728x90 AdSpace

Update
5 Oktober 2016

“Tepuk Diam” Alat Jitu

Oleh: Benning Rizahra (Kuningan, Jawa Barat)
Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Menjadi guru itu luarbiasa menyenangkan. Setiap pagi aku disambut dengan senyum mereka sembari satu persatu menyalami dengan ucapan salamnya sekaligus. Tergambar jelas wajah mereka berseri-seri tanpa ada beban didirinya.

Ini yang aku alami kurang lebih sudah 8 bulan lalu sejak bulan februari tepatnya 8 Februari 2016, aku bersama 18 rekan lainnya ditugaskan untuk menjadi Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa setelah 3 bulan kami pendidikan di Bogor dan di Tasikmalaya.

Kami yang berbeda daerah asal membuat kami menjadi kaya pengetahuan baik itu sejarah, methode pembelajaran, dan lain-lain. Pada masa tugas selama satu tahun ini ada 10 titik sekolah yang harus didampingi, sehingga kita dibagi menjadi 10 untuk disebar nantinya. Aku ditempatkan sendiri di Cianjur Jawa Barat, tepatnya di kaki gunung Pangrango kampung Gunung Putri desa Sukatani kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur.

Sekolah yang saya damping bernama MI Al-Ikhlas, sekolah yang memiliki banyak murid hingga mencapai angka 350an, dan sekolah yang sudah cukup berkembang dikarenakan kepala sekolah dan dua orang guru MI Al-Ikhlas ini sudah pernah mengikuti pembinaan di Sekolah Guru Indonesia dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Namun tetap, akan selalu ada permasalahan atau tantangan yang harus dihadapi oleh kita para Guru Konsultan.

Tugasku dalam menjadi pendamping sekolah sebagai Guru Konsultan, aku pun memiliki kewajiban untuk mengajar walaupun tidak full seperti wali kelas. Pertama masuk dikelas 4 B, teringat jelas itu hari kedua saya berada dipenempatan, yang memiliki jumalah siswa lebih dari 40. Kelas yang begitu gaduh dengan suara-suara lantang mereka, membuat aku kesulitan untuk mengajar mereka.

Hiruk pikuk aktifitas mereka yang membuat kelas sangat tidak kondusif. Akhirnya aku meminta anak-anak untuk memperhatikan apa yang aku katakan setelah sebelumnya aku membuat peraturan.

“peraturan kelasnya, apabila yang membuat suasana kelas gaduh, harus push up sebanyak 100 kali” jelas saya

“aaaahhhh ibu mah, alim ah!” suara riuh anak-anak sebagai bentuk penolakannya.

Akhirnya suasana “sesaat” diam dan fokus memperhatikan, namun beberapa saat kemudian kembali gaduh. Sebagai seorang guru aku harus memutar otak agar mereka tertarik dan mentaati peraturan.

“Tepuk diam!!!” Suaraku yang dibuat sedikit keras membuat anak-anak melihat kehadapanku semuanya.

Tidak tahu apa yang harus dijelaskan ke anak-anak ketika aku berucap seperti itu, aku berusaha mengajak otakku agar mengeluarkan ide. Dan akhirnya terlintas dipikiranku.

“ketika ibu bilang “tepuk diam”, kalian harus menjawabnya dengan kata “cekrek” sambil kalian kunci mulut kalian dengan tangan kalian”. Jelasku sembari mencontohkan gerakannya.

Akhirnya tepuk ini cukup ampuh, ketika suasana gaduh, cukup dengan berucap “tepuk diam” lalu mereka akan diam.

Beberapa waktu kemudian, suara anak-anak mengucapkan “cekrek” terdengar dari setiap kelasnya. Dalam benak saya “mungkin dipakai juga oleh guru lain.” Walaupun sebetulnya aku tidak “sosialisasi tepuk diam” ini. Sekali lagi ini menjadi bagian dari perjalanan jika kelak aku menjadi guru, harus kreatif dalam mengahadapi permasalahan selama di sekolah, baik itu karakter anak atau dalam proses pembelajaran.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: “Tepuk Diam” Alat Jitu Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan