728x90 AdSpace

Update
18 Mei 2018

Secarik Kisah Bungkirit, Sisi "Lain" dari Keindahan


Dikisahkan oleh Kang Asep (pengelola Bukit Bungkirit 2006 – 2017) sekarang bertugas di Kebun Raya Kuningan (KRK)

suarakuningan.com - Pada saat ini nama Bungkirit sudah tidak asing lagi dan merupakan salah satu obyek daya tarik tempat untuk dikunjungi.

Dulu pernah didiami oleh keluarga Belanda sebelum masa kemerdekaan.

Sejak beberapa tahun bukit Bungkirit telah ditetapkan menjadi kawasan Hutan Kota.

Penataan telah dilakukan dengan daya tarik kesejukan alam,  menuruni anak tangga yang menantang dan jembatan besi.

Baca: Bukit Bungkirit dan Keluarga Belanda Sekalit (1920-1935)

Nama Bungkirit dimungkinkan dari suku kata bunker hal ini di kaitkan pada daerah tersebut ada nama blok tangkis, konon jaman dahulu bukit tersebut tidak serimbun sekarang karena dahulu tempat tersebut biasa ditanami dengan tanaman semusim.

Di sebelah ujung timur pada bukit tersebut dahulu berdiri sebuah menara tempat pemantauan.

Di dunia sejarah di Bungkirit merupakan tempat peternakan kuda yang diternakan oleh seorang pegawai pabrik yang bernama schareg maaf kalau salah ketik dan peternakan kudanya cukup berkembang.

Dalam dunia mistis yang saya alami sejak tahun 2007 lumayan banyak diperbincangkan oleh beberapa orang yang diantaranya bahwa lokasi yang sekarang menjadi hutan kota adalah dibangunnya tempat kepramukaan.

Konon lagi menurut yang pernah piket apabila malam hari sering terjadi beberapa keanehan-keanehan.

Sejak 2010 tepatnya 28 oktober pas malam jumat kliwon saya merasa tertantang dan keingin tahuan informasi tersebut.  Siang hari merupakan salah satu momen sejarah dilaunchingnya Hutan Kota Bungkirit untuk dimanfaatkan selanjutnya oleh masyarakat umum.

Memang benar pada sore hari pas adzan magrib saya melihat beberapa ekor ular hitam mendekat ke titik atas dimana saya berdiri. Perasaan takut menghantui namun rasa penasaran makin kuat.  Pada saat magrib saya memutuskan untuk pulang dahulu mengambil wudlu dan sholat dan malam harinya kemabli lagi langsung tidur bertemankan lilin di bungkirit.

Ujian demi ujian secara perlahan datang juga selain siang hari melakukan pembenahan pada malam hari melakukan patroli keliling lokasi.

Saya hanya berkomitmen dalam diri saya tidak akan mengganggu dunia mereka.

Telah banyak orang yang mengingatkan kepada saya untuk tidak meneruskan mengelola tempat hal ini karena menurut mereka beraura tidak baik.

Salah satu aura yg tidak baik adalah menginginkannya korban dan entah korban seperti apa.

Telah saya lakukan dengan berbagai cara agar tantangan mereka saya jaga dan diantaranya saya lakukan pada saat itu bertasbih dan membaca ayat kursi yang dilakukan setelah sholat magrib sambil keliling menurut garis batas,  tahlilan dan meminta bantuan kepada orang lain yg lebih paham.

Ya Allah do'a saya mohon diberi keselamatan lahir dan bathin hal ini disebabkan pada saat itu fisik badan ada yang terserang.

Ada hal yg menarik selain beberapa orang yg mengabadikan berfoto namun ada objek lain yang terfoto.

Hari demi hari saya lalui dan hampir setiap malam saya selalu tidur di bungkirit,  kejadian yang kadang diluar nalar saya abaikan karena sudah terbiasa.

Hal lain yang menarik adalah soal ular berfisik warna hitam.
Ular tersebut telah lama saya ketahui dan pernah suatu saat dia diam di depan pintu, kalaupun diusir pada saat tertentu datang lagi.

Ada beberapa kejadian terkadang ular tersebut seakan menghilang dari pandangan hanya dg sekejap mata kejadian tersebut diantaranya pernah disaksikan oleh beberapa orang ketika ular tersebut mau di pindahkan malah menghilang ntah kemana.

Ada pula kejadian ular tersebut berada pada langit langit kamar tempat saya tidur.

Tantangan terberat melaksanakan tugas mengelola hutan kota Bungkirit adalah menjaga sistem sosial hal ini dikarenakan banyak oknum yng memanfaatkan berkunjung untuk berbuat tidak senonoh padahal menurut saya itulah permintaan salah satu penghuni dunia lain yaitu babah kong atau biasa disebut babah mangkok meminta korban.

Ada hal yang sulit saya lepaskan dari tubuh saya khususnya pada sebuah tangan, apabila ada kejadian orang berbuat tidak senonoh di bagian tanganku terasa sakit.

Saya hanya menafsirkan bahwa itu mah hanya paktor kebetulan saja yaaaa.

Bungkirit oh bungkirit telah menampulkan sejuta pesona,  mengungkapkan berbagai cerita, suka dan duka, materi,  tenaga serta pikiran yang telah saya korbankan semua untuk menciptakan keselarasan antara manusia dengan alam.***
Wallahu 'alam.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Secarik Kisah Bungkirit, Sisi "Lain" dari Keindahan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan