728x90 AdSpace

Update
10 Desember 2016

Keluarga Prihatin yang Menginspirasi Masyarakat


suarakuningan.com - Kerja hanya serabutan, bahkan sesekali saja membantu di sawah atau ada yang menyuruh kerja, tak membuat ayah Ammar (mahasiswa pejalan kaki 8 km) mematikan semangat. 



Anak pertama, Aas didorongnya terus hingga di atas rata-rata sekolah masyarakat, Desa Kadatuan tahun 2000 an. Dimana umumnya masyarakat masih banyak lulusan SMP saja, Aas berhasil lulus SMA.

Anak kedua, Titin hanya sampai SD, sedangkan Ammar kini berjuang menapaki semester demi semester di Uniku meski tanpa uang saku.

Ketiga kakak beradik ini sekolah tanpa uang saku bahkan seringkali tanpa sekedar untuk ongkos kendaraan umum. Alhasil, jalan kaki menjadi "tradisi" keluarga ini untuk meraih harapan.

Tokoh masyarakat, para pemuda dan para orangtua di Desa Kadatuan merasa tergugah motivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA. Bahkan beberapa telah mengikuti jejak keluarga prihatin ini untuk menempuh kuliah.

Awalnya, masyarakat merasa "janggal" dengan "kenekatan" pasangan Abdul Khalim dan Rumanah dalam menyekolahkan anak-anaknya.

Betapa tidak, masyarakat sekitar mengetahui sulitnya ekonomi keluarga pak Nu (panggilan Abdul Halim). Jauh dari mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya.Dua adik Ammar, kelas 5 SD dan Balita telah belajar untuk mengikuti jejak para kakaknya. Mereka bekerja membantu pekerjaan orangtua yang disuruh oranglain, untuk sekedar uang sekolah dan uang saku.

"Saat mendapatkan rutilahu, saya sempat bingung karena sama sekali tak memiliki dana untuk memperbaiki rumah. Akhirnya siang hari saya pasang bata demi bata, dan malamnya mengaduk dan dibantu anak-anak dan istri. Makanya jangan kaget, kang, kalo liat tiang kayunya masih ada, hehehe. maklum kami tidak sampai membongkar total rumahnya," kisah ayah Ammar.

Tapi semangat, doa dan upaya keras ternyata tak membohongi hasil. Aas meski membiayai sendiri kuliah dari mengamen, meski harus kandas menggapai mimpi jadi sarjana di STAI, karena hasil mengamennya mentok tak mencukupi untuk biaya sidang.

Keluarga ini sedikit "bernafas lega", karena putri satu-satunya mereka telah mendapatkan jodoh dan diboyong sang suami ke luar kota. Sedangkan Ammar, meski harus berjalan kaki Hantara - Ciniru untuk sampai di pemberhentian angdes Ciniru - Kuningan, rela tinggal bersama "bapak angkat", Ade Rukman, Guru SMAN 1 Ciniru yang juga pernah menjadi pembina OSIS saat Ammar masih sebagai siswa di SMAN 1 Ciniru.

"Saya bersedia mengajak Ammar tinggal di rumah, karena Ammar anaknya soleh, rajin, gampang diminta membantu apapun. Terlebih di rumah kami ada Perpustakaan Islam Desa. Selain kami memiliki anak-anak yang masih kecil sudah akrab pada Ammar," ujar Ade Rukman saat ditemui di SMAN 1 Ciniru.(dan)

Baca :

Demi Cita-cita, Ammar Rela Berjalan Kaki 8 Km untuk Ngampus


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Keluarga Prihatin yang Menginspirasi Masyarakat Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan