728x90 AdSpace

Update
12 September 2021

Adat Istiadat dalam Pertanian Masyarakat Sunda (Bagian 3 dari 3 Tulisan)

 Oleh: Drs. Dodo Suwondo, MSi ( FB. Hyang Purwa Galuh ) 

(Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kuningan)

Sebelumnya: Bagian 2

Pertunjukan upacara tradisi Cingcowong tidak dapat dilepaskan dari tahap persiapan ritualnya. 

Berikut ini tahapan persiapan yang harus dilakukan oleh seorang Punduh sebelum dilaksanakannya upacara Cingcowong: Pertama; boneka didandani dengan cara memberi pupur (bedak) dan memolesi bibir boneka dengan lipen setip serta mengenakan rarangkén atau asesoris berupa kalung yang terbuat dari manglé kembang samoja (untaian bunga kemboja) serta mengenakan baju model kebaya warna kuning dan melilitkan sabuk dari kain katun warna putih, juga mengenakan anting-anting di bagian telinganya. Kedua; mempersiapkan aneka sesajen yang terdiri dari: parukuyan lengkap dengan kemenyan, telur asin, tumpeng kecil atau biasa disebut congcot, surutu (cerutu), gula watu, aneka penganan kue, kembang rampé tujuh warna, dan lain-lain seperti yang sudah dikemukakan di atas. Ketiga; membawa boneka Cingcowong dan aneka sesajen ke parit (comberan) terdekat dan menyimpannya di tepi comberan tersebut selama satu malam. Dengan mengucapkan sejumlah mantra-mantra untuk memanggil belis (jurig) jarian dan belis (jurig) comberan, di dalam comberan tersebut punduh kemudian meminta para halus tersebut untuk masuk ke dalam boneka cmenyediakan peralatan yang akan digunakan pada waktu upacara, seperti: taraje (tangga yang terbuat dari bambu), tikar, ember berisi air bunga rampai tujuh macam, kaca atau cermin kecil, sisir dan kemenyan beserta anglo untuk membakar kemenyan tesebut. Seluruh peralatan ini kemudian dikumpulkan di tempat yang aman di dalam rumah. Nawita melakukan puasa selama tiga hari atau minimal satu hari sebelum upacara dilaksanakan.


Tahap Pelaksanaan Upacara Cingcowong

Para penabuh alat memainkan alatnya yaitu ibu Warsinah memukul-mukul buyungnya dengan menggunakan hihid atau kipas yang terbuat dari anyaman bambu, dan ibu Kaseh memukul-mukul bokor dengan menggunakan dua buah ruas kayu sepanjang masing-masing 40 cm, mengiringi sinden yang bernyanyi.

Adapun syair Cingcowong sebagai berikut:

Cingcowong-cingcowong

bil guna bil lemayu

shalala lala lenggut

lengguté anggédani

aya pangantén anyar

aya pangantén anyar


lili lili pring

dénok simpring ngalilirong

mas borojol gédog

mas borojol gédog


li lilir guling, 

gulingé sukma katon

gélang-gélang layoni

layoni putra Ma Ukun

maukung mangundang déwa

aning Déwa anging sukma

widadari lagi teka

widadari lagi teka


jak rujak ranti

kami jungjang kami loko

pajulo-julo, pajulo-julo

temu bumi ring mandiloko


Di tengah ruangan Ma Nawita memangku boneka masuk arena dan berjalan diantara anak tangga tarajé diikuti oleh Itit dan Waskini secara beriringan dari ujung awal sampai ujung akhir taraje bolak balik selama tiga kali. Kemudian Nawita duduk ditengah-tengah tangga sambil tetap memangku boneka. wajah boneka Cingcowong diperlihatkan ke arah cermin kecil yang dipegangi oleh Waskini yang duduk menghadapi boneka sambil memegangi sabuk yang dikenakan boneka. Setelah selesai memperlihatkan muka boneka melalui kaca, selanjutnya Nawita memegang sisir yang digerakkan di atas kepala boneka seolah-olah sedang menyisiri rambut.

Di sampingnya duduk Itit sambil ikut memegangi sabuk yang dikenakan boneka karena boneka sudah mulai bergerak mengikuti alunan lagu, semakin lama boneka semakin bergerak ke arah kanan, kiri dan ke depan seperti tidak terkendali, tetapi tetap dipegang oleh ketiga orang tersebut. Boneka Cingcowong ini mulai bergerak setelah kalimat terakhir dari lagu tersebut diucapkan.

Boneka ini selain bergerak bisa juga mengejar penonton yang tidak percaya bahwa Cingcowong tersebut telah dirasuki arwah lelembut, bahkan bisa juga mengejar-ngejar karena suka pada seseorang dan pada orang-orang yang mengolok-olok, misalnya dengan kata-kata: “Cingcowong cingcowong, hulu canting awak bubu” (Cingcowong cingcowong kepala canting badan bubu). Kemudian air dan bunga kemboja yang telah dipersiapkan dalam wadah diciprat-cipratkan kepada para penonton sambil mengucapkan kata-kata :

Hujan …!

Hujan …!

Hujan …!


Diolah dari berbagai sumber


*****


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Adat Istiadat dalam Pertanian Masyarakat Sunda (Bagian 3 dari 3 Tulisan) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan