728x90 AdSpace

21 Mei 2019

Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Para lelaki yang Tetap Bertahan)

Sebelumnya: Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Diam)

***
Perang tidak pernah berakhir
Hari ini tentang cinta
Hari esok tentang harapan
Kau harus bertahan


Asap rokok bercampur kabut di kaki gunung. Lelaki kurus ringkih berjaket lusuh turun dari motor suzuki butut. Duduk diteras sunyi dengan segelas kopi dan gudang garam filter. Semua harus terlihat sempurna, lalu Matahari perlahan semakin tinggi.

    Ramadan bergegas meluncur dengan motor bisonnya menuju kedai Waja Kopi. Beberapa hari ini begitu sibuk mengikuti undangan dan pertemuan di hotel. Hidup harus terus bergerak supaya berjumpa dengan rupa-rupa kesempatan. Diam bukanlah pilihan disaat kebutuhan-kebutuhan harus tercukupi.

    Sore itu, kedai baru saja dibuka, ketika seorang pemuda tambun berkulit sawo matang memesan cappucino dan nuget. Kunci mobil dengan gantungan rosario disimpan di meja berdampingan dengan HP. Baru saja ia mengantar seorang PL melahirkan ke bidan. Ketubannya pecah dalam perjalanan dan berceceran di jok mobil grab yang ia miliki. Setengah mati membersihkannya kembali dari aroma amis yang menempel.

    Tuntutan ekonomi yang menggiurkan menjebaknya masuk dalam pusaran dunia remang yang pekat tanpa jalan keluar. Bila malam tiba, menjadi jadwal rutinnya untuk menjadi anjelo. Dari kontrakan-ke kontrakan, dari sudut-sudut kota tempat para penguasa menghisap madu secara sembunyi-sembunyi. Sebab di dunia nyata mereka harus tetap terlihat sebagai pahlawan.

    Hari ini, pemuda tambun itu baru saja mencuri babi dari kandang orang tuanya. Sudah lama ia tergila-gila perempuan PL  dan tinggal bersama. Demi semua itu, kadang ia harus menipu sahabat-sahabatnya dengan membuat banyak cerita. Hutang menumpuk seperti sumur-sumur tua yang menyimpan banyak dedemit dan genderuwo.






    Ramadan tetap bertahan menunggu, saat lelaki kurus ringkih berjaket lusuh turun dari motor suzuki bututnya. Eka langsung menyuguhkan segelas kopi susu sejagat disamping gudang garam filter yang tergeletak di meja. Malam semakin hening, tetapi jiwa semakin bising. Asap rokok memenuhi ruang, seperti kumpulan ruh yang bergentayangan. Bintang-bintang di langit saling berkedip. Saur masih beberapa jam lagi.

    “Apa kabar, Mang”? Eka menyapa sambil menyodorkan pisang panggang.

    “Kepalaku masih terasa sakit, di sini”. Jawabnya dengan mata terpejam.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Para lelaki yang Tetap Bertahan) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan