Iklan Google 728

18 Mei 2019

Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Diam)


***
Terkadang aku lebih memilih untuk diam
Bukan karena aku tak mempunyai kata
Tapi karena itu lebih mudah
Dari pada harus menjelaskan segalanya


Kemarau baru saja tiba dibarengi gerimis akhir musim. Harum debu tanah terasa menyengat dan kulit dingin mengering. Seorang perempuan muda baru saja memarkir motornya di kedai Waja Kopi, sebelum duduk memesan kopi latte. Sore itu Gunung Ciremai nampak bisu.

Ramadan menyapa hangat sambil menyodorkan secangkir kopi latte bergambar cinta yang terbelah dua. Entah larut terhipnotis, perempuan itu nampak galau sendu menatap cangkir kopinya. Belum juga dinikmati sampai perlahan menjadi dingin.

“Apakah setiap barista juga dibekali ilmu meramal hati”? Perempuan itu tiba-tiba bertanya laun.

Ramadan berfikir sejenak sambil waspada dengan sekitar dan berusaha peka. Diamatinya perempuan itu dari ujung rambut sampai ujung sandal. Sorot matanya dan aura gelisah mulai terditeksi panca indra. Ramadan hanya tersenyum kecil, karena tidak perlu ada jawaban.

“lelaki itu sudah kembali kepada isterinya”. Perempuan itu melanjutkan cerita. “Ya, lelaki yang sering bersamaku duduk di sini, sekarang sudah kembali kepada isterinya. Dasar pecundang. Katanya dia akan bercerai lalu menikahiku. Penipuuuuu”!

Kemarahan dan kecewa bercampur aduk. Disruputnya kopi latte yang hampir beku itu dengan penuh dahaga tidak tersisa. Tanpa menyeka bibir yang masih rona dengan kopi, perempuan itu bergegas lalu menghilang. Senja akhirnya berganti malam.

Eka dan Ramadan membersihkan meja dan kursi kayu, ketika serombongan orang dengan wajah bahagia datang dan menacari tempat nyaman. Lelaki paruh baya dituntun oleh kedua anak gadisnya untuk memesan kopi.  Perempuan yang berjalan di belakangnya menggendong bayi mungil kisaran delapan bulan. Sebuah tas besar dan kereta bayi. Temaram lampu menambah suasana harmonis.

Angin belum berhembus kencang.

Beberapa porsi kentang goreng disajikan segera bersama kopi sejagat. Sayup terdengar, lelaki itu bersumpah kepada dua anak gadisnya yang masih belia:”Ramadan tahun ini, ayah tidak akan meninggalkan kalian”. Dibalas dengan peluk cium dan tawa riang.

Saat hembusan angin mulai terasa kencang, mereka berdiri untuk pulang. Sembari membayar seluruh pesanan, perempuan yang menggendong bayi itu berbisik kepada barista:”suamiku sudah kembali. Lepas dari cengkraman perempuan jalang itu. Sekarang ia sudah sadar”. Dari senyumnya nampak bahagia, angkuh dan menang.

Ramadan tetap diam. Ia tidak perlu bercerita, bahwa sesungguhnya lelaki itu akan kembali lagi dengan membawa perempuan lain yang berbeda untuk menikmati kopi latte. Ia lebih memilih diam, bukan karena tidak memiliki kata. Tetapi itu lebih mudah dari pada harus menjelaskan segalanya.


By. Ki Pandita
Ramadan 2019
Lereng Gunung Ciremai
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Diam) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan