728x90 AdSpace

Update
15 Maret 2020

Corona Virus, Tidak Usah Panik tapi Jangan Menyepelekan!

oleh : Coach Ari (FB. Ari M. Ridwan) ( IG; @Ari M. Ridwan)
(Trainer Amco / Leadership Trainer / Kepala Bagian Pembinaan Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam / Konsultan Permasalahan Pelajar dan Pemuda / Trainer Muda Kuningan / Mahasiswa Semester Akhir Pasca Sarjana Uniku Prodi Magister Manajemen / Instruktur Senam Kebugaran / Penulis Buku “Kembali Kepada Fitrah” )

Virus Corona atau 2019 Novel Coronavirus adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. 

Mulai dari presiden, gubernur, bupati, walikota, dan kepala sekolah sudah menyampaikan himbauan dan kebijakan dalam menangani dan mengantisipasi penyebaran virus ini. Virus yang bisa menular dengan cepat, salah satunya melalui udara dan sentuhan.

Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh tentang virus ini karena sudah banyak dibahas di media cetak ataupun elektronik, tapi lebih kepada mengambil hikmah dan usaha antisipatif dari kejadian ini. Saya yakin bahwa disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Kenikmatan dan ujian adalah cara Alloh memuliakan manusia. Memuliakan manusia dengan menguji keimanan mereka. Apakah ketika diberikan kenikmatan bisa lebih beriman? Dan apakah ketika diberikan ujian, tetap akan beriman?

Menurut saya, wabah Corona ini adalah teguran, teguran sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Teguran agar segera menghentikan segala bentuk kemaksiatan. Teguran agar bisa lebih meningkatkan keimanan.

Menurut syekh Sudais (salah satu imam Masjidil haram) bahwa penyebab kematian karena wabah Corona hanya 1%, tapi 100% manusia bisa meninggal setiap saat, meskipun tidak ada wabah apapun. Ya, jarak antara kita dan kematian memang sangat dekat. Tidak harus menunggu sakit dan tidak harus menunggu tua. Bahkan, menurut Umar bin Khattab malaikat maut, sehari lewat di depan kita sebanyak 70 kali. Jika kata Alloh, berhenti. Maka, selesailah jatah kita untuk hidup di dunia ini.

Tapi bukan berarti kita menyepelekan wabah ini. Jadi teringat kisah yang diceritakan dalam buku tentang khalifah Umar bin Khattab ra karya Syaikh Ali Ash Shalabi. Tepatnya Tahun 18 H. Hari itu Khalifah Umar bin Khattab ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam.
Mereka berhenti didaerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yg akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan.Dialog yang hangat antar para sahabat, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah.. 

Umar yang cerdas meminta saran muhajirin, anshar, dan orang2 yg ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat. Bahkan Abu Ubaidah ra menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT?

Lalu Umar ra menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing dan ada 2 lahan yg subur dan yg kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yg lain.

Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf ra mengucapkan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah.. Umar ra merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yg dikaguminya, Abu Ubaidah ra. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Namun beliau adalah Abu Ubaidah ra, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya.

Umar ra pun menangis membaca surat balasan itu. Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat2 mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha'un dinegeri Syam.

Total sekitar 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini..

 Amr bin Ash berkata, "Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan menempat di gunung-gunung." Mereka pun berpencar dan menempati gunung2. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar..

Lalu, belajar dari bagaimana orang-orang terbaik itu bersikap. Maka inilah panduan dan kabar gembira ditengah kesedihan ini untuk kita semua. 
1. Karantina. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas. Maka itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah..
2. Bersabar. Karena Rasulullah SAW bersabda, "Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari dan Ahmad)
3. Berbaik sangka dan berikhtiarlah. Karena Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya." (HR. Bukhari). Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya.
4. Banyak berdoa. Salah satu do'a yang bisa kita baca adalah, "Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim." (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Karena Rasul Saw, pernah bersabda, "Barang siapa yang membaca dzikir tsb 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
5. Sebagaimana solusi dari Amr bin Ash untuk berpencar. Menjaga jarak dr keramaian dan menahan diri untuk dirumah. Cara inilah yang banyak ditiru dunia luar, mereka menyebutnya 'social distancing'.

So, dengan adanya wabah ini tidak usah terlalu panik dan jangan juga menyepelekan. Tetap ikuti himbauan yang ada, senantiasa menahan diri, dan selalu mendekat kepada illahi. Mari kita sikapi datangnya Pandemi Convid-19 ini secara rasional dan terukur, tidak abai tapi juga tidak lebay.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Corona Virus, Tidak Usah Panik tapi Jangan Menyepelekan! Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan