728x90 AdSpace

Update
18 Mei 2018

Berupaya Mencapai Tujuan Puasa

Ceng Pandi 

suarakuningan.com - Hadis yang sering diperingatkan kepada orang yang rajin berpuasa adalah hadis riwayat Ibn Majah, yaitu, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus”. Hadis ini memperingati supaya siapapun yang berpuasa harus dilandasi dengan penuh kesungguhan.

Hadis itu mengisyaratkan bahwa selama ramadhan, bahkan setiap memasuki bulan Ramadhan, umat islam hanya memindahkan waktu makan dan minum dari siang ke malam hari.  Atau, setiap Ramadhan umat islam justru lebih suka berbondong-bondong mencari makanan untuk dinikmati saat berbuka, daripada memaknai puasa supaya bisa mencapai tujuan yang disyariatkan. Karena kebiasaan itu, upaya atau tujuan puasa untuk “supaya bertakwa” justru terlupakan.

Kemudian, hadis itu juga mengisyaratkan tentang umat islam yang berpuasa tetapi dengan puasanya ia tetap tidak bisa menjaga ucapan. Masih suka melontarkan kata-kata keji, masih suka berbohong, masih memaki orang lain, masih menggunjing,  masih sering marah, dan masih melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Padahal idealnya, semua perbuatan tercela itu harus hangus terbakar oleh kehusuan berpuasa.

Berbuka puasa dengan serba-serbi menu makanan seolah sudah menjadi tradisi dan kewajiban yang harus disediakan oleh ibu rumah tangga. Meski tidak terjadi di setiap keluarga, tetapi kebiasaan itu umum terjadi ketika memasuki bulan puasa. Alasannya beragam, salah satunya yaitu sebagai bentuk jamuan terhadap mereka yang berpuasa. Tak peduli, ongkos belanja yang harus dikeluarkan selama bulan puasa lebih besar dari sebelas bulan lainnya.

Padahal menurut Nurcholis Madjid dalam Dialog Ramadhan Bersama Cak Nur, pokok ibadah puasa adalah pengingkaran jasmani dan ruhani secara sukarela dari sebagian kebutuhannya, khususnya dari kebutuhan yang menyenangkan seperti pakaian, makanan, dan hubungan seksual. Meski pengingkaran itu hanya dilakukan di siang hari, bukan berarti harus ada upaya “balas dendam” di waktu malam atau pascasebulan puasa saat hari raya ‘id.

Pengingkaran jasmani dan ruhani secara sukarela tersebut dilakukan dalam rangka mematuhi perintah-Nya. Melalui puasalah umat islam diminta meninggalkan segala keinginan alamiah yang sesungguhnya secara hukum, baik makanan, minuman, hubunagn suami istri maupun kebutuhan lainnya, halal dan diperbolehkan. Tapi perlu digaris bawahi, karena semata sedang menjalankan perintah dan mengharap ridho-Nya, maka umat muslim secara sukarela menahan kehendaknya itu.

Proses menahan kehendak itu dinilai juga sebagai pendidikan ruhani. Puasa menjadi sarana dalam belajar ikhlas, tulus, berserah diri kepada ketentuan-Nya, dan output lain dari jiwa-jiwa yang suci. Idealnya, dari jiwa yang suci dan terdidik karena khusu berpuasa itu harus lahir sifat-sifat baik yang memanifestasikan nilai-nilai islam seperti disebutkan tadi. Karena menurut Caknur, puasa adalah penghayatan nyata akan makna firman-Nya dalam Quran Surat Al-hadid ayat 4, bahwa “Dia (Allah) itu bersama kamu di manapun kamu berada, dan Alah itu maha melihat segala sesuatu yang kamu perbuat.”  Dari kesadaran itulah kemudian lahir landasan ketakwaan yang membimbing setiap orang pada tingkah laku yang baik dan terpuji.

Jadi siapapun yang sedang berpuasa tetapi masih berbuat atau berkata yang tidak baik, tidak bisa menahan hasrat kesenangannya, maka ia termasuk orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus. Ia tidak memperoleh manfaat dari puasa, yang menurut Muhammad Abduh, sebagai proses mencapai ketakwaan.

Menurut Abduh, dalam Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh Masalah Aikidah dan Ibadah Rif’at Syauqi, supaya umat islam terbebas dari kesia-siaan itu, harus mulai menghindari puasa yang dilakukan secara formalitas dan ikut-ikutan karena orang lain berpuasa. Siapapun semestinya harus melandasi puasanya berdasar iman dan kesadaran penuh dalam artian mengerti dan memahami tujuan disyariatkannya berpuasa serta mengetahui hikmah dan manfaat puasa bagi kemaslahatan hidup. Karena hakikatnya, petunjuk quran tentang puasa bukan dimaskudkan untuk memberi rasa lapar dan dahaga melainkan untuk mendidik dan membina jiwa supaya bersih dan bertakwa. Wallahu’alam.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Berupaya Mencapai Tujuan Puasa Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan