Hot News
4 Maret 2022

Cerpen: Sirnaraga



( Ki Pandita)


“Semua akan dilupakan. Sirna ilang kersaning bumi.”

***

Kepura-puraan diperlukan ketika, orang disekelilingmu senang bersandiwara. Menahan tangis, menahan tawa dan menahan marah. Kejujuran hanya bisa diungkapkan kepada orang yang tepat untuk menerimanya. Sebab, ia yang menangis belum tentu bersedih dan menyesali diri. Ia yang tertawa, belum tentu bahagia. Dan ia yang terlihat marah, bukan berarti membencimu. Tidak ada jawaban yang pasti. Tapi semua akan segera dilupakan. Seperti batu-batu nisan yang berlumut pada sebuah kematian.

Suara hentakan sepatu delman semakin melambat di gerbang Sirnaraga. Sayup terdengar lagu Als de Orchideen Bloeien: “bunga anggrek mulai timbul, aku ingat padamu...” Payung hitam menutupi bayangan keriput di wajah. Perempuan tua berjalan menahan batuk. Rambutnya hitam perak terikat gelung, bunga kenanga terselip memancarkan aroma lampau. Wajahnya bukan wajah pribumi. Berkulit putih dan berwarna abu. Bajunya hitam berenda dengan kain kebaya. Diletakannya seikat bunga sedap malam di bebatuan yang terserak pada pusara. Setelah setengah jam, ia lalu pergi menaiki delman.

“Mengapa ia tidak menagis?” Seorang yang duduk berjongkok di samping pohon asoka ternyata memperhatikan sedari mula. 

“Mungkin ia tidak sedih.”

“Dari wajahnya jelas, ia sedang sedih.”

“Mungkin ditahannya kesedihan itu.”

“Padahal, kalau mau menangis, menangis saja. tidak usah ditahan-tahan.”

“Terserah dia. Mau menangis, ketawa atau diam. Kita tidak boleh usil dengan urusan orang lain.”

“Kita ambil saja bunga itu. Orang mati tidak butuh bunga.”

“Husss, dicekek jurig siah!”

Di musim tertentu, orang ramai berkunjung menabur bunga, membersihkan rumput teki yang tumbuh disela kerikil dan tanah makam. Sesekali terdengar celoteh burung cangkurileng yang menuturkan kisah hidup mereka yang sudah tiada. Ada pula bisik dedaunan yang sulit dipercaya tetapi seru untuk didengarkan. Tentang rahasia-rahasia, yang bahkan keluarganya pun belum tentu tahu. 

Di hari biasa, semua menjadi kembali biasa. Makam menjadi sepi. Mereka yang lama terbaring, sudah biasa dilupakan. Hanya ada pohon kemboja yang daunnya berguguran. Bunganya jatuh layu dan kering.  Delman dengan kuda hitam berhenti, mampir kembali di Sirnaraga. 

Jam tangan Wings warna gold tanpa tali, dikepal tangan kiri dan sesekali diperhatikan lekat. Ditaruhnya selalu di lemari jati, di bawah tumpukan baju sela paling atas. 

Itu kenang-kenangan satu-satunya yang tersisa. Diletakannya seikat Sedap malam di situ. Di pusara itu.

“Perempuan tua itu menangis?”

“Tidak. Dia hanya sesenggukan.”

“Berarti dia sedang sedih.”

“Bukan! Dia sedang menyesal.”

“Haaah.... Menyesal kenapa?”

“Eeeeee, kamu tidak tahu?”

“Tahu apa?”

“Perempuan tua itu, waktu masih muda....Galak.”

“Jadi dia menyesal setelah ditinggal mati? Ngawur ah.”

“Katanya begitu. Kalau sering datang membawa bunga ke makam, itu pertanda merasa bersalah. Waktu hidup tidak pernah diberi bunga, eeeeh sudah mati rajin kasih bunga.”

“Husss, gandeng siah, cicing!”

Penyesalan baru terasa ketika yang dicintai sudah tiada. Hanya saja, berapa lama? Setelah musim berganti, semua akan dilupakan. Batu-batu nisan kembali sunyi berlumut dan penuh rumput. Mulanya seminggu tiga kali, melongok. Seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali dan akhirnya terlupakan.

“Siapa nama perempuan tua itu?”

“Tidak tahu.”

“Eeeee ari maneh.”

“Nanti kamu tanya.”

“Kamu saja yang nanya.”

“Deuuuh.” Sambil menghela nafas.

Terlihat perempuan tua itu bergumam seperti mengucapkan sesuatu. Entah doa, entah mungkin ungkapan hati. Suaranya hanya dirinya sendiri yang dengar. Setelah selesai menghapus kepingan air mata yang membasahi sebagian dagu dan pipinya, ia bergegas pergi. Delman dengan kuda hitam berlari pelan menuju arah Kidul jembatan Cideres. “Teng nong, teng nong, teng nong. Toprak, toprak, toprak......” Semakin jauh, semakin samar bunyinya. Di teras rumah J. Verhoeven, sisi sungai, perempuan tua itu berdiri melambaikan tangan. Lalu menghilang. Sesekali ia akan muncul, tetapi tidak semua orang dapat melihatnya. Karena hatinya tetap ada di sana dan jiwanya tidak pernah pergi...

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Sirnaraga Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan