728x90 AdSpace

Update
10 Maret 2020

Shinkansen dan Argolawu


oleh : Coach Ari (FB. Ari M. Ridwan) ( IG; @Ari M. Ridwan)
(Trainer Amco / Leadership Trainer / Kepala Bagian Pembinaan Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam / Konsultan Permasalahan Pelajar dan Pemuda / Trainer Muda Kuningan / Mahasiswa Semester Akhir Pasca Sarjana Uniku Prodi Magister Manajemen / Instruktur Senam Kebugaran / Penulis Buku “Kembali Kepada Fitrah” )

suarakuningan - Perubahan yang terjadi sekarang ini semakin cepat. Itu semua hampir terjadi di semua lini kehidupan. Tidak hanya di tempat kerja tapi juga sampai ke lingkungan keluarga. Tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa tapi juga anak yang masih balita.

Di tempat kerja, komputerisasi membuat banyak pegawai di PHK (pemutusan hubungan kerja). Di lembaga pendidikan, ujian Nasional tulis berubah menjadi ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Di keluarga, peralatan masak sudah mulai dianggurkan karena go food sudah menjadi pilihan.

baca juga:

Pencil and Blank Sheet


Perubahan-perubahan tersebut memang menjadi momok menakutkan bagi seorang pemimpin yang merasa semuanya bisa berjalan, jika dia ada (one man show) dan tidak mau memberdayakan bawahannya. Lambat laun perusahaan/lembaga apapun yang dipimpinnya akan keteteran (kewalahan) menghadapi perubahan yang ada. Kalaupun bisa mengimbangi perubahan, sudah bisa dipastikan prosesnya akan lambat.

Beda halnya dengan pemimpin yang terus berusaha memberdayakan bawahannya. Perubahan-perubahan apapun yang terjadi, tidak membuat ide dan kinerjanya mati. Karena ada atau tidak ada dia, pekerjaan tetap terlaksana dengan baik.

Karena proses pemberdayaan yang dilakukan, membuat bawahannya yang memiliki potensi muncul dan mampu menjalankan pekerjaan pimpinan yang didelegasikan kepadanya. Sebagaimana Tom Peater pernah mengatakan, "Leaders don't create followers, they create more leaders (Para pemimpin 'sesungguhnya' tidak menciptakan pengikut, tapi menciptakan para pemimpin lainnya)."

Ketika seorang pemimpin fokus memberdayakan, maka fokus pemimpin adalah membantu bawahan. Jika bawahan merasa terbantu, maka tanpa diminta bawahan pun akan segera membantu ketika pemimpinnya terlihat membutuhkan bantuan.

Jika membaca kondisi di atas, saya jadi ingat kalimat yang disampaikan oleh pak Jamil Azzaini (Inspirator Sukses Mulia) yang mengibaratkan bahwa ada pemimpin seperti kereta Argolawu yang ada di Indonesia dan ada pemimpin yang seperti kereta cepat Shinkansen yang ada di Jepang.

Beliau mengatakan bahwa, pemimpin yang menganggap dirinya adalah segalanya, seperti kereta Argolawu, membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam dari stasiun pasar Turi di Surabaya ke stasiun Gambir di Jakarta.

Beda halnya dengan kereta cepat Shinkansen, yang hanya membutuhkan waktu 2 jam saja untuk menempuh jarak yang sama yang ditempuh oleh kereta Argolawu (pasar Turi-gambir). Kenapa bisa seperti itu? Karena kereta Argolawu, lokomotifnya hanya satu (di depan saja), sedangkan kereta Shinkansen lokomotifnya ada di setiap gerbong.

Jika diibaratkan leader itu seperti lokomotif, maka lokomotif terdepan adalah leader utama yang mampu memberdayakan lokomotif/leader disetiap gerbongnya.

Oleh karena itu, di era perubahan ini  jadilah pemimpin Shinkansen bukan pemimpin Argo Lawu.
Kuncinya, berdayakan orang lain!

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Shinkansen dan Argolawu Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan