728x90 AdSpace

Update
24 Mei 2018

Hikmah Ramadhan "Puasa Ramadan : Stop Bermalas-Malasan! Raih Kemuliaan!"


Penulis: DR Wahyu Hidayah, M.Si (Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan)
suarakuningan.com - Aktivitas puasa akan berdampak pada perubahan pola makan yang biasa kita lakukan. Jika pada hari-hari biasa kita dapat dengan leluasa untuk makan dan minum kapan pun, maka di bulan Ramadan ini kita tidak lagi bisa seenaknya untuk melakukan aktivitas tersebut. Kita hanya diperbolehkan untuk makan dan minum setelah terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar. Hal ini tentu akan memaksa tubuh kita untuk beradaptasi dengan keadaan tersebut. Proses adaptasi inilah yang menjadikan kita merasa lemah dan lesu.

Tidak menutup kemungkinan diantara kita ada yang lebih memilih memperbanyak aktivitas tidur dibanding aktivitas lainnya saat menjalankan ibadah puasa. Memang betul bahwa tidur di saat tubuh kita merasa lemah dan lesu adalah sesuatu yang nikmat. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan, tidur dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Misalnya saja kita tidur dari sejak selesai sahur hingga tiba waktu berbuka, selain kita berdosa karena meninggalkan kewajiban shalat fardlu, penyakit yang tidak kita harapkan pun dapat berdatangan menimpa diri kita.

Selain tidur, sebagian orang ada yang menjadikan alasan lemah dan lesu untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Padahal bekerja (yang halal) bisa menjadi ladang amal dalam beribadah. Karena bekerja menjadi bagian dari ibadah, maka semakin semangat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, semakin besar pula pahala yang bisa kita peroleh. Jadi, seharusnya kita tetap bersemangat dalam bekerja meskipun dalam kondisi berpuasa.

Tahukah Anda?
Menurut Prof. Endang L. Achadi, Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, tubuh kita akan beradaptasi setelah 3-4 hari menjalankan ibadah puasa sehingga kita tidak akan lagi merasa lemah dan lesu. Artinya, setelah fase tersebut, seharusnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tetap bermalas-malasan dalam bekerja. Kita jangan menjadikan puasa sebagai kambing hitam penyebab turunnya semangat kerja. Justru dengan berpuasa, semangat kerja kita harus semakin ditingkatkan.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa banyak peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslimin justru terjadi pada saat bulan Ramadan. Bayangkan saja saat itu cuaca di tanah Arab sudah sangat ekstrim karena pengaruh gurun pasir, ditambah dengan kondisi kaum muslimin yang sedang dilanda rasa lapar dan dahaga. Secara logika, perang akan semakin menguras kekuatan fisik kaum muslimin, namun yang terjadi adalah kaum muslimin mampu memenangkan setiap pertempuran meskipun sedang menjalankan ibadah puasa. Tidak ada rasa gentar sedikit pun pada diri mereka dalam menghadapi musuh.

Salah satu contoh pertempuran yang terjadi di bulan Ramadan yaitu perang badar al-kubro. Dalam sejarah, perang ini merupakan yang terdahsyat yang pernah dialami kaum muslimin. Saking dahsyatnya perang badar al kubro, veterannya pun begitu dihormati oleh yang lain. Perang ini terjadi pada bulan ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Pada peperangan tersebut kaum muslimin berhasil menang telak melawan kaum kafir quraisy yang jumlahnya jauh lebih banyak. Hal ini menjadi bukti bahwa di zaman Rasulullah SAW, puasa semakin menambah kekuatan dan semangat yang tinggi bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk bermalas-malasan saat menjalankan ibadah puasa.

Raih Kemuliaan!
Ketika memasuki bulan Ramadan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya sangat bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah. Tidak hanya puasa tetapi juga ibadah-ibadah yang lain seperti jihad fii sabilillah, bekerja, dan sebagainya. Oleh karena itu, sangat wajar apabila mereka senantiasa mendapat kemuliaan dari Allah SWT.

Nah, kita yang hidup di zaman sekarang, perlu meniru kesungguhan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam meraih kemuliaan di sisi Allah SWT. Perlu diingat bahwa Allah SWT tidak menilai kedudukan seseorang dari wajah dan harta seseorang melainkan melalui hati dan amal perbuatannya. Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ)). رواه مسلم
Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Di dalam al Quran dipertegas lagi mengenai kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT sebagaimana firman-Nya :
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS al Hujurat : 13)

Menurut ayat di atas, Allah SWT tidak menilai kemuliaan seseorang berdasarkan jenis kelamin, suku atau bangsanya, melainkan didasarkan pada tingkat ketaqwaannya. Salah satu cara untuk meraih ketaqwaan tersebut yaitu melalui ibadah puasa dibulan Ramadan. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Ayat di atas menunjukkan bahwa puasa di bulan Ramadan merupakan fasilitas khusus yang Allah SWT berikan kepada umat manusia yang beriman untuk menggapai ketaqwaan. Tinggal kita mau memilih apakah mau memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sungguh-sungguh ataukah tidak. Tentunya, mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh, penuh keihklasan dan perjuangan akan mampu meraih ketaqwaan. 

Semakin tinggi derajat ketaqwaan seseorang, maka semakin mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Sebaliknya mereka yang menajalankan ibadah puasa hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan tentu akan sulit untuk mencapai tingkatan taqwa. Lantas, bagaimana kita akan dianggap mulia di sisi Allah SWT, sedangkan kita sendiri tidak mencapai tingkatan taqwa?

Jadi, masih mau bermalas-malasan dalam bekerja saat menjalankan ibadah puasa Ramadan? Selamat menunaikan ibadah puasa.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Hikmah Ramadhan "Puasa Ramadan : Stop Bermalas-Malasan! Raih Kemuliaan!" Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan