Iklan Google 728

25 November 2019

Mendidik Tidak Bisa Mendadak

Oleh : Coach Ari (Trainer Amco / Leadership Trainer / Konsultan Permasalahan Remaja / Trainer Muda Kuningan/ Mahasiswa Magister Manajemen UNIKU)

Dalam mutiara hikmah dikatakan, ”Aththoriqotu ahammu minal maddah, wal ustadz ahammu minaththoriqoh, wa ruhul ustadz ahammu min kulli syaiin.” (Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh (semangat) guru lebih penting dari semua itu). Sebab, dengan ruh tersebut guru mampu menghidupkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan sentuhan kasih, sayang, dan cintanya pada anak didik.

Guru sebagai pendidik merupakan gerbang awal dalam pembentukan kepribadian siswa, bagi terwujudnya manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Tentunya kata guru disini bukan hanya guru yang mengajar di kelas karena dalam membentuk kepribadian seseorang tidak bisa mengandalkan kepada guru yang mengajar di sekolah saja tapi juga harus ada kerjasama dengan guru yang mengajar di rumah (orang tua), sehingga menurut saya guru adalah orang yang senantiasa mengajarkan orang lain berupa kebenaran ataupun hanya sekedar wawasan atau pengetahuan yang baru. Oleh karenanya, siapapun berhak menjadi seorang guru.

Akan tetapi, jika melihat mutiara hikmah yang terdapat di paragraf  pertama, yang menyebutkan bahwa ruh (semangat) guru adalah hal yang lebih penting daripada metode dan materi, maka perlu adanya persiapan setiap akan menyampaikan kebenaran atau wawasan kepada orang lain. Karena bisa dipastikan jika orang menyampaikan sesuatu tanpa persiapan, maka yang didapatkan adalah rasa kurang percaya diri dan gugup sehingga ruh (semangat) pun tidak akan muncul.

Contoh, ketika kita ingin mengajarkan terkait pengembangan dan pembentukan kepribadian peserta didik, kita harus terlebih dahulu mengerti dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan. Salah satu caranya, kita bisa mempelajari terlebih dahulu tulisan Mahmud Samir al-Munir dalam kitabnya, Al-Mu’allimur Rabbani, yang menyebutkan tujuh pilar kesuksesan seorang guru, yaitu:

Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai. Jika seorang guru sudah bisa melakukannya, maka akan mudah bagi peserta didik, meniru apa yang sudah dilakukan oleh guru.

Kedua, ilmu yang terus berkembang. Guru yang enggan membaca lambat laun akan kekeringan wawasan seiring permasalahan yang muncul. Jika seorang guru rajin membaca buku, maka akan mudah mengintruksikan peserta didiknya untuk rajin membaca buku juga.

Ketiga, perencanaan yang rapi. Perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi, serta dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Ini mampu membuat pembelajaran lebih hidup, bervariasi, dan menyenangkan. Selain itu, guru pun akan lebih percaya diri ketika menyampaikan

Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai yang jernih airnya, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah, mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang subur akan ilmu.  Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin, seolah menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.

Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi tujuan pendidikan sesungguhnya, yakni menanamkan nilai-nilai luhur, mengembangkan potensinya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Karena kepemimpinan adalah tentang keteladanan.

Keenam, menjaga celah. Seorang guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”

Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi moral pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik.

Bila pilar-pilar di atas mampu diejawantahkan oleh guru di rumah atau di sekolah, maka tidak menutup kemungkinan pembentukan anak didik menjadi manusia seutuhnya (cerdas secara spiritual, emosional, dan intelektual) akan mudah terwujud. Dan sekali lagi untuk mewujudkannya seorang guru harus memiliki persiapan yang matang setiap kali akan memberikan pelajaran, sehingga ruh (semangat) guru bisa dioptimalkan. Karena MENDIDIK tidak bisa MENDADAK.

Selamat hari guru!
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Mendidik Tidak Bisa Mendadak Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan