728x90 AdSpace

Update
1 Mei 2018

Cerpen: Penantian


Karya. Mirna W

                Kau tahu sejak pertama melihatmu, hari itu aku langsung merasakan ada sesuatu hal yang aneh. Melihatmu berbicara lugas didepan banyak orang membuatku kagum dan menyukaimu saat itu juga. Tapi pemikiranku membuat ku stak untuk tak menanyakan siapa dirimu. Cukup dengan melihatmu saja itu bisa membuat tenang.

Kelas kita hanya berselisih satu ruangan saja, sehingga aku bisa leluasa melihatmu dari sebrang kelasku. Kau tak pernah melihatku walaupun kita berpapasan sepanjang waktu, tapi tak mengapa karena aku hanya ingin melihatmu saja.

               Tak pernah aku merasa seperti ini terhadap yang lain, kau lain dari perempuan kebanyakan. Entahlah walaupun kau tomboy dan sederhana, tapi aku menyukaimu. Kau jutek dan cuek terhadap orang yang tak kau kenali. Namun kenapa? Karena tak ada alasan aku menyukaimu.

Jurusan kita berbeda dan jadwal kuliah pun berbeda sehingga aku kadang tak pernah melihatmu. Tapi aku bisa bertemu denganmu setiap hari minggu karena kita satu Club olahraga. Kau hobi olahraga dan itu membuat aku makin menyukaimu.

Melihatmu bermain saja cukup untuk membuatku senang. Aku tak tahu kau sudah mempunyai seseorang atau tidak, jika kau mempunyai seseorang semoga saja kau bahagia bersamanya. Aku hanya ingin menyukaimu dengan diam tanpa siapapun tahu termasuk dirimu. Cukup aku melihat wajahmu untuk membuatku semangat sepanjang waktu.

                  Karena kita satu Club olahraga, ternyata sosial mediamu ada di grup Club. Aku berpikir matang-matang untuk menyimpan nomormu itu, tapi nanti jika kuhubungi apa kau mau membalasnya atau tidak?
Ternyata kau membalasnya, tapi menyebutku penguntit karena aku mengirim foto dirimu tanpa sepengetahuanmu. Aku hobi memotomu kapanpun dan ekspresi seperti apapun, karena aku pikir kau itu lucu. Aku tersenyum bahwa kau mau membalas pesanku rupanya.

Waktu berlalu, satu semester ini aku masih menyukaimu, tapi kenyataan pahit itu datang, kau ternyata sudah menjadi pacar seniorku dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi waktu itu. Aku tak mau merusak hubungan kalian dan sebaiknya aku melupakanmu saja waktu itu. Semoga kau bahagia dengan seniorku itu dan langgeng selamanya, lebih baik aku pergi saja tanpa mengganggu kamu lagi.

                 Berbulan-bulan lamanya kau masih dengan seniorku itu, kadang aku juga melihat kalian mesra di kampus. Dan ternyata aku masih belum melupakanmu, karena ketika kau bersamanya aku merasakan sakit. Aku juga tak tahu lagi nomormu, karena grup Club olahraga juga sudah tidak aktif lagi. Setiap minggu pun aku tak pernah melihatmu lagi. Jadwal kuliah kita juga berbeda, sehingga aku tak bisa lagi melihatmu sepanjang waktu.

Tiga semester kemudian, aku tahu bahwa kau sudah tak berhubungan lagi dengan seniorku itu. Kau diselingkuhi oleh dia dan aku merasakan apa yang kau rasa, aku tak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Semoga kau bisa kembali bahagia walaupun sudah dikhianati seperti itu. Aku tahu kau perempuan kuat yang mampu menghadapi itu semua dan terbukti baru dua bulan berpisah dengan seniorku kau sudah memiliki pacar lagi. Dan itu membuatku untuk tak menginginkanmu untuk bersamaku. Aku tak bisa mendekatimu, karena aku ingin kau bahagia bukan denganku.

                    Hari itu Fakultas kami mengadakan acara ulang tahun terbentuknya Fakultas, dan aku tahu bahwa dirimu masuk ke dalam panitia. Walaupun kau mempunyai seseorang tapi aku juga akan ikut panitia itu. Setiap rapat aku akan selalu melihat dirimu, kau memang cantik dan pintar sehingga ditunjuk sebagai penanggung jawab acara ini, biarkan aku menjadi bawahanmu dan mendengarkan arahanmu.
Hari itu aku mendengar arahanmu, dan kita bersama-sama mengecat keperluan dipanggung. Aku bahagia saat itu, kau terlihat bahagia dan riang sekali.

“Kau haus tidak, kebetulan aku mau ngambil air minum?” tanyaku hati-hati padamu, kau melirikku dan tersenyum lalu hanya sebuah anggukan untuk aku tahu bahwa kau juga haus.

Dengan semangat aku mengambil air untukmu, dan kita duduk bersama sambil melihat yang lain bekerja. Sungguh hari yang cerah dan aku tak ingin hari ini berhenti ketika bersamanya.

                  Hari ulang tahun Fakultas diadakan dari sore sampai malam hari dan itu sangat ramai sekali mahasiswa. Aku melihatmu memakai pakaian yang indah, kau nampak cantik dan anggun. Setelah acara pembukaan, aku tak berani mendekatimu tapi aku malah mengobrol dengan temanmu saja. Tapi kau memanggilku untuk menemanimu mengambil barang diluar. Aku dengan senang hati menerima ajakanmu itu. Kita ngobrol sebentar, tapi kau begitu jutek sekali, sehingga aku serba salah mengobrol denganmu.

                 Beberapa hari setelah acara ulang tahun Fakultas, aku sering melihatmu di kampus akhir-akhir ini. Sama saja kau memang orang yang jutek dan cuek.

Aku memberanikan diri untuk menghubungimu, walaupun kau punya seseorang. Aku akan tahan banting sekarang apapun yang akan kau lakukan padaku.

Dan kita mulai komunikasi walaupun kau masih belum tahu siapa diriku. Orang yang dulu menguhubungi dan dibilang penguntit olehmu, aku menjadi tengil ketika berkomunikasi denganmu dan kau juga berbeda dengan apa yang kulihat, kau ramah dan suka bercanda. Aku tahu kau sudah memiliki pacar tapi aku tahu kau juga tak bahagia dengannya sekarang. Kau merasakan bahwa dia adalah cinta yang salah.

Kau memutuskan untuk berpisah dengan pacarmu dan kita masih berkomunikasi sampai saat ini.

Dan aku tak pernah bermimpi bahwa kau sekarang selalu ada di sisiku. Terima kasih.***

Tentang Penulis:
Saya hanyalah seorang gadis yang lahir dua puluh tahun silam, yaitu hari minggu 29-12-96, bercita-cita menjadi seorang guru dan penulis. Nama  lengkap saya Mirnawati, saya lebih suka ketika di setiap karyanya tertera nama Mirna W. Saya tinggal dikota Kuningan,  Jawa Barat, email saya Mirnabasyasya@gmail.com dan FB Mirna Cloew dan Ig saya @Mirna7643. Terima kasih.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Penantian Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan