728x90 AdSpace

Update
11 Mei 2021

Ramadhan Mulai Menepi

oleh KH. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI

Penulis Buku Kurma (Kuliah Ramadhan), dan Kepala Divisi HRD Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat 


Waktu berjalan begitu cepat berlalu. Tidak terasa bulan Ramadhan semakin menepi dan akan meninggalkan kita. Harap dan cemas itulah perasaan yang menggelayuti hati setiap orang yang beriman. Karena sejatinya orang yang beriman itu tidak ingin berpisah dengan Ramadhan. Namun, apa dikata, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Siap bertemu berarti siap berpisah.


Harapan bagi seorang mukmin, menjadi pribadi yang berjiwa Rabbani, jiwa yang selalu terbimbing oleh Allah SWT untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diwariskan oleh para nabi dan rasul. Jiwa yang selalu merasakan pengawasan-Nya dalam seluruh aktifitas kehidupan.


Menjadi manusia yang berakhlak qurani, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan kurikulum kehidupan. Jiwa yang mampu menjiwai apa yang dibaca dan ditadabburi dari Al-Qur’an selama Ramadhan, berlemah lembut kepada sesama muslim dan bersikap tegas kepada musuh-musuh Islam.


“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud …” (Q.S. Al-Fath [48]: 29).


Kecemasan bagi mukmin akan amaliyah selama Ramadhan berbuah petaka, yakni kesia-kesiaan tanpa pahala. Selama bulan Ramadhan, merasa belum maksimal dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap amalan ibadah Ramadhan. 


Khawatir akan puasanya yang hanya sekadar berbuah lapar dan dahaga. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan dahaga.” (H.R. Thabrani).


Khawatir akan qiyamullailnya yang hanya sekadar menghasilkan rasa lelah dan kantuk. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang mengerjakan qiyamullail hanya mendapatkan bergadang dan rasa lelah saja.” (H.R. Ahmad).


Dan, khawatir keluar dari bulan Ramadhan justru malah tidak diampuni dosa-dosa kita. “Sungguh terhina dan rendah orang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya).” (H.R. Tirmidzi).


Tanpa disadari, air mata mengalir begitu deras melintasi pipi, dan berlinang meninggalkan sembab. Lantas, menghela nafas sangat dalam penuh makna, begitu cepat waktu berlalu, akankan kesempatan ini terulang pada tahun yang akan datang? 


Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat mengakhiri Ramadhan dengan indah, dan melanjutkan kebiasaan baik yang dilakukan selama Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya. Amin.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Ramadhan Mulai Menepi Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan