Hot News
9 Agustus 2020

Curhatan Cermin Tentang Bermedia Sosial

Mungkin saya salah satu orang yang bisa dikatakan ‘so’ dengan isu-isu terkini. Pasalnya, ketika ada berita atau isu-isu yang menyentak hati saya—pasti saya utarakan isi hati tersebut melalui pelbagai jejaring media sosial: status Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter. Entah kenapa acap kali saya mendengar atau membaca pelbagai berita dan isu adrenalin saya terdorong untuk melontarkan apa yang hendak saya sampaikan yang sebenarnya ‘isu dan berita’ tersebut bukanlah bidang saya.

Pertanyaan “Apakah saya salah?” kerap mendatangi tatkala saya terbangun dari tidur saya atau ketika saya lagi sendiri. Kemudian membuka akun media sosial saya dan membaca kembali postingan-postingan yang pernah saya tulis dari waktu ke waktu. Isinya, tidak ada yang salah tetapi saya merasa bahwa apa yang saya utarakan itu selalu di skak mat oleh sebagian hati saya dengan pertanyaan “Buat apa”. Sementara sebagian hati saya yang lain mendukung saya untuk menulis apa yang tengah saya pikirkan atau apa yang hendak saya sampaikan. 

Tak terkecuali ketika saya berkunjung ke pelbagai tempat: café, wisata, atau tempat-tempat lain yang dirasa memiliki nilai estetika—kerap menjadi konten untuk saya unggah di pelbagai media sosial. Jujur, setiap kali saya posting apapun—saya merasa hal yang saya lakukan itu memiliki keganjilan, ada yang ganjil. 

Dalam satu hari saya menghabiskan waktu di dalam media sosial setara dengan manusia tidur malam, 8 jam. Ya, delapan jam saya menghabiskan waktu di ruang itu. Apa yang saya dapatkan? Saya hanya mendapatkan informasi si A sudah ke sini, si B sudah makan ini, si C punya masalah ini, si D kerja di perusahaan anu, dan si E jadian sama si anu. Begitu. Selebihnya dihabiskan: main, tidur, baca buku (Cuma beberapa paragraf), dan menulis (kalau lagi mood). 

Berlama-lama mengunjungi media sosial membuat saya merasa: tertekan, kurang percaya diri, dan resah. Saya berbicara jujur, tidak tahu dengan teman-teman sekalian. Apakah mungkin memiliki perasaan yang sama?

Terlepas sama ataupun tidak saya selalu ada untuk teman-teman. Bisa jadi saya sama dengan teman-teman. Teman-teman bisa melihat saya dan saya juga biasa melihat teman-teman: lekuk tubuh, wajah, nama, gaya bicara, dan mungkin sesuatu yang tabu disebut. 

Akhirnya, setelah saya mempertimbangkan dan mengevaluasi diri saya sendiri selama satu minggu, saya memutuskan untuk menjadi ‘diri saya sendiri’ di media sosial.


Perkenalkan, nama saya cermin.


Penulis: Yazi Tarina

IG: Yazi Tarina

Sumber Gambar: Pixabay


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Curhatan Cermin Tentang Bermedia Sosial Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan