728x90 AdSpace

Update
5 Desember 2019

Menelisik Kekuatan Ide Andri Suandani dalam “Senja Di Penghujung November”


Resensi Buku

oleh: Drs. Dodo Suwondo, M.Si.


Judul buku      : Senja Di Penghujung November
Pengarang       : Andri Suandani
Penerbit          : Media Edukasi Indonesia
Tahun terbit    : Cetakan I, Mei 2019
Tebal buku     : 197 hlm.

Kali ini, Andri Suandani kembali meluncurkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Senja Di Penghujung November“. Buku ini menyuguhkan lima belas cerita dengan kisah yang tentu saja berbeda di setiap ceritanya.

Kumpulan cerpen “Senja Di Penghujung November“ secara tidak langsung tentu akan membuat calon pembaca tertarik untuk menikmatinya. Yang paling berpengruh terhadap minat untuk membacanya adalah judulnya yang cukup sederhana namun seksi, hal ini cukup menarik perhatian baik untuk kalangan remaja maupun dewasa, termasuk aman pula dibaca kalangan anak-anak.

Diantaranya lima sebelas cerita, ada 3 cerita yang secara khusus didalami. Hal tersebut sengaja agar lebih efisien dalam memberikan penilaian, di samping objektivitas. Ketiga cerita itu adalah (1)“Senja Di Penghujung November“ (SDPN), (2) “Namaku Joni, Hati-hati Denganku!” (NJHD), dan (3) “Hape Untuk Raja“ (HUR). 

“Senja Di Penghujung November“ mengisahkan tiga sahabat antara Hanif, Ujang, dan Atikah. Perjalanan pulang Hanif dari Yogyakarta menuju Kuningan yang merupakan kampung halaman bapaknya─dipenuhi dengan berbagai memori. Hal tersebut karena Hanif meninggalkan Kuningan kurang lebih 15 tahun pindah ke Yogyakarta, kampung halaman ibunya. Satu persatu terkuak pengalaman masa kecil Hanif bersama dua sahabatnya. Hanif masih mengingat sendau guraunya, masih ingat pertengkaran kecil seperti umumnya anak-anak, bermain bersama-sama, dll. Demikian pula ingatan akan suguhan nasi goreng ibunya Atikah, sampai mengingat mereka bertiga mandi di kali.

Adapun kepulangan Hanif ke Kuningan adalah untuk menghadiri undangan pernikahan putrinya Mang Didi, pamannya, adik misan bapaknya. Namun sesampai di Bandorasa, Kuningan, Hanif mendapat berita menyedihkan, karena ternyata sahabat masa kecilnya─Ujang meninggal karena kecelakaan. Ujang sendiri meninggalkan seorang putri yang tidak sempat dilihatnya, yang ternyata ibu dari anak (Fatimah) tersebut adalah Atikah. Pada akhir cerita disebutkan bahwa Hanif menggantikan Ujang sebagai bapaknya Fatimah.

Pada “Namaku Joni, Hati-hati Denganku!”, dikisahkan bahwa seorang indigo bernama Joni. Konon Joni dapat melihat mahluk lain selain manusia. Mahluk gaib yang menurutnya menjelma seperti manusia biasa. Oleh karena itu kadang-kadang orang lain menganggapnya mempunyai penyakit aneh, karena sering senyum-senyum sendiri. Selain itu Joni selelu mengetahui apa yang belum diketahui, seperti misalnya ketika mengantar ayahnya ke alamat tukang pijat di Desa Gardu. Keanehan lainnya ialah, Joni pun seperti memiliki kekuatan lain.

Kata-katanya sering terbukti, seperti punya kekuatan mengutuk. Hal itu dibuktikan ketika ada seorang pengendara motor lewat di depan rumahnya secara ngebut dengan knalpotnya yang bising. Karena Joni jengkel maka ia mengatakan bahwa orang itu sebentar lagi akan mati. Benar saja tak jauh dari rumahnya pengendara motor tersebut bertabrakan dengan sebuah mobil─dia mati seketika.

Pada akhir cerita, dia sempat sakit hati oleh tetangganya yang bernama Teh Enok. Saat masih kecil Joni jatuh, terperosok pada jurang kecil kira-kira 2 meteran tingginya. Oleh Teh Enok Joni dibiarkan begitu saja, bahkan melarang teman-teman lainnya menolong. Maka supata pun keluar. Selama itu tak terjadi apa-apa pada Teh Enok begitu pun keluarganya. Namun setelah sekian lama hal yang sama (kecelakaan) terjadi kepada Kang Dadang, suami Teh Enok. Kang Dadang terjatuh dari pohon kelapa mertuanya saat memanen. Lukanya sama persis dengan luka Joni ketika jatuh ke jurang, bedanya nyawa Kang Dadang tak tertolong─dan pada saat orang-orang mengerubuni mayat Kang Dadang, ada seseorang yang tersenyum pada Joni dengan wajah sama persis dengan Kang Dadang.

Adalah kisah mengharukan tapi pula membanggakan. Itu terdapat pada cerita “Hape Untuk Raja“. Cerita ini mengisahkan seorang anak bernama Raja, anak Mang Njum. Dia menginginkan hape namun apa daya keinginan tersebut belum terlaksana, karena kemampuan ekonomi Mang Njum yang tidak memungkinkan ─ sementara Mang Njum hanyalah seorang kuli di pasar. Raja juga seorang yang rajin dan tekun pada pelajaran, ia pun ikut pula latihan bela diri, karate. Raja mendapat kecelakaan kecil saat latihan, ia keseleo sehingga jari kakinya terkilir.

Kala itu Raja akan ikut pertandingan karate, sehingga kesembuhan dengan cepat sangat diharapkan. Karena keinginan dan semangat yang kuat akhirnya Raja ikut pula pertandingan. Dari semangat itulah akhirnya Raja berhasil menjadi juara. Keberhasilan Raja tersebut berbuah hasil baginya. Disamping mendapat piala kejuaraan dan tentunya uang pembinaan, Raja pun dapat hadiah hape dari Mang Njum (bapanya) atas bantuan Aku (tokoh) yang memberikan keringanan cicilan pembayarannya.

*****
Ilham yang didapatkan oleh Andri Suandani menjelma menjadi topik dan tema, lalu dikembangkan dengan gagasan-gagasan yang sangat mengagumkan. Kekuatan ide tersebut terletak di berbagai unsur. Andri tidak hanya menguasai nilai-nilai intrinsik cerpen, akan tetapi nilai ekstrikpun terpenuhi. Alur ceritanya begitu sederhana, tidak berbelit-belit. Kalimat-kalimat sederhana, singkat, namun padat tertampak di awal kisah.

Seperti dalam Senja Di Penghujung November, Andri melukiskan bagaimana prilaku Aku─yang kemudian ternyata Hanif─tokoh utama, dalam bis ketika hendak melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Kuningan. Digambarkannya─setelah Hanif mendapatkan tempat duduk yang nyaman, bayang Hanif ke masa lalu─masa ketika bapaknya masih hidup. “... Hanif, kapan-kapan pulanglah ke Kuningan. Masih ada saudara-saudaramu di sana. Berkunjunglah. Temuilah paman bibimu di sana, adik-adik sepupumu ...” (Andri Suandani, SDPN, 2019 : 1)

Dalam awal kisah tersebut digambarkan pula mengapa ayahnya lebih memilih bermukim di kampung halaman istrinya─ibu Hanif, di Bantul, Yogyakarta, bagaimana pula kedekatan saudara-saudara bapaknya di Kuningan. Lalu apa tujuan Hanif pulang ke Kuningan. Setelah Hanif mendapatkan tempat duduk yang nyaman selanjutnya kenanganlah yang berbicara. Kenangan masa kecil, masa pada usia 10 tahunan, pada 15 tahun yang lalu. “... Cahayanya bias menembus kaca-kaca jendela bis. Kubuka gorden jendela bis lebar-lebar. Sengaja kubiarkan cahaya mentari masuk menerpa wajah. Hangat. Aneh tiba-tiba saja aku teringat 15 tahun lalu. Aku teringat pada Atikah, yang selalu membuka gorden rumahnya lebar-lebar membiarkan cahaya mentari masuk mari enerpa wajah kami. ...” (Andri Suandani, SDPN, 2019 : 1)

Kesan imajinatif dalam mengangkat ide Andri sangat sempurna sehingga seperti sebuah paparan pengalaman pribadi penulis itu sendiri. Bukan hanya pada “Senja Di Penghujung November“, dalam “Namaku Joni, Hati-hati Denganku!” pun demikian. Andri mengangkat ide dengan menceriterakan seotang indigo bernama Joni. Hasil observasi yang Andri tuangkan benar-benar mengagumkan. Joni berwatak sederhana dan tidak angkuh, Bukan hanya kemampuan melihat mahluk gaibnya saja, namun juga penglihatan batinnya yang luar biasa. Joni pun memiliki kekuatan berucap yang bisa kena kepada siapa saja. Sepertinya memiliki kemampuan bersumpah serapah kepada orang lain. ─ Tak terasa ada sedikit marah pada Teh Enok atas ketidaksolidaritasannya meninggalkan aku yang terperosok celaka ke jurang kecil tadi. “Ah suatu saat kapang-kapan kau atau siapa orang dekatmu akan mengalami menyakitkan sepertiku, ...” (Andri Suandani, NJHD, 2019 : 75)

Lain Joni lain pula Raja, tokoh bocah dalam kisah “Hape Untuk Raja“. Raja adalah anak Mang Njum, dari keluarga yang standar ekonominya berada di bawah. Mang Njum sendiri hanya mengandalkan pendapatan sebagai kuli di pasar. Akan tetapi sebagai bocah pada umumnya tentu memiliki keinginan yang sama dengan anak-anak lainnya─itu manusiawi. Diceritakan pula bahwa adalah seorang anak yang rajin, tekun, tak mudah menyerah, selalu semangat, dan memiliki daya juang yang kuat. Hal tersebut digambarkan ketika ia memutuskan untuk tetap ikut pertandingan karate sekalipun kakinya masih sakit akibat kecelakaan waktu latihan.

Dari tiga sampel cerpen dalam kumpulan cerpen “Senja Di Penghujung November“, paling tidak Andri menyuguhkan tiga ide yang berbeda. Gambaran cinta kasih, saling menyayang, saling menghargai terdapat dalam “Senja Di Penghujung November“, yang juga merupakan watak tokoh utama, Hanif. Sekalipun cerpen ini bukanlah kisah percintaan antara dua insan berbeda jenis─karena memang pengisahan masa kecil Hanif bersama dua sahabatnya, namun naluri manusia untuk saling menyukai sudah nampak: “ ... Tapi kadang aku canggung juga jika bertemu dengan Atikah hanya berdua saja tanpa Ujang. Kami canggung untuk bercakap-cakap. Biasanya kami hanya berdiam saja. Sukar untuk memulai obrolan. Sekonyong-konyong kami bertatapan. Gugup dan menunduk kembali. Kalau sudah begitu wajah manisnya Atikah terlihat memerah.” (Andri Suandani, NJHD, 2019 : 7). Inilah keunggulam Andri dalam mengekspresikan kejiwaan dan perasaan─tak tersurat, namun tersirat.

Adapun Joni, dilukiskan pleh Andri sebagai seorang anak yang mempunyai kelebihan. Dan, kelebihan itu adalah anugrah dari Tuhan. Yang paling penting dalam tokoh ini, bahwa Joni ditokohkan tidak dalam bentuk prestasi ataupun sikap sosial seperti dalam “Senja Di Penghujung November“, akan tetapi Joni ditokohkan sebagai seorang anak yang selalu mengalah dan rendah hati. Joni bukan pemberani, akan tetapi tidak berarti dia penakut. Dalam “Namaku Joni, Hati-hati Denganku!”, Andri mengamanatkan bahwa Tuhan adalah maha segalanya, rwemasuk memberikan kelebihan kepada seseorang (manusia), maka hal ini perlu disyukuri. Dalam “Hape Untuk Raja“, Andri mengajak pembaca untuk meneladani sikap keteladanan dari seorang Raja─anak Mang Njum yang hanya berpendapatan sebagai tukang kuli pikul di pasar. Raja anak penyabar, punya semangat tinggi, serta tekun. Dia selalu optimis, tidak mudah patah semangat.

Yang istimewa dari kumpulan cerpen “Senja Di Penghujung November“ adalah bahwa Andri dapat mewakili cerpenis asal Sunda, sama seperti cerpenis asal Jawa dan Melayu. Ini yang jarang ditemui di cerpen-cerpen pengarang asal Sunda yang lebih suka ke arah modern total, mulai dari nama tokoh, makanan, super market, dan lain-lain. Pada Andri tidak demikian.

Kesimpulan cerpen-cerpen ini sangat bagus karena bisa membuat pembacanya penasaran dan semua makna ceritanya sangat mendalam, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari “Senja Di Penghujung November“, bahasanya tidak berbelit-belit, sangat mudah dimengerti, dan ceritanya dapat diterima di semua umur.

Setelah membaca buku kumpulan cerpen “Senja Di Penghujung November“ karya Andri Suandani, sangat berdampak positif terhadap pembacanya dan banyak sekali hikmah yang bisa diambil, selain itu bisa menjadikan kita sadar dalam menjalani hidup ini. Kelebihan lainnya yang paling menonjol di dalam buku ini adalah judulnya yang sederhana tapi bagus, judul tersebut seperti mendeskripsikan isinya. Cerita yang bukan Islami, akan tetapi ternyata isinya sangat berkarakter.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. Akupun punya cerita di penghujung November...
    Allah buka semua,,
    Inilah takdirku..
    Terimakasih Yaa Raab, Kau tegur aku...

    BalasHapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menelisik Kekuatan Ide Andri Suandani dalam “Senja Di Penghujung November” Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan