Iklan Google 728

4 Mei 2019

CIREMAI (Ceria Ramadan, Berbagi Ramai-ramai)

Oleh : Ade Zezen MZM, S.Pd
Senin, 24 Sya’ban 1440 H

Bulan Ramadan adalah bulan yang dimuliakan dan diagungkan, karena di dalamnya terdapat banyak keberkahan, rahmat dan ampuna dari Allah SWT. Bulan Ramadan adalah bulan ke sembilan dalam kalender hijriyah yang berbasis hitungan bulan bukan matahari. Ramadan berasal dari akar kata   ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat. Dalam bahasa Arab ramiḍha atau ar-ramaḍh, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan.

Bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan. 

Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan turun pada bulan Sya'ban tahun kedua setelah hijrahnya umat Muslim dari Mekkah ke Madinah. Dengan turunnya ayat Al-Qur’an surat Al-Baqoroh: 183
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa." (Al-Baqoroh: 183).

Begitulah sejarah singkat Ramadan. Meski pun hari ini nyatanya kita melaksanakan puasa bulan Ramadan tidak selalu pada musim panas karena hitungan kalender hijriyah yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis Matahari.

Kita dapat membayangkan perintah berpuasa datang pada bulan Ramadan yang ketika itu panas menyengat yang membuat manusia sangat merasa haus. Di saat kaum muslimin merasa kehausan dan kepanasan, Allah malah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa menahan diri dari makan dan minum. Ternyata itulah makna Ramadan. Disaat manusia kering keronta, panas penuh dengan dosa, maka Allah hadirkan Ramadan yang penuh dengan berkah pahala berlimpah, rahmat dan ampunan Allah SWT. maka Ramadan seperti curah hujan yang begitu lebat di tengah rasa gerah, haus, dan panas menyengat. Ramadan memberikan kesegaran.

Maka sudah barang tentu kita harus menyambut kedatangan Ramadan dengan penuh suka cita dan kegembiraan bah anak kecil yang girang saat hujan datang. Ramadan ini adalah tamu yang agung yang akan mengabulkan segala hajat dan permintaan kita. Jika kita tahu rumah kita akan kedatangan Presiden yang akan memberikan apa yang kita pinta saja kita pasti akan menyambutnya dengan sangat istimewa, maka sudah selayaknya sambutan yang lebih istimewa itu akan kita berikan dalam menyambut Ramadan tahun ini datang. Lalu bagaimana cara kita menyambut Ramadan yang merupakan tamu sangat istimewa tersebut?

Di beberapa tempat di Indonesia sudah ada yang menerapkan tradisi penyambutan Ramadan secara turun temurun, yang bahkan sudah menjadi adat istiadat. Maka kita mengenalnya dengan sebutan munggahan. Tarhib Ramadan atau munggahan di beberapa tempat akan berbeda dengan yang lainnya, sehingga inilah yang harus menjadi catatan. Karena dalam melakukan penyambutan Ramadan jangan sampai malah kita terperangkap dalam sebuah dosa disebabkan melanggar syariat.

Di sebagian tempat ada munggahan dengan cara piknik ke pantai atau tempat hiburan, berkemah, makan-makan, bakar-bakar, kumpul kebo, bercampur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Maka inilah munggahan yang dilarang dalam agama. Meskipun ini sudah menjadi sebuah tradisi, harapannya jangan mengikuti tradisi tersebut kalau bisa menghilangkannya.

Lalu di sebagian tempat ada munggahan dengan cara berbagi makanan, kemudian saling maaf-maafan. Maka ini diperkenankan, meski hal tersebut tidak dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Kita tidak akan menemukan satu dalil pun yang menyatakan secara tertulis bahwa Rasul dan para sahabat berbagi makanan dan maaf-maafan menjelang bulan Ramadan. Namun bukan berarti munggahan dengan berbagi dan maaf-maafan tersebut adalah hal yang tidak dibolehkan apalagi sampai mengatakan hal tersebut merupakan pelanggaran syariat. Karena dalam mengkategorikan sesuatu hal itu boleh atau tidak boleh bukan saja berdasarkan dalil secara tekstual. Kita mengenal dalil kias dalam mengambil landasan sebagai hukum.

Berbagi dan saling memaafkan adalah dua hal yang sangat dianjurkan dalam agama. Sebagaimana firman Allah SWT;
الَّذِينَ يُنْفِقُون فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِين الْغَيْظَ وَالْعَافِين عَنِ النَّاسِ وَاللَّه يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Mereka adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran :134)

Budaya saling meminta maaf sebelum Ramadan, memang akhirnya merupakan sarana untuk saling menyapa dan berbagi kebahagiaan akan datangnya bulan Ramadan. Sekaligus membersihkan diri dari dosa-dosa sebelum menjalani ibadah puasa, karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Dan supaya saat Ramadan telah pergi meninggalkan kita, kita sudah dalam keadaan terampuni dari segala dosa yang pernah kita perbuat.

Dari Abu Hurairah RA beliau menceritakan; Rasulullah SAW naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.” (HR. Bukhari No. 646, Ibnu Khuzaimah No. 1888, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8767).

Terlepas ungkapan meminta maaf dan saling memaafkan yang harus dilakukan setiap saat dan tidak menunggu waktu tertentu. Apakah tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadan ini tidak dianjurkan  dan bertentangan dengan agama, karena tidak ada dalil yang jelas.

Tentu saja hal ini bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama apalagi tidak dianjurkan. karena dalam pandangan para ulama bahwa menjalani kegiatan atau ritual ibadah, yang sifatnya sunnah dan baik, kemudin dijalankan setahun sekali atau pada momen-momen tertentu, adalah perkara yang boleh. Hal ini didasarkan kepada hadis yang Ibnu Umar RA;
عَنْ ابْن عُمَر رَضِي الله عَنْهمَا قَال كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبا وَكَانَ عَبْد اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَفْعَلُهُ. رواه البخاري
“Ibnu Umar RA berkata: “Nabi SAW selalu mendatangi Masjid Quba’ setiap hari sabtu, dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Dan Abdullah bin Umar RA juga selalu melakukannya. (HR. Bukhari, [1193]).
Hadis ini kemudian dijelaskan secara rinci oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar RA dalam kitabnya Fathul Bari  sebagaimana berikut;
وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحة والمداومة على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثة ليس على التحريم
“Hadis ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal shalih dan melakukannya secara rutin. Hadis ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain Masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.” 

Dari penjelasan tersebut, jika anda yang berpendapat tidak diperkenankan munggahan dengan cara berbagi dan maaf-maafan karena tidak dicontohkan Rasul, silahkan. Namun jangan mencaci yang melakukan hal demikian. Begitu juga sebaliknya, anda yang sudah terbiasa melakukan munggahan dengan cara tersebut juga silahkan, karena tidak melanggar syariat. Namun jangan mencaci yang tidak mau melakukan.

Selanjutnya, menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan penuh suka cita adalah sebuah anjuran. Dalam kitab Al-Musnad, Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia berkata:
كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُبَشِرُ اَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ يَقُوْلُ : ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
“Rasulullah Saw. memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kedatangan bulan Ramadan seraya beliau berkata: ‘Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

Sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab al-Hanbali, berdasarkan hadis ini para ulama menganjurkan untuk saling ber-tahniah atau saling mengucapkan “selamat menyambut kedatangan bulan Ramadan” di antara satu sama lain ketika menjelang bulan Ramadan.

Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menyambut bulan suci Ramadan:

1. Luruskan niat
Niat menjadi kunci sukses dalam melaksanakan segala ativitas. Niat yang tulus dapat menghantarkan pada keberkahan beramal dan beribadah. Dalam Surat al-Hijr ayat 39-40, Allah SWT menjelaskan niat tulus akan menjauhkan seorang hamba dari godaan setan yang terkutuk.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (QS Al-Hijr: 39-40)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

2. Intropeksi diri
Intropeksi diri atau bermuhasabah adalah sarana kita mensucikan jiwa kita atau tazkiyatun nafs. Dengan intropeksi diri kita dapat mengetahui setiap dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan, sehingga kita memohon ampun kepada Allah atas semua salah dan dosa tersebut. Jika jiwa sudah bersih, maka kita berharap di bulan Ramadan tidak hanya sebagai penambah jumlah kuantitas ibadah yang dilakukan. Akan tetapi juga mempunyai nilai ketulusan yang berjalan seiring dengan kualitas keimanan. Sebagaimana hal tersebut pernah diungkapkan oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Intropeksi diri adalah sarana untuk memperbaiki kualitas amal yang akan kita lakukan. Sebagaimana Allah SWT berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapb diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]

3. Persiapkan fisik dan mental spiritual
Layaknya sebuah kendaraan yang dipanaskan terlebih dahulu sebelum melakukan balapan. Test race dalam menghadapi ritual ibadah Ramadan adalah sangat penting. Ramadan didalamnya penuh dengan keberkahan dan pahala yang berlipat, sehingga kuantitas ibadah yang kita lakukan harus bertambah. Kegiatan ibadah yang begitu padat di bulan Ramadan memerlukan adanya kesiapan secara fisik dan mental spiritual. Sebagaimana Rasul telah mencontohkan adanya pemanasan di bulan Sya’ban sebelum masuk bulan Ramadan;
dari Usamah bin Zaid radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata kepada Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Maka beliau menjawab,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعُ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ

“Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang manusia lalai darinya. Dan ia adalah bulan yang padanya segala amalan akan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Maka saya senang amalanku diangkat sementara saya sedang berpuasa.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad 5/201, Ibnu Abu Syaibah 2/347, An-Nasâ’i 4/201, Ath-Thahawy dalam Syarah Ma’âny Al-Atsâr 2/82, Al-Baihaqy dalam Syu’bul Imân 3/377 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/18. Dan sanadnya dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwâ’ul Ghalîl 4/103 dan Tamâmul Minnah hal. 412.)

4. Perbanyak amal sholih
“Alah bisa karena terbiasa”, begitu pepatah mengatakan. Seorang pendaki gunung akan terseok-seok kelelahan jika dia baru pertama kali mendaki. Namun bagi seorang ranger atau tim pemantau para pendaki akan terasa ringan saat mendaki karena sudah berulangkali naik-turun gunung. Begitulah kebiasan yang terus diulang akan menjadikan ringan dikerjakan. Keistiqomahan dalam beramal sholih sebelum datang bulan Ramadan akan menjadikan kita ringan melakukannya pada bulan Ramadan.

5. Memperbanyak Berdoa
Doa adalah senjatanya orang beriman. Rasul telah mencontohkan agar kita memperbanyak doa dalam menyambut bulan Ramadan. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu mencantumkan sebuah hadis yang berisi doa Nabi Saw. ketika menyambut bulan Ramadan. Hadis tersebut diriwayatkan imam al-Tirmidzi dari Thalhah bin Ubaidillah, dia barkata;

انَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلالَ قَالَ : ” اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ  وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ  رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Nabi Saw ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa; Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.)”
Dalam sebuah hadist lain;
“Adalah Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bila beliau telah memasuki bulan Rajab beliau berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah untuk kami bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” (Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du’â’ no. 911, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân 3/375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyâd An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhâry munkarul hadits, dan Ziyâd An-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizânul I’tidâl. Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh Syaikh Al-Albâny dalam Dho’îful Jami’.)

Wa Allahu a’lamu bish showaab..


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: CIREMAI (Ceria Ramadan, Berbagi Ramai-ramai) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan