728x90 AdSpace

Update
12 September 2021

Adat Istiadat dalam Pertanian Masyarakat Sunda (Bagian 2 dari 3 Tulisan)

Oleh: Drs. Dodo Suwondo, MSi ( FB. Hyang Purwa Galuh ) 

(Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kuningan)

Sebelumnya: Bagian 1


Cara lain meminta hujan sebenarnya sudah ada sejak zaman pra-Islam, dan sampai sekarang pun masih ada yang melakukannya. Bedanya pada zaman sekarang sudah mengalami akulturasi budaya, antara budaya lokal dengan Islam sebagai agama. Ritus-ritus meminta hujan tersebut adalah babangkongan di Desa Cigarukgak, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, benta-benti di Desa/Kecamatan Ciwaru, dan cingcowong di Desa Luragunglandeuh, Kecamatan Luragung.

Untuk sekedar memperkenalkannya, berikut ini gambaran dari salah satu ritual meminta hujan yang bernama cingcowong.

Cingcowong berasal dari kata “cing” dan ”cowong”. Kata “cing” dalam Kamus Bahasa Indonesia-Sunda, Sunda-Indonesia memiliki arti yang sama dari kata ”cik”, yang berarti coba dalam bahasa Indonesia. Kata ”cowong” dalam bahasa Indonesia berarti biasa berbicara keras. Jadi dari segi bahasa Cingcowong memiliki arti biasa berbicara keras. Dalam pengertian lain, Cingcowong berasal dari kata “cing” yang berarti “coba teguh” (dalam bahasa Indonesia sama dengan meminta untuk diterka; ditebak) dan “cowong” merupakan kepanjangan dari kata “wong/uwong” yang dalam bahasa Jawa berarti ‘orang’. Maka dengan demikian jika disatukan kata “Cingcowong” di tersebut  memiliki arti: ”coba terka siapa orang ini”. Mengapa dinamakan demikian? Karena bahasa yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat Desa Luragung Landeuh waktu itu merupakan campuran antara bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sunda Buhun, karena desa dan kecamatan Luragung merupakan Desa/Kecamatan ketiga terujung di Kabupaten Kuningan setelah Kecamatan Cibingbin dan Cibeureum yang termasuk wilayah timur laut Jawa Barat yang berbatasan dengan kabupaten Brebes di Jawa Tengah.

Peristiwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya upacara ini adalah terjadinya kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan sehingga berdampak pada menurunnya penghasilan masyarakat yang mayoritas adalah petani. Hal ini sesuai dengan cerita yang dituturkan Ma Nawita (pewaris, generasi ke-4 dari Rantasih), dan cerita lisan masyarakat Luragung pada umumnya, bahwa kehadiran Cingcowong disebabkan oleh suatu keadaan yang mendesak dan darurat. Pada masa lalu di daerah Luragung pernah terjadi kemarau yang panjang sehingga para petani menjadi resah. Sawah dan ladang para petani banyak yang gagal panen akibat dilanda kekeringan.

Pada situasi sulit tersebut, Nenek Rantasih yang juga dikenal Nenek Asti, yang merupakan leluhur Ma Nawita mengajak kepada masyarakat sekitar untuk berusaha mengatasi keadaan yang dialami. Ia kemudian mengajak masyarakat untuk mencari sumber mata air, tetapi usahanya gagal karena masyarakat yang sudah terlanjur putus asa tidak mau memenuhi ajakannya. Walaupun demikian Nenek Rantasih tidak berputus asa, ia tetap berupaya meyakinkan masyarakat agar mau mengikuti ajakannya. Nenek Rantasih mempunyai keyakinan bahwa hujan akan cepat turun jika disiasati dengan permohonan kepada Tuhan.

Pada saat Nenek Rantasih mengalami kesulitan mengumpulkan masyarakat untuk bersama-sama berdoa, muncul gagasan untuk memukul ceneng berulang kali hingga masyarakat berkumpul. Upaya tersebut ternyata cukup berhasil. Nenek Rantasih kemudian menyampaikan petunjuk yang datang pada saat tirakat, yaitu dengan cara tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Adapun cara meminta hujannya adalah dengan melakukan upacara ritual melalui media Cingcowong, yang divisualkan dengan bentuk boneka.

Upacara ini dipimpin oleh seseorang yang dinamakan Punduh. Dalam hal ini Punduh adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus di bidang agama atau kepercayaan setempat yang diperolehnya karena inisiatif sendiri, dan dianggap memiliki kecakapan khusus untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan supernatural. Sejak tahun 1981 sampai sekarang, upacara Cingcowong dilakukan Ma Nawita, cucu dari Nenek Rantasih (Nenek Asti) yang merupakan generasi keempat dari Nenek Rantasih. Proses pewarisan punduh Cingcowong dilakukan secara turun temurun. Menurut Ma Nawita, seorang punduh dipilih bukan karena kedekatan atau telah direncanakan terlebih dahulu tetapi berdasarkan panggilan batinnya atau atas dasar bisikan gaib. Kemudian calon punduh yang terpilih akan diwariski mantera pemanggil hujan serta tata cara pemanggilan hujan. Calon punduh tersebut juga diwajibkan terlebih dahulu melakukan tirakat sebelum dibekali kemampuan menjalankan tradisi ritus Cingcowong sebagai Punduh.

Pertunjukan Cingcowong dipergelarkan oleh 6 orang personil yang memiliki tugas masing-masing, diantaranya: (1) Ma Nawita sebagai Punduh, beliau adalah satu-satunya Punduh (kuncen) Cingcowong di Kabupaten Kuningan, Punduh merupakan pemimpin upacara ritual Cingcowong yang dengan kemampuannya dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai orang yang dapat mendatangkan hujan melalui perantara─boneka Cingcowong; lalu pembantu punduh yaitu (2) Ma Hj. Itit dan (3) Nining Waskini mereka bertugas membantu Punduh Nawita dalam memegang boneka cingcowong; (4) Ibu Warsinah memainkan alat musik yang berupa ‘buyung’ yang biasa dipakai sebagai alat penyimpan air terbuat dari tanah liat, dan hihid sebagai alat penambuhnya. (5) Ibu Kaseh memainkan alat musik berupa ‘bokor’ atau ‘ceneng’ yang biasa dipakai sebagai pas bunga terbuat dari bahan tembaga/kuningan, dan (6)  Ibu Wartinah berperan sebagai Sinden.

Adapun peralatan yang biasa dipergunakan untuk upacara yaitu: (1) Tarajé atau tangga yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk membawa atau menyambut turunya arwah lelembut atau dalam peribahasa untuk menyambut turunnya bidadari; (2) samak saheulay atau tikar yang terbuat dari anyaman pandan, yang berfungsi sebagai alas tempat duduk pagelaran tersebut; (3) sisir dipergunakan untuk menata rambut boneka Cingcowong pada saat upacara berlangsung; (4) cermin yang difungsikan sebagai alat bagi punduh untuk memperlihatkan bentuk dan raut wajah boneka Cingcowong kepada para bidadari yang akan memasuki tubuh boneka Cingcowong; (5) kembang samoja (bunga kamboja) yang dicampur dengan air yang dipergunakan sebagai saweran pada sesi terakhir upacara Cingcowong. Saweran bunga kamboja dengan air ini ditujukan sebagai media pemancing turunnya hujan; (5) boneka Cingcowong yang terbuat dari batok kelapa yang dilukis menjadi putri cantik dengan badan terbuat dari bubu yang rangkaian bambu yang dianyam (alat menangkap ikan) yang diberi baju dan sampur (selendang) serta diberi kalung yang terbuat dari bunga kamboja.

Selain alat utama prosesi upacara Cingcowong, terdapat pula alat-alat pengiring yang berfungsi sebagai alat musik pada pagelaran Cingcowong, diantaranya:  (1) cenéng (bokor) yang terbuat dari kuningan; (2) buyung yang terbuat dari tanah liat untuk pengatur irama yang dipukul dengan hihid atau ilir (kipas) yang terbuat dari bambu yang dianyam merupakan yang dipergunakan untuk memberikan efek suara pada buyung; (1) ruas bambu ukuran kurang lebih 20 cm dengan diameter kurang lebih 1 cm yang pergunakan untuk memukul ceneng kuningan untuk mengiringi irama buyung. 

Bersambung ke Bagian 3
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Adat Istiadat dalam Pertanian Masyarakat Sunda (Bagian 2 dari 3 Tulisan) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan