728x90 AdSpace

Update
22 September 2016

Guru Perlu Lebih Menukik pada Substansi Materi Ajar



SuaraKuningan.com – Bahan yang digunakan untuk membuat paru-paru adalah sebuah botol bekas air minum ukuran satu setengah liter, tiga buah balon, dua buah sedotan yang bisa melengkung, dan lima sendok makan gula pasir. Alat-alat yang dibutuhkan adalah gunting, cutter, korek api, paku, dan lilin putih.

Pertama, kami memotong bagian dasar botol bekas air minum itu kurang lebih empat cm. Kami lalu menyalahkan lilin dengan korek api untuk membakar ujung paku dan melubangi tutup botol plastik sebesar sedotan dengan paku tersebut.

Bagian atas kedua ujung sedotan dibengkokkan, lalu dimasukkan ke dalam balon dan diikat dengan menggunakan karet. Kami masukkan kedua sedotan tadi ke dalam tutup botol yang telah dilubangi, sehingga kedua ujung sedotan bagian atas yang diikat dengan balon berada di dalam tutup botol dan sebagian lagi terletak di luar tutup botol.

Kami gunting bagian bawah balon besar, lalu potongan balon tersebut digunakan untuk menutupi bagian dasar botol plastik bekas yang telah dipotong tadi. Kami rekatkan balon pada bagian dasar botol tersebut dengan menggunakan karet gelang.

Demikian urai Gina dan Aisyah, siswa kelas lima SDN Sukarasa 34 KPAD Gegerkalong, Bandung, saat menjelaskan cara membuat alat peraga sistem pernafasan kepada Lynne Hill, Teaching and Learning Adviser program USAID PRIORITAS, di sekolahnya, Kamis (22/9).

Adegan ini terjadi saat Lynne Hill memantau pelaksanaan praktik mengajar para peserta pelatihan dosen, guru pamong, dan mahasiswa calon guru guna meningkatkan kualitas PPL mahasiswa LPTK di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Pelatihan tiga hari ini diikuti oleh 65 orang perwakilan dosen dan mahasiswa UPI dan UIN Bandung, serta guru pamong sekolah/madrasah lab dan mitra UPI dan UIN Bandung.

Irfan Jaenudin, mahasiswa UPI, melakukan praktik mengajar secara terbimbing dengan guru pamong Sri Nuryanti, guru di SD Lab School UPI, dan dosen pembimbing lapangan Asep Saefudin, dosen UPI, di kelas lima guna mengajak siswa mengenal sistem pernafasan hewan dan manusia serta penyakit yang berkaitan dengan pernafasan.

Di sini materi IPA dipadukan dengan peningkatan kemampuan literasi siswa dalam hal membaca dan menulis.

Selama proses pembelajaran siswa bekerja secara berkelompok terdiri atas 5-6 orang per kelompok. Siswa diajak membaca teks “Lingkungan dan Akibatnya bagi Pernafasan Manusia” selama lima menit. Siswa menjelaskan gagasan pokok yang ada pada setiap paragaraf pada teks tersebut dalam bentuk diskusi kelas.

Irfan kemudian mengajak siswa untuk membuat sebuah alat peraga sistem pernafasan dengan menggunakan bahan dan alat yang telah dipersiapkan. Siswa membuat alat peraga tersebut dengan mengikuti panduan pembuatan yang ada pada LKS dan menjawab setiap pertanyaan yang tercantum dalam LKS dalam kurun waktu 20 menit.

Seiring kerja kelompok, Irfan dan Sri membimbing, mengamati, dan menilai kinerja siswa dan melakukan tanya jawab dengan siswa. Setiap kelompok lantas mempersentasikan hasil karyanya dengan menjelaskan cara kerja sistem pernafasan.

Lynne Hill mengaku puas dengan proses praktik mengajar secara umum. Hill melihat mahasiswa, guru pamong, dan dosen pembimbing tampak telah memahami dengan baik peran masing-masing dalam proses PPL.
Hill juga tampak puas dengan proses pembelajaran aktif yang memungkinkan siswa tampak aktif dan senang sepanjang proses pembelajaran.

Hanya saja, Hill memberi masukan, mahasiswa praktikan terlalu asyik dengan proses teknis pembelajaran aktif itu sendiri dan kurang memberikan kesempatan siswa untuk menguasai substansi pelajaran sains yang sedang dipelajarinya.

“Siswa sudah mampu menjelaskan cara membuat alat peraga sistem pernafasan, tetapi ketika saya tanya cara kerja sistem pernafasan, siswa tampak masih kurang percaya diri untuk menjelaskannya,” tukas Hill.

Lepas dari kekurangan itu, Lynne Hill yang menyempatkan berkeliling ke semua kelas itu menilai secara keseluruhan proses praktik mengajar sudah berjalan sesuai harapan.

Adit, siswa kelas tiga, mengaku senang mengikuti proses pembelajaran yang baru saja diikutinya. Adit bahkan tampak sangat percaya diri bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan Lynne Hill. “How old are you,” tanya Adit, yang membuat Lynne, mahasiswa, dan guru tersenyum penuh rasa kagum.

Di ruang kelas dua Lynne tampak terkagum-kagum mendapati kertas post-it refleksi siswa yang berupa gambar wajah, bukannya kata-kata, untuk mengungkapkan kesan-kesan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Irfan Junaedi sendiri sebagai praktikan mengaku tertarik dengan model PPL yang dikembangkan USAID. “Saya menjadi tidak merasa sendiri selama praktik pengalaman lapangan karena guru pamong dan dosen terus membimbing saya secara penuh dan detail,” ucap Irfan.

Sebagai guru pamong, Sri Nuryanti merasa lebih jelas peran apa yang harus dimainkan selama mendampingi mahasiswa praktikan. “Terutama dalam proses pembelajaran terbimbing, saya dan praktikan berbagi peran mengajar secara fifty-fifty, sesuatu yang baru bagi saya sebagai guru pamong,” katanya.

Asis Saefudin, dosen UIN Bandung, mengklaim banyak hal baru ia dapatkan dari lokakarya ini, yang akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas PPL di masa mendatang. “Jurnal refleksi yang dilakukan praktikan dan konferensi yang melibatkan praktikan, guru pamong, dan dosen pembimbing memungkinkan praktikan melakukan praktik secara serius sehingga keprofesiaannya bisa terbangun dengan baik,” urai Asis.

Sementara itu, dosen UPI Didin Syahruddin mengaku tertarik dengan keharusan praktikan membubuhkan komentar tertulis pada karya siswa. “Cara ini memungkinkan praktikan untuk lebih seksama menilai karya siswa dan memberikan koreksi perbaikan secara rinci,” ujarnya. Didin juga menyebut komentar guru semacam itu tentu saja dapat memungkinkan kinerja siswa menjadi lebih baik. (DS/Rilis/USAID/Red) 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Guru Perlu Lebih Menukik pada Substansi Materi Ajar Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan