Menyia-nyiakan waktu.

8. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

9. Khianat terhadap amanah.

10. Rendah motivasi hidup berjama’ah.

11. Tidak mencintai kaum dhuafa.

12. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

13. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Menuju sukses, mencapai tujuan puasa ”la-alaukum tattaquun” (menjadi manusia takwa / manusia mulia), menurut para ulama, terpetakan dalam 10 indikator perilaku berikut ini;

Pertama, menjaga perut agar hanya mengonsumsi yang halal, baik, dan bergizi. Kedua, memelihara lisan agar tidak berdusta, dan menggunjing (gosip). Ketiga, menjaga mata agar tidak digunakan melihat dunia dengan pandangan rakus, foya-foya, dan hedonistik. Keempat, menjaga tangan agar tidak melakukan yang haram. Kelima, menahan kedua kaki untuk tidak melangkah menuju kemaksiatan. Keenam, menjaga dan menutrisi hati dengan tazkiyatun nafsi (penyucian diri). Ketujuh, menjaga pikiran untuk senantiasa berpikir jernih dan positif. Kedelapan, memaksimalkan ketaatan, terutama pada sepuluh hari terakhir melalui banyak beristighfar, tadarus Alquran, iktikaf, serta penyucian harta dengan berzakat dan bersedekah. Kesembilan, menjaga pola hidup sehat dan bersih melalui keteraturan makan dan disiplin waktu dengan aktifitas ibadah Ramadhan. Kesepuluh, meningkatkan ukhuwah dan solidaritas sosial. Semoga....!!!

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Jangan Gugur Menjadi Tamu Allah Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan