Iklan Google 728

16 Mei 2019

Tiga Tingkatan Puasa

Kang M. Sofwan

Puasa merupakan ibadah wajib yang dilakukan pada bulan ramadhan dimulai sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari (waktu maghrib). Tidak ada tawaran lagi bahwa puasa merupakan ibadah yang fardlu ‘ain artinya diwajibkan bagi setiap jiwa yang sudah mukallaf.

Dikatakan pula bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya, merupakan ibadah yang sangat rahasia dan tiada didalamnya amal yang bisa diperlihatkan. Karena itu ibadah ini tidak diketahui secara dzahir oleh seoranngpun kecuali Allah SWT, maka Dia yang akan menjamin balasannya.

Dari Nabi Muhammad SAW bersabda, menceritakan dari Tuhannya, bahwa Allah SWT berfirman: “Semua amal perbuatan anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu dan Akulah yang akan membalasnya.”

Karena puasa merupakan urusan seorang langsung dengan Tuhannya maka tiada seorangpun yang mengetahui jenis balasannya. Tetapi Menurut Abul Hasan bahwa maksud dari “…Aku yang akan membalasnya.” adalah semua balasan ibadah yaitu surga, berbeda dengan puasa, balasannya ialah bertemu dengan Allah SWT.

Tahukah kita? Bahwa puasa memiliki tiga tingkatan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Durotu an-Nashihin.

Pertama, Puasa Orang Awam (shaumul awam), adalah mereka kelompok orang-orang yang berpuasa hanya sebatas menahan perut dan kemalian untuk tidak memnuhi keinginan syahwatnya.

Kedua, Puasa Orang Khusus (shaumul khawash), adalah puasa orang-orang shaleh yang puasa dengan mengekang semua anggota tubuh dari berbuat dosa. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa melakukan lima hal, yaitu: 1). Menahan mata dari segala hal yang dibenci oleh syara’. 2). Menahan lidah dari pengunjingan, bohong, adu domba, dan sumpah palsu. 3). Menahan telinga dari mendengarkan hal-hal yang dibenci syara’. 4). Menahan semua anggota tubuh dari melakukan hal-hal yang dibenci oleh syara’. 5). Menahan perut dari yag subhat dan tidak berlebihan makan ketika bebuka.

Sahabat Anas meriwayatkan, bahwa Nabi pernah bersabda yang artinya: “Lima perkara akan menghapus perkara puasa, yaitu: berbohong, menggunjing, adu domba, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat.”
Nabi juga bersabda berkenaan dengan hal ini, yang artinga: “Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tiada baginya dari puasa itu, melainkan hanya lapar dan dahaga.”

Ketiga, Puasa Orang Khusus yang Istimewa, adalah puasa yang sampai pada hatinya dari tujuan-tujuan rendah dan dari pemikiran tentang duniawi serta menahan hati dari segala sesuatu selain Allah SWT. Puasa yag sampai pada tingkatan ini adalah Puasanya Para Nabi dan Para Shadiqin. Menurutnya bahwa jika berpaling dari selain Allah termasuk hatinya maka batallah puasanya.

Jelaslah bahwa puasa merupakan ibadah yang tidak dapat dijangkau indra manusia, karena tidak ada yang mengetahuai tentang dia puasa atau tidak, kecuali Allah dan orang yang berpuasa itu sendiri. Dan merupakan perwujudan ketaatan hamba kepada Tuhannya yang hanya diketahui olehNya semata.

Untuk lebih jelas dan lebih lengkap silahkan lihat kitab Duratu an-Nashihin bab Puasa.

Allahu a’lam.




  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tiga Tingkatan Puasa Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan