Nyanyian Piring Tanpa Isi



Vera Verawati

               

                Jangan pukul tepinya, jika itu hanya memberi pertanda atas kerontangnya nyawa dipertaruhkan. Telah jauh perjalanan, langkah tak terhitung, limbung dalam lelah mencari sandaran, sedang telah kupenuhi setiap panggilan-Mu, tak pernah jeda menunda.

 

                Jika masih tak sebijipun tiba, biar saja langkah terus melaju. Tiada keluh meski peluh luruh membasuh tubuh. Jangan hirau terik, sang raja siang garang menantang. Coba patahkan niat atas juang nan ikhlas untuk keluarga tercinta dan piring tanpa isi kian meronta.

 

                Nyanyikan saja lagu balada, yang ditemukan di sela-sela kaki penumpang bus, dan tangan-tangan cepat para pencopet. Butakan saja meski terlihat, jangan hirau atau berujung nyawa terjerang kacau tertusuk sebilah pisau.

 

                Jangan gaduh meski tangan dan telapak kaki melepuh, karena segenap rindu tak cukup lepas oleh sedekap peluk, sedang cacing-cacing ini menjerit, mencakar dinding-dinding usus. Menimbulkan perih teramat, hingga cintapun tak mampu redam dengan khidmatnya.

 

                Ketika perjalanan memberi pandangan, bertentangan dengan nurani terdalam, hilang rasa kemanusiaan, demi seharga keselamatan. Teguhkan saja tekad, pada kerja keras dan doa ikhlas, lalu berharap pinggan segera terisi oleh asa dan harapan yang mengenyangkan.

 

Kuningan, 020822

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nyanyian Piring Tanpa Isi"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.