Ilusi Keamanan Dalam Sistem Kapitalis



oleh Heni


Rasulullah saw. bersabda: "Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak" (HR.Nasai 3987, Tumudzi 1455). 

Nyawa seseorang saat ini ibarat mainan yang bisa dihilangkan ketika tidak menyukainya. Namun, mengapa saat ini nyawa seseorang begitu murah? Banyak kasus pembunuhan dimana-mana hampir setiap hari. Sungguh mengiris hati. 

Tragedi yang sangat tragis dan memilukan, seorang anak perempuan berinisial PS (12 tahun) tewas setelah ditusuk sepulang mengaji oleh pria tak dikenal pada Rabu (20/10/2022). PS ditusuk di lokasi yang tak jauh dari rumahnya di jalan Mukodar, Rt 04/07, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan,Kota Cimahi Jawa Barat. (Kompas, com, 21/10/2022). 

Fakta pembunuhan diatas baru secuil dari banyaknya kasus yang tak terungkap. Sehingga, tak sedikit masyarakat yang merasa khawatir dengan keselamatan diri dan keluarganya. Harapannya, pihak penegak hukum berhasil mengungkap dan menyelesaikan kejadian kriminal ini. Sebab, rasa aman merupakan hal penting bagi kita. 

Banyaknya kasus pembunuhan dilatarbelakangi berbagi motif, diantaranya rasa sakit hati, menghilangkan jejak perampok, hingga alasan politis. Motif ini sesungguhnya menunjukkan kerusakan secara pemikiran, peraturan, dan perasaan. Jika, dirangkum ada beberapa faktor lain yang mendukung pembunuhan begitu tak terkendali. Pertama, faktor individu. Yaitu masih memiliki sikap dan mental yang sudah rusak. Misalnya tidak takut berdosa, meremehkan nyawa manusia, atau kehilangan kontrol diri. 

Kedua, faktor kondisi keluarga atau masyarakat. Misalnya ada sengketa rumah tangga, terlilit hutang, gagal usaha. Inipun bisa mendorong orang untuk membunuh. Ketiga, faktor lemahnya penegakan hukum. Misalnya hukum yang bisa direkayasa dan hukuman yang tidak menimbulkan efek jera. 

Kondisi tersebut jika dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan masyarakat semakin rusak. Penghilangan nyawa yang begitu mudah menunjukkan masyarakat dalam titik nadir. Seolah hidup dalam rimba belantara, tidak ada rasa aman dan selalu ketar-ketir. Inilah dampak penerapan sistem sekularisme, yang bebas bertindak sesuka hati asalkan terpuaskan keinginannya. Masya allah. 

Hanya saja, apa yang terjadi dalam sistem saat ini, tentu berbeda dengan sistem Islam. Dalam pandangan Islam setiap permasalahan tidak akan berlarut-larut dan tidak akan selalu berulang. Termasuk permasalahan kriminalitas yang menjadikan masyarakat was-was. Hukum dalam sistem Islam memiliki dua fungsi sekaligus yakni mencegah dan menebus. 

Mencegah dimaksudkan agar kejahatan yang sama tidak terulang atau ditiru oleh masyarakat lainnya. Sementara menebus dimaksudkan bahwa sanksi di akhirat sudah terhapus. Sanksi dalam hukum Islam sangatlah jelas dan memberi kepastian hukum bagi para pembunuh yang melakukan dengan sengaja maka tidak ada hukuman lain kecuali dengan dibunuh. 

Namun, akan berbeda jika wali korban memaafkan, hukuman bisa batal. Sebagai gantinya pembunuh harus membayar diyat, yang jika dihitung ini berupa seratus ekor unta, empat puluh diantaranya harus bunting (sedang hamil).  Seandainya dikonversikan ke mata uang rupiah pasti pelaku pembunuhan sudah harus membayar diyat milyaran rupiah. Dengan sanksi yang demikian berat, pasti orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan pembunuhan.

Maka, keamanan adalah kebutuhan dan hak yang harus didapatkan oleh masyarakat. Tujuannya agar bisa melangsungkan kehidupannya dengan tenang, dan hanya Islamlah yang bisa menjamin semua ini. 

Wallahu'alam bishshawab


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ilusi Keamanan Dalam Sistem Kapitalis"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.