Hot News
25 September 2026

Api Unggun "Pangriksa Jiwa" Warnai Summer Camp MI Se Kwarran Ciawigebang



suarakuningan (SK)-
Suasana malam Summer Camp Perkemahan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kwarran Ciawigebang terasa berbeda pada Kamis, 24 September 2026. Bertempat di Bumi Perkemahan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Desa Ciawilor, Kecamatan Ciawigebang, rangkaian api unggun tidak hanya diisi dengan penyalaan api dan kemeriahan perkemahan, tetapi juga dengan pentas teater “Pangriksa Jiwa” karya AR Affandi.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kuningan, Kak Rana Suparman, S.Sos., para Andalan Kwarran Ciawigebang, serta keluarga besar Pondok Pesantren Al Ikhlas yang diwakili oleh Drs. H. Ahim Absori selaku founder bersama KH. Apandi, BA dan Drs. M. Tata Taufik. Hadir pula para ustadz dan ustadzah serta masyarakat umum.
Pementasan Pangriksa Jiwa menjadi bagian penting dari prosesi api unggun malam itu. Naskah yang sebelumnya lahir sebagai tulisan kemudian dibawa keluar dari kertas, masuk ke ruang latihan, dimainkan oleh para pembina dan peserta didik, dan dipertemukan dengan suasana perkemahan serta penonton.
Sebelumnya, Pangriksa Jiwa telah dipentaskan dalam Gebyar Pramuka Kuningan, yang disaksikan Ketua Kwarcab Kuningan beserta jajaran pengurus dan para Pembina Pramuka se-Kabupaten Kuningan. Pementasan kemudian berlanjut dalam Latihan Gabungan Kwarran Ciawigebang, Perkemahan SMPN 2 Ciawigebang, LEKGER Camp, Summer Camp, hingga Perkemahan SD Sukadana.
Perjalanan tersebut bukan dimaksudkan sebagai ukuran bahwa Prosesi Api Unggun Pangriksa Jiwa otomatis menjadi bentuk yang paling benar dalam kegiatan kepramukaan. Justru dari berbagai pementasan itu terlihat adanya ruang perjumpaan antara teater, sejarah lokal, dan pendidikan kepramukaan.
Gagasan Pangriksa Jiwa berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana jika sejarah desa tidak hanya diceritakan, tetapi dimainkan? Pertanyaan itu muncul dari pengalaman melihat perkembangan kemasan kegiatan api unggun di lingkungan Kwarran Ciawigebang. Dari bentuk yang lebih protokoler, kemudian muncul ruang bagi unsur adat dan budaya lokal.
Karena Pramuka hidup di tengah masyarakat yang memiliki sejarah, adat, bahasa, kesenian, tokoh, serta ingatan kolektif. Maka ketika semua unsur tersebut dapat menjadi bagian dari proses pendidikan, maka sejarah desa pun memiliki kemungkinan untuk hadir sebagai media pembelajaran.
Di sinilah Pangriksa Jiwa mencoba mengambil posisi. Teater digunakan bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai cara untuk menghadirkan sejarah menjadi pengalaman. Anak-anak tidak hanya mendengar cerita tentang masa lalu, tetapi ikut memerankannya.
Mereka belajar menghafal dialog, memahami karakter, bekerja sama, bertanggung jawab terhadap kelompok, berani tampil di depan orang lain, sekaligus mengenal sejarah yang berada di lingkungan mereka sendiri. Dengan demikian, api unggun tidak hanya menjadi ruang untuk melihat api menyala, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat gagasan, ingatan, dan nilai-nilai kehidupan ikut menyala.
Dalam sambutannya, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kuningan Kak Rana Suparman, S.Sos. mengajak seluruh peserta untuk senantiasa menjaga api yang berkobar. Menurutnya, perjuangan Gerakan Pramuka pada masa sekarang bukan lagi perang dengan menggunakan senjata. Perjuangan dilakukan dengan membawa ideologi Pramuka untuk membentuk manusia Pancasila melalui pengamalan Tri Satya dan Dasa Darma. Ia juga mengaitkan semangat tersebut dengan upaya menjaga alam sebagai salah satu bentuk kecintaan terhadap tanah air.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika ditempatkan berdampingan dengan pementasan Pangriksa Jiwa. Sebab, menjaga api yang berkobar tidak hanya dapat dimaknai sebagai menjaga api unggun secara harfiah, tetapi juga menjaga nilai, pengetahuan, sejarah, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kak Rana juga menyampaikan ungkapan Sunda: “Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké.” Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa apa yang ada sekarang memiliki keterkaitan dengan apa yang telah ada sebelumnya; tanpa adanya masa lalu, tidak akan ada masa kini. Pesan itu menemukan konteksnya dalam Pangriksa Jiwa.
Pertunjukan Pangriksa Jiwa pada dasarnya sedang mengajak generasi muda melihat kembali hubungan antara “nguni” dan “mangké”—antara masa lalu dan masa depan. Sejarah bukan sekadar sesuatu yang telah selesai, tetapi menjadi bagian dari proses memahami siapa kita hari ini dan ke mana kita akan melangkah.
Pementasan Pangriksa Jiwa dalam Summer Camp MI se-Kwarran Ciawigebang menunjukkan bahwa pendidikan kepramukaan dapat menemukan bentuk-bentuk kreatif untuk menyampaikan nilai. Anak-anak tidak harus selalu belajar melalui ceramah. Mereka dapat belajar melalui pengalaman, permainan, seni pertunjukan, sejarah, dan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
Api tetap menyala. Tetapi di sekeliling api itu, ada cerita yang juga perlu dinyalakan kembali. Ada sejarah desa yang perlu dikenali. Ada tokoh-tokoh yang perlu diingat. Ada nilai kehidupan yang perlu diwariskan. Dan ada generasi muda yang perlu diberi kesempatan untuk mengalami semuanya dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka.
Karena pada akhirnya, seperti pesan yang menjadi ruh Pangriksa Jiwa: “Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga bagaimana api itu dinyalakan, sampai lupa memastikan apa yang tetap menyala setelah api itu padam.”
Dalam konteks inilah Pangriksa Jiwa tidak hadir untuk menggantikan prosesi protokoler upacara api unggun, melainkan mencoba memperluas maknanya: api sebagai simbol, sejarah sebagai ingatan, teater sebagai cara bercerita, dan Pramuka sebagai ruang pendidikan untuk menumbuhkan generasi yang mengenal masa lalunya agar mampu menjaga masa depannya @raff
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Api Unggun "Pangriksa Jiwa" Warnai Summer Camp MI Se Kwarran Ciawigebang Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan