728x90 AdSpace

Update
22 Mei 2018

Hakikat Ber-Islam


Penulis (kedua dari kiri) bersama para pengurus IPNU

suarakuningan.com - Hari ini masyarakat kita telah dibuat resah dan khawatir oleh mereka yang mengatasnamakan Islam, mereka tampil dengan membawa bendera Islam, tapi mereka buta pada substansi Islam itu sendiri. Akibatnya pada hal-hal yang kecil pun masyarakat telah menjadi sensitif dan semakin reaktif.

Dengan doktrin yang mereka yakini bahwa mereka berada pada posisi yang benar. Kita melihatnya seolah mereka menjadikan Islam sebagai perisai untuk mereka berlindung. Tentang siapa yang benar dan salah, itu adalah penilaian yang relatif tergnatung dari sudut mana kita melihatnya dan tergantung dengan dasar apa kita berdalil.

Betapa banyak orang yang dengan semangatnya membela dan mengajarkan Islam sebagai kunci keharmonisan beragama dan bermasyarakat. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang jurtru mengagitasi masyarakat dan memperkosa paham masyarakat untuk ikut ke dalam kelompoknya tanpa memberi peluang untuk beargumen.

Insiden yang terjadi di Surabaya, Sidoarjo dan Riau kemarin, doktrin mereka mengatakan bahwa itu adalah instrumen sebagai aksi jihad, tetapi banyak pembantahan bahwa itu aksi bejat yang dinilai tidak berprikemanusiaan dan mengotori agama. Cukup banyak pula yang tersakiti dan terdzalimi bahkan harus kehilangan nyawa oleh karena perbuatan tersebut.

Jika kita meyakini bahwa Islam adalah rahmatan li al-ālamīn, maka kita tidak menghendaki aksi demikian, kita akan mengatakan bahwa itu salah.  Karena implementasi Islam itu bermuara pada kedamaian, ketenangan, keselamatan serta keamanan. Islam atau agama apapun tidak mengajarkan kekerasan tapi kelembutan, bukan kerusuhan tapi kedamaian. Kekerasan dan ketegasan tentu berbeda. Tegas akan membawa pelakunya pada keselamatan tetapi keras belum tentu, atau mungkin akan menimbulkan kebencian.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya...” (HR. Tirmizi)
Ungkapan hadits di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa yang harus menjadi skala prioritas dalam beragama dan dalam bersosial adalah akhlak atau budi pekerti. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Islam adalah kearifan, kesantunan dan kebijaksanaan.

Artinya segala bentuk apapun yang kita lakukan harus berorientasi pada kemuliaan akhlak, apa yang kita ucapkan harus bermuara pada keluhuran budi pekerti, kerena ianya merupakan manifestasi nilai-nilai Islam itu sendiri. Tetapi jika yang timbul adalah justru syahwat kekuasaan dan selalu ingin memonopoli kehidupan bersama, maka sesungguhnya dia benar-benar tidak memahami dan tidak mengindahkan substansi Islam.

Bijaklah dalam bertingkahkah, berhati-hatilah dalam berucap dan sehatlah dalam berfikir, maka kehidupan yang kita dambakan akan kita raih. Jangan mudah terprovokasi oleh siapapun yang mengganggu dan mengancam, sekalipun dengan tawaran yang manis. Hormati dan toleranlah pada perbedaan yang ada, kerena itu kewajaran dalam hidup serta adillah dalam berbagi. Tawāzun, tasāmuh dan ta’ādul merupakan kunci untuk mencapai kehidupan yang berakhlak.
Wallahu a’lam

Iwan Muhammad Sofwan

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Hakikat Ber-Islam Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan