728x90 AdSpace

10 Januari 2018

Memberontaknya Kuningan terhadap Cirebon (bag. 2 – tamat)


oleh: Tendy Chaskey*)

suarakuningan.com - Cirebon dan Kuningan merupakan dua daerah yang memiliki hubungan sangat baik karena latar historis dan religiusitasnya berkaitan satu sama lain. Walaupun begitu, relasi di antara keduanya ternyata pernah menjalani “fase” yang buruk akibat adanya interaksi disosiatif yang terjadi. Hal itu terjadi karena Arya Kuningan menolak tunduk kepada Cirebon selepas meninggalnya Syekh Maulana Jati. Sang keturunan, Panembahan Ratu, yang menjadi penerus tahta di Cirebon, pernah mencoba merangkul kembali Kuningan melalui Patih Rudama (teks lain menyebut Rudamada), namun ternyata ditolak. Sang Panembahan pun berangkat ke Kuningan untuk mendengar secara langsung jawaban akan permintaannya untuk tetap bersama Cirebon.

Di Kuningan, Panembahan Ratu tidak mendapat apa yang diinginkannya. Keinginannya untuk meminta Kuningan kembali ke pangkuan Cirebon ternyata tidak terlaksana karena Kuningan melakukan perlawanan. Arya Kuningan menyadari bahwa diri dan para pengikutnya adalah orang yang merdeka sehingga tidak ingin tunduk kepada siapapun, termasuk kepada Cirebon.
Naskah Pulosaren menggambarkan rangkaian peristiwa itu dengan baik:
“Maka Panembahan Ratu akhirnya datang sendiri ke Kuningan, namun dihadang oleh barisan prajurit.
Pasukan perang Cirebon jadi ramai bagaikan perang tanding saja, hingga menyuruh pergi agar prajurit Kuningan tidak menghalangi jalan. Kemudian datanglah empat mantri Kuningan yang ketus membalas mengusir prajurit Cirebon.
Pasukan perang Cirebon menjadi sangat berang karena mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari prajurit Kuningan.


Ketika dua kelompok yang saling berseberangan itu berhadapan, dapat dipastikan bahwa keduanya terlibat peperangan yang amat dahsyat. Para prajurit saling menghunuskan senjata mencari lawannya masing-masing. Sementara itu, seakan tidak ingin kalah dari para punggawanya, para pemimpin pasukan pun bergerak ke medan laga, mencari lawan tandingnya yang sepadan.

Dalam perang tersebut, Arya Kuningan berhadapan langsung dengan Panembahan Ratu. Perbedaan kepentingan di antara keduanya membuat mereka mesti berseberangan dan bertarung satu sama lain. Dalam naskah yang sama, pertarungan keduanya diabadikan sebagai pertarungan yang amat sengit dan penuh dengan ilmu kanuragan serta silat yang sangat atraktif.
“Sementara itu, Pangeran Kamuning mendekati suatu tempat yang berlumpur yang berdampingan dengan tempat luas. Sementara itu, Panembahan Ratu segera menyusulnya. Kemudian turun dari kuda mendekati Pangeran Kamuning, Pangeran segera mengambil ancang-ancang lalu menyambut Panembahan Ratu dengan tebaran jala pusaka.
Jala melaju cepat, Panembahan Ratu meloncat menghindari gempuran jala pusaka. Begitu mendarat di seberang sana, maka bumi yang diinjak Panembahan Ratu menjadi bergerak miring.”


Pertarungan yang berlangsung dengan sangat seru itu ternyata dimenangkan oleh Panembahan Ratu. Meski pada mulanya berjalan secara seimbang, ternyata Arya Kuningan tidak sanggup melawan kesaktian Panembahan Ratu. Alih-alih mengalahkan kekuatan Panembahan Ratu, Jala Pusaka yang dipergunakan Arya Kuningan pun malah mencelakai dirinya sendiri.

Maka jala itu bergerak berbalik sendiri menangkap Arya Kamuning, akibatnya ia terjatuh terduduk. Terus gedubugan bergerak hendak melepaskan diri, namun tetap terkurung jala pusakanya sendiri. Arya Kamuning tobat, tak akan berbuat macam-macam lagi.
Panembahan Ratu berkata, “Nasrun minallahi wafathun qarib (pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat).” Kemudian jala itu lepas dengan sendirinya, maka Pangeran Arya segera menubruk sungkem, “wahai gusti hamba, mulai saat ini hamba akan menuruti kehendak pad
uka.”

Setelah peristiwa itu, Kuningan pun harus kembali kemit ke Cirebon dalam jangka waktu tertentu sebagai salah satu bukti kesetiannya. Bahkan di naskah lain, penyerahan tersebut juga disamakan dengan penyerahan raga dan jiwa yang artinya pemenang bisa memperlakukan pihak yang kalah sesuai dengan keinginannya. Meskipun narasi babad tersebut penuh dengan legenda dan mitos yang banyak menimbulkan pertanyaan, setidaknya ada beberapa kandungan sejarah yang memang benar-benar pernah terjadi dan bisa dijadikan sebagai sumber-sumber sejarah.

Sebagaimana diketahui, selepas masa Keadipatian, jejak sejarah Kuningan memang benar-benar hilang bak ditelan bumi. Tidak ada nama pemimpin daerah yang muncul, juga cakupan wilayah yang jelas. Masa itu seakan gelap diselimuti oleh misteri yang abadi. Dalam beberapa sumber VOC dan kolonial, wilayah yang sekarang menjadi Kuningan justru terbagi menjadi beberapa distrik yang memiliki pemimpin-pemimpin yang berbeda. Apakah itu artinya selepas takluk pada Cirebon di zaman Panembahan Ratu, Kuningan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian oleh sang pemenang perang? Jawaban tersebut hanya bisa dijawab dengan penelitian yang komprehensif di kemudian hari.
Wallahu’alam bishowwab.

Penulis adalah Orang Kuningan, Alumnus Intercultural Leadership Camp Programme, Victoria University of Wellington, New Zealand. Saat ini tengah menempuh Program Doktoral.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 komentar:

  1. Mana bagian ka-hijina kang ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan klik Link nya pada tulisan berwarna merah di bawah judul.
      Tulisan Sebelumnya:

      Hapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Memberontaknya Kuningan terhadap Cirebon (bag. 2 – tamat) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan