Puisi: Tersesat



Vera Verawati


Sepasang kaki langit menancap di pintu gerbang, menanti langkah-langkah menapaki jalanan berlumut. Sisa-sisa longsoran meninggalkan bebatuan yang bisu oleh kerusakan dan ketidakseimbangan di sana, di satu tempat yang kau sebut pembaharuan.


Sekelompok orang datang membawa misi, mengantar tubuh yang konon berpenghuni, jalannya kadang lurus, kadang tergopoh-gopoh. Meski yang lainnya lekas membantu, tak terhindar pandangan berpapasan.


“Mata itu bukan miliknya,” bisikku dalam hati


Lewati saja, mendahului langkah mereka yang datang untuk ritual. Menjadikan kegelapan sebagai tempat meminta kesembuhan. Sedang satu sosok tersembunyi terkekeh penuh kemenangan. 


Deras air terjun sayup terdengar, meski masih berjarak, gemuruhnya menggetarkan tipisnya iman. Kubasuh kedua kaki di kejernihan air yang mengalir, surau itu tetap teduh dikerimbunan, meski sebagian tikar telah lusuh, dipakai bersujud satu dua orang.


Desis binatang melata di balik bebatuan, pamerkan bisa yang siap disemburkan, burung-burung berkicau nyaring seolah sedang berpesta, atau sebaliknya. Meratap menangisi setiap tumbangnya satu pohon kehidupan.


Lagi-lagi bersitatap, tapi kali ini terlihat normal. Pandainya berpura-pura, tanpa disadari yang terusir itu tak pernah pergi, tetap mendampingi, mengangguk hanya sesaat saja, meninggalkan karena beda kekuasaan.


“Tersesatnya manusia,” seringainya penuh kemenangan


“Tuhanmu sudah jelas mengabarkan kegagahan-Nya.” 


Pada air kau menyanyanjung, pada sagara kau memuja, pada harta kau berdewa, pada tahta itulah kuasa yang maha. Hingga tak mampu membeda siapa senyata yang patut disembah.


Sedang daun-daun menunduk pada satu, semua penghuni rimba bersaksi tak pernah mendua, bahkan penghuni langit menjerit dalam dzikir pada sang pemilik takdir. 


“Sungguh tiada daya dan kekuatan, selain karena pertolongan-Nya.”


Perjalanan itu menjadi hening, angin seolah enggan meniupkan tasbih pada hati yang jelas telah fasik. Hari ini ada beberapa yang tersesat, entah kemarin dan entah hari esok, berapa banyak lagi yang datang untuk ritual.


Kuningan, 180522


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Tersesat"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.