Iklan Google 728

15 Juni 2019

Palutungan dan Cerita Lutung Kasarung

Tendi
(Sejarawan Kuningan; Pembina Divisi Senja Merah, Saung Indung; Founder Pamanah Rasa Institute)

Curug Putri
Nama Palutungan telah masyhur sebagai salah satu ikon wisata Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bukti terkuat tentang hal ini, dapat dibuktikan oleh ramainya laman pencarian google yang mengaitkan nama Palutungan dengan wisata Kabupaten Kuningan. 

Di salah satu dusun yang berada dalam lingkungan Desa Cisantana tersebut, terdapat sejumlah objek wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat, seperti Curug Putri, Bumi Perkemahan Palutungan, Sukageuri View, Curug Landung, Talaga Surian, Tenjo Laut, Bumi Perkemahan Ipukan, dan Rumah Makan Pondok Pinus.

Pengunjung yang datang ke Palutungan, tidak hanya berasal dari wilayah Kuningan saja, namun banyak pula yang berasal dari luar daerah. Beragamnya kode plat nomor kendaraan yang hilir mudik di jalur wisata itu seolah-olah ingin membuktikan bahwa heterogenitas masyarakat yang berduyun-duyun datang kesana bukanlah isapan jempol belaka.

Di tengah keramaian pelbagai objek wisata yang indah itu, tidak banyak yang menyadari bahwa nama Palutungan diambil dari kata dalam Bahasa Sunda “lutung” yaitu sejenis hewan yang dikenal sebagai trachypithecus auratus yang termasuk ke dalam kelompok famili Cercopithecidae. Kata lutung itu disertai dengan prefiks (awalan) pa- dan sufiks (akhiran) –an, yang kemudian menjadi kata “Palutungan”. Dalam konteks Bahasa Sunda, kata lutung dengan imbuhan pe-an tersebut menyatakan tempat, atau dengan kata lain, palutungan dapat dimaknai sebagai tempat bagi lutung.

Jika demikian, apakah di Palutungan ada lutung? Tentu saja ada, jika pengunjung mendapat keberuntungan, ia tidak hanya akan menemukan pemandangan yang indah di Palutungan, namun juga dapat bertemu dengan lutung-lutung Jawa yang hidup di lereng Ciremai tersebut. Hewan yang mulai sedikit jumlahnya itu, termasuk sebagai “primata arboreal” yaitu hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk berada di pohon.

Biasanya, primata-primata itu hidup berkelompok dengan sosok jantan tunggal yang dikelilingi oleh banyak betina, yang tidak jarang anggota anakannya terdiri dari remaja jantan dan betina. Untuk jantan remaja, ketika akan mendekati masa dewasa akan diusir dari kelompok dan selanjutnya ia akan membentuk kelompok baru dengan bergabung bersama kawanan lutung lainnya.

Namun demikian, nama Palutungan tidak hanya identik dengan primata yang memiliki tubuh langsung dan ekor panjang tersebut. Terdapat cerita lain berbalut legenda, yang mengaitkan nama Palutungan dengan daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Cerita yang dimaksud itu adalah cerita Lutung Kasarung.

Cerita Lutung Kasarung adalah cerita pantun yang sangat masyhur di Tatar Sunda. Cerita ini mengisahkan sosok Sanghyang Guruminda dari Kahyangan yang melakukan perjalanan ke bumi dalam wujud seekor lutung (monyet kecil). Sesampainya di bumi, ia tersesat dan karenanya disebut kasarung (tersesat). Dalam keterpasahannya itu, ia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Purbasari dan kemudian berhasil menikahinya sekalipun ia masih berwujud sebagai seorang lutung.

Mengenai kisah Lutung Kasarung ini, Pudentia M. P. S. S. menulis dalam karyanya yang berjudul Transformasi Sastra: Analisis Atas Cerita Rakyat “Lutung Kasarung”, bahwa “Cerita Lutung Kasarung merupakan cerita yang kemungkinan mengalami transformasi kesastraan.” Jadi, cerita ini tidak baku karena terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, terlebih di saat tradisi tulisan belum sekuat tradisi lisan yang memang telah mendarah daging dalam kebiasan masyarakat kita.

Lalu bagaimana korelasi yang terjalin di antara Lutung Kasarung dengan Palutungan? Hubungan itu terkait karena ada folklore desa yang menyatakan bahwa Palutungan adalah kawasan “Arile”, tempat dimana rangkaian kisah mengenai Lutung Kasarung terjadi. Asumsi yang berasal dari kisah turun temurun di dalam masyarakat itu juga dikuatkan oleh peninggalan masa lampau yang berupa naskah kuno, seperti Naskah “Carita Parahyangan” dan Naskah “Carita Parahyangan Sakeng Jawa Kulwan”.

Naskah-naskah yang telah berusia ratusan tahun tersebut mengemukakan bahwa Sang Manisri adalah sosok penting yang pernah hidup di masa lalu. Carita Parahyangan menyebutkannya sebagai tokoh yang “dijieun Buyuthadén Rahaséa, di Puntang”. Lebih jelas dari itu, Carita Parahyangan Sakeng Jawa Kulwan menarasikan Sang Manisri sebagai Guru Minda atau Lutung Kasarung. Menurut naskah tersebut, “…haba pwa sang manisri//sinebut juga lawan ngaran sang guru minda…”.

Dengan demikian, sementara ini, kita dapat mengasumsikan bahwa nama Palutungan yang melekat pada salah satu dusun yang ada di Desa Cisantana, Cigugur, tersebut, tidak semata-mata hanya karena di daerah itu terdapat habibat lutung saja. Namun juga terabsahkan oleh peninggalan-peninggalan konkrit yang berasal dari masa lampau, seperti naskah kuno (manuskrip) dan (mungkin) situs-situs yang ada disana.

Tentu saja upaya untuk membuktikan hal itu bukan perkara mudah, karena diperlukan studi yang lebih intensif dan komprehensif, agar narasi serta kisah yang beredar mengenai panggung sejarah yang bernama Palutungan tersebut benar-benar dapat teruji secara ilmiah.***

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Palutungan dan Cerita Lutung Kasarung Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan