728x90 AdSpace

Update
28 Februari 2020

Para Lelaki di Titik Minus

Menjaring Angin Di Kedai Kopi (3)

Bunga mawar merah rontok kelopaknya saat gerimis datang pagi itu. lelaki kurus paruh baya mendeang tubuhnya yang ringkih di depan tumpukan kayu keropos yang sengaja dibakarnya. Berkali terbatuk sambil menahan nyeri yang ada di kepala. Wajahnya pucat dan rambutnya sudah banyak memutih.

Gerimis semakin menjadi, tetapi api tidak kunjung padam. Seekor lalat masuk berenang dalam gelas kopi yang telah mendingin sedari tadi. Biarkan saja, jalani. Hidup tidak usah banyak pertanyaan.

Lebih dari sepuluh tahun, isterinya dipulangkan ke rumah orang tuanya. Cinta itu rumit, serumit benang kusut yang tidak mudah diurai, kecuali dengan merelakan untuk memotong sebagian alurnya. Semenjak peristiwa kecelakaan itu, hidup kembali ke titik nol. Dibebaskannya perempuan belahan jiwanya itu supaya memilih jalan, sehingga tidak terbeban dengan aral melintang yang sedang ditanggungnya. “Hidup masih panjang, kau jangan habiskan waktu bersamaku yang sedang sekarat ini. Pergilah untuk bahagia”. Tidak banyak lelaki macam itu. lelaki yang menjaring angin.

Tidak, bukan titik nol, melainkan di titik minus. Karena setiap lelaki yang berusaha kembali hidup, mereka memulainya dari masa yang jauh ke belakang. Dari masa lalu itu, dari tumpukan batu kehancuran dibangkitkannya ruh yang tertimbun supaya hidup kembali. Separuhnya tetap di sana, seperti nisan yang tidak bernama, tertutupi tebal daun-daun bambu yang gugur. Anak perempuan satu-satunya sudah tumbuh dewasa, dan biaya pendidikan tidaklah murah.

Sebatang rokok garpit dihisapnya dalam-dalam dengan terbatuk dan menahan nyeri kepala bekas kecelakaan mobil waktu itu. Asap mengepul, kayu terbakar dan menjadi bara, tersiram gerimis berubah arang kelam. Dibukanya payung berwarna biru untuk sembunyikan diri dari gerimis yang mulai terasa menusuk mata.

***
Lelaki bertubuh tambun yang wajahnya beroman kasar menyalakan rokok gudang garam merah sisa dua hari lalu. Duduk bersila di teras dalam rumah yang beralaskan karpet kusam, segelas kopi hitam baru saja dituang. Sesisir pisang raja dan setoples rengginang. Belasan tahun lalu, isteri pertamanya mati karena sakit yang diderita.

Semenjak itu matahari seperti tidak akan terbit kembali. Dicobanya bangkit lagi untuk memulai kehidupan yang baru, walau tidak akan pernah sama seperti dahulu. Luka akibat kehilangan membentuk lubang hitam besar dalam hati dan tertutupnya semua jendela. Tetapi lelaki tidak boleh menyerah kepada takdir yang digariskan para dewa.

Dengan berat diiputuskannyalah untuk menikah kembali dengan perempuan itu yang pernah dijumpainya di bawah pohon waru seberang jalan menuju rumah sisi kali kecil. Awalnya begitu bahagia, ada harapan baru terbit laksana srangenge sehabis badai. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca ketika diingatnya kembali, bahwa perjuangan hidup itu begitu berat. Keadaan ekonomi dan tuntutan masa depan keluarga, membawanya terbang ke negeri jiran untuk meraup uang. Dengan setia dikirimkannya rutin uang gaji hasil jerih payah itu ke rumah supaya anak dan isterinya tidak kelaparan.

Hanya saja nasib seperti roda yang selalu patah pada porosnya. Setelah bertahun-tahun menanggung rindu untuk pulang, rumah sudah terjual menjadi milik orang asing dan isterinya menghilang lari dengan lelaki lain. Semua menjadi gelap, gelap dan gelap.

Dibiarkan rambutnya menjadi rawig berantakan dengan pakaian kumal seadanya. Tidak ada lagi pagi, tidak ada lagi malam, karena sama saja. Tidak ada lagi semangat hidup. Waktu yang terus berjalan itu, henti di titik nol. Semua yang dilakukan seperti menjaring angin.

Tidak, bukan titik nol, melainkan di titik minus. Di situlah lelaki berubah menjadi gila, kehilangan kewarasan ketika yang diperjuangkannya menjadi percuma. Terlebih karena, “kau meninggalkan aku”. Hancur sudah.

Cahaya kecil yang masih tersisa hanya satu, menatap anak-anaknya tumbuh dewasa. Segila apa pun seorang lelaki, hidup dan matinya akan diberikan supaya anak-anaknya memiliki masa depan. “Kalian hiduplah, tapi jangan seperti aku”.

Dari hp yang tergeletak di lantai, terdengarlah musik mengalun: ”Malam-malam aku sendiri, tanpa cintamu lagi....hanya iman di dada yang membuatku mampu selalu tabah menjalani.....”


Penghujung akhir Februari 2020
Ki Pandita


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Para Lelaki di Titik Minus Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan