728x90 AdSpace

Update
22 Mei 2018

Memahami Ukhwah Islamiyah

oleh: Iwan Muhammad Sofwan
(Pengurus PC IPNU Kuningan, Departemen Dakwah & Kajian Keislaman)
Penulis: Keempat dari kiri
suarakuningan.com - Bangsa kita memiliki variasi latar belakang dan potensi yang berbeda-beda. Berbeda lingkungan, budaya, sosial, ras dan lain-lain. Sehingga dari sini pula perbedaan itu muncul secara alamiyah dan refleks.
Dari perbedaan tersebut bisa kita saksikan saat ini seperti yang terproyeksi dalam perbedaan pendapat antara satu sama lain, perbedaan paham, metode dan lain sebagainya hingga masalah berbeda agama. Saya kira itu hal yang sangat wajar.
“Perbedaan umatku adalah rahmat.” Menurut pendapat Imam As-Suyuthi  dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir bahma hadits ini adalah Munqathi’ (terputus sanadnya) Beliau  juga berkata: “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui.”
Firman Allah yang senada dengan matan hadits ini adalah:
“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu.” (Terjemah QS. Hud: 118-119)

Pemahaman atau mafhum ayat diatas adalah bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah akan senantiasa berselisih. Jika perbedaan itu ialah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dinafikan maka tidak lantas kemudian berselisih karenanya, artinya tidak saling mengedepankan ego masing-masing.
Dikatakan bahwa perbedaan itu ialah alasan atas turunnya rahmat Allah SWT, maka tidak seharusnya darinya menimbulkan kebencian atau bahkan hingga saling mengolok-olok. Tetapi harus dipahami dan dihormati sehingga perbedaan ini tidak akan menimbulkan kerusakan yang baru. Dan dari sebab perbedaan itulah kita bisa mengambil ibrah untuk saling menghormati, melindungi, dan menasihati jika dianggap perlu untuk dinasihati.
Karena perbedaan itu akan selamanya berbeda jika tak ada salah satu yang mengalah atau mengaku kalah, maka selayaknya dicarikan solusi yang bisa menginterrelasikan dan mengkompromikan antara mereka sehingga akan bermuara pada makna kasih sayang (rahmat).
Lalu kemudian masyarakat muslim kita dengan semangat dan gigihnya melantangkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai ukhwah islamiyah, terlebih mereka yang berjiwa orator. Bahwa ukhwah islamiyah bisa dianggap salah satu solusi upaya meredam ditengah-tengah keributan yang disebabkan karena konflik perbedaan dalam kehidupan yang ada.
Ada yang perlu diklarifikasi dalam pemahaman makna ukhwah islamiyah di sini, pemahaman merwka yaitu bahwa ukhwah islamiyah ini hanya boleh berlaku bagi mereka orang muslim saja. Saya kira itu pemaknaan yang amat sempit sekali dan jika demikian adanya maka dianggap kurang tepat dalam mahami makna ini atau mungkin salah mengartikan.
Menurut Fauz Noor dalam essainya (Lihat Marginalia : 2016) menerangkan bahwa lafadz ukhwah islamiyah bukan bermakna persaudaraan orang islam, tetapi persaudaraan yang islam. Karena jika melihat susunan lafadz tersebut itu merupakan susunan naat man'ut, bukan idhofat.

Dengan kita memahami ukhwah islamiyah bermakna persaudaraan yang islam atau islami, maka persaudaraan kita akan lebih luas. Implementasinya bukan hanya antar orang islam saja tetapi non muslimpun terlibat dan diharuskan bersaudara. Betapapun keadaannya saat ini, non muslim bukan lagi ancaman yang harus diperangi secara lahir. Karena itu pula tidak seharusnya kita mempeta-petakan mereka.
Kita semua manusia adalah saudara yang memiliki tugas sebagai khalifah di bumi yang sama tanpa melihat perbedaan. Kerena bagi Allah tidak ada perbedaan diantara manusia kecuali Iman yang mereka miliki.
Akhirnya kita tidak boleh membatasi diri. Buatlah diri bereksplorasi untuk memahami indahnya perbedaan. Apa jadinya jika perbedaan itu tak pernah ada. Hambar mungkin yang dirasa.
Wallahu a'lam.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Memahami Ukhwah Islamiyah Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan