Oleh Mardiyah
staf Pengajar di Pesantren Al-Mustanir Kuningan
Catatan kelam kejahatan yang dilakukan pelajar membuat kita heran, gemetar dan shok. Tercatat pelaku tindak kriminal (pembunuhan) mulai siswa SMK, SMP bahkan SD. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial JN 9 tahun di kabupaten Musi Rawas Utara/Muratara menusuk pelajar MTs, RI 13 tahun dengan gunting sampai meninggal (detik.com 10/8/2025).
Dulu kita mengenal berita pembegalan dilakukan oleh para pembegal professional yang sehari-harinya membegal. Sekarang pembegalan itu dilakukan anak SMP. Dilaporkan 5 anak SMP melakukan pembegalan terhadap sopir truk berusia 67 tahun di Penjaringan Jakarta. Mereka melakukan aksinya dengan berbagi peran, mengancam dengan clurit, memecah kaca jendela, dan memukul kepala korban (beritasatu.com 5/8/2025).
Kenapa para pelajar menjadi mahir dalam hal kejahatan? Apakah mereka tidak faham kalau bertindak kriminal itu dosa dan berdampak hukum? Ataukah peran orang tua dan guru dalam mengajarkan kebaikan tidak berpengaruh pada perilaku mereka? Atau ada hal lain yang menyebabkan mereka bertindak brutal.
Potret Kegagalan Pendidikan Sekuler
Pelajar remaja hari ini cenderung emosional, lemah dalam hal pengendalian diri. Mereka suka bertengkar bahkan sampai menghilangkan nyawa. Apa yang dipikirkan remaja kita? Selain itu banyak juga remaja terlibat tawuran, terlibat narkoba maupun pergaulan bebas.
Itulah kondisi remaja/pelajar kita saat ini. Yang demikian itu juga merupakan kegagalan sistem pendidikan kapitalis dalam mendidik pelajar remaja. Pendidikan hanya fokus mengejar nilai akademik, tanpa memperhatikan akhlak.
Sistem ini tidak mampu mencetak siswa berkepribadian Islam. Tidak mampu menanamkan ketakwaan pada pelajar.
Kapitalisme memiliki akidah sekuler artinya memisahkan agama dari kehidupan. Bisa difahami kalau anak remaja memiliki akhlak yang buruk karena agama dianggap tidak layak mengatur kehidupan. Agama dipakai hanya di ranah privat, sementara untuk urusan kemasyarakatan digunakan aturan manusia. Padahal aturan manusia tidak mampu menyelesaikan masalah.
Remaja kita saat ini, tidak faham kalau dirinya seorang muslim, yang harus terikat dengan hukum syara. Mereka juga tidak memahami untuk misi apa mereka hidup. Selain itu remaja kita kehilangan figur idola mereka. Diperparah dengan sistem sosial, dimana masyarakat enggan melakukan amar makruf nahi mungkar.
Islam adalah Solusi
Hampir semua remaja di negeri ini memiliki handphone. Peran orang tua sebagai pendidik utama remaja sudah tergantikan oleh handphone. Kekerasan, perkelahian, bullying, pembegalan yang dilakukan remaja terinspirasi dari media. Berbagai persoalan yang menimpa generasi membutuhkan penyelesaian yang tuntas. Yaitu sebuah sistem kehidupan yang shohih yang mampu memecahkan semua problematika manusia.
Sistem tersebut adalah institusi bernama daulah khilafah. Sebuah negara yang berideologi Islam yang menerapkan Islam secara totalitas. Menjadikan setiap muslim berada dalam perlindungannya. Ketika daulah khilafah tegak maka persoalan manusia apapun Islam punya solusinya.
Syariah Islam mewajibkan negara sebagai raain dan junnah. Raain artinya penanggung jawab urusan rakyat, sedangkan junnah artinya ada pelindung rakyat dari berbagai bahaya yang mengintai rakyat. Misalnya bahaya siber, pemerintah akan melakukan pengaturan media sehingga hanya tayangan yang baik saja yang diizinkan tayang.
Disamping itu sistem pendidikan Islam dibawah daulah khilafah mampu menjadikan generasi muda/remaja berkepribadian Islam.
Gambaran generasi Islam di jaman daulah khilafah digambarkan sebagai berikut;
Beriman dan Bertakwa Mereka memiliki iman yang kuat dan takwa kepada Allah SWT, serta berusaha untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya;
Berakhlak mulia, mereka memiliki akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, sabar, dan kasih sayang, serta berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi orang lain;
Cerdas dan berpengetahuan, mereka memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang agama Islam, sains dan teknologi. Para ilmuwan di jaman itu adalah orang yang memahami fiqih, Al-Qur'an serta ahli dalam kedokteran, matematika dan lain-lain. Mereka digelari polymate artinya menguasai berbagai ilmu pengetahuan;
Peduli dengan Masyarakat, mereka peduli dengan masyarakat dan berusaha untuk membantu orang lain, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan;
Tangguh dan Berani, mereka memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan, serta tidak takut untuk menghadapi tantangan dan kesulitan. Tercatat dalam sejarah banyak syuhada dari kalangan muda seperti Mus'ab bin Umair, Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh
dan Mu'awwadh bin Afra, keduanya adalah sahabat yang masih sangat muda (anak-anak) yang menunjukkan keberanian luar biasa;
Berbudaya Islam, mereka memiliki budaya Islam yang kuat, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan melakukan amalan-amalan sunnah lainnya.
Khotimah
Masyarakat di daulah khilafah adalah masyarakat terbaik yang hadir di bumi.
Masyarakat beriman bertakwa yang selalu melakukan amar makruf nahi mungkar, baik kepada sesamanya atau kepada pemerintah jika pemerintah melakukan penyimpangan hukum syara. Budaya yang baik ini terbentuk karena negara punya visi Baldatun Thoyyibatun warobbun Ghofur. Didukung juga oleh peran orang tua yang berperan menjadi penjaga keluarga dari siksa api neraka.
Allah berfirman dalam
surat Ali Imran ayat 110
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
Wahai kaum muslimin, saatnya kita kembali pada aturan Allah yang diridhai dan mensejahterakan. Yaitu menegakan kembali daulah khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Wallahu 'alam bishowab.
0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.