Bekal



Vera Verawati


Ada kepanikan terbias disembunyikan, kedua matanya yang sendu selalu mampu menyimpan setiap keadaan. Diana sibuk di dapur, setiap pagi tubuhnya bermandi peluh, bergelut dengan pekerjaan rumah yang hampir seluruhnya dikerjakan sendiri. Danis remaja cantik putrinya Diana itu ikut membantu, menyiapkan bekal untuk dibawanya ke sekolah.


Tubuh lemah Omah Lia masih terbayang jelas, ibu sang bos tempatnya bekerja, yang sudah seminggu ini selalu ditemani tidurnya oleh Diana, ada iba dihatinya ketika meninggalkan omah Lia yang sedang sakit sendirian di rumah besarnya. Dilema  Diana kian berat, sedang Danis juga terpaksa harus ditinggal setiap malamnya, demi menemani Omah Lia. Entah mengapa asisten rumah tangganya yang baru satu bulan bekerja di omah Lia sudah berhenti.


“Bu, bekal untuk ibu sudah Danis siapkan, yah. Danis sudah masukan ke ransel ibu.”


Cekatan dan selalu terdengar riang, Danis tak pernah mengeluh apapun makanan yang dimasak ibunya, sembari pamit pergi sekolah. Danis masih sempat mencium pipi ibunya, dan berlalu diboncengan abah, yang setia mengantarnya setiap pagi ke Sekolah.


            Langkah Diana selalu pasti, meski hatinya sedang direjam berbagai kesedihan. Tapi senyum selalu terpantul dari bibirnya. Sengaja tak sampai ke toko diantar abah, sisa perjalanan yang berjarak 2 km itu selalu digunakan dengan jalan kaki.


“Olah raga, bah. Malas suka macet di depan.”


            Berbaur diantara para pejalan kaki lain yang kebanyakan anak sekolah. Tiba-tiba dilihatnya seorang lelaki seumuran dirinya dengan pakaian lusuh. Menyandang plastic hitam, entah berisi apa. Aroma tak sedap menguar dari tubuhnya.


 Sejenak Diana berhenti, dibukanya ransel dan diambilnya bekal yang disiapkan Danis, tanpa keraguan sedikitpun Diana memberikan bekalnya, lelaki itu menatapnya heran.


            Diana tersenyum dan mengangguk. Dilihatnya lelaki itu membalas mengangguk, tanpa ragu Diana melanjutkan perjalanan menuju tempatnya bekerja. Rasa syukur terucap dilirih bibirnya, hatinya begitu tenang. Inilah alasan mengapa Diana selalu berjalan disetengah sisa perjalanannya. 


Kuningan, 101122

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bekal"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.