728x90 AdSpace

Update
18 Februari 2020

Terjebaknya Perempuan dalam “Mitos Kecantikan”, Sadarkah ?

Penulis : Sri Melynda “Srimel InsGen”
Mahasiswa yang tidak “Maha” di Universitas Islam Al-Ihya Kuningan.

suarakuningan - Perempuan merupakan makhluk yang ingin terlihat cantik dan sempurna di depan semesta. Karena itu berbagai upaya dilakukan agar dirinya bisa mencapai kecantikan yang telah menjadi standar dewasa ini. Standar kecantik menurut perempuan Indonesia seperti mengutip data dari ZAP Beauty Index 2020 yang bekerja sama dengan MarkPlus Institute dengan melakukan metode  online survei kepada 6.420 responden perempuan yang tersebar di 35 kota pada Juli hingga Desember 2019. Dari data yang diperoleh sebanyak 46.7% mendefinisikan cantik yaitu memperindah penampilan secara keseluruhan.

Namun yang pasti, memiliki kulit cerah atau Glowing menjadi definisi cantik menurut pandangan perempuan Indonesia, data yang diperoleh sebanyak 82.5%. Melihat data tersebut tidak mengherankan jika saat ini penggunaan produk kecantikan wajah sedang menjadi trend diberbagai kalangan, karena ingin mencapai standar kecantikan yang sempurna yaitu memiliki kulit glowing.

Makna kecantikan direduksi sedemikian rupa, sehingga menimbulkan mitos kecantikan. Menurut Naomi Wolf mitos kecantikan merupakan upaya  masyarakat patriarcal Society untuk mengendalikan perempuan melalui kecantikannya. Hal ini kemudian memberikan anggapan bahwa penampilan tubuh adalah aset yang dapat ditukar untuk memperoleh gengsi, kekaguman, harga diri dan pekerjaan. Mitos kecantikan ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat  khususnya perempuan melalui berbagai media seperti Instagram, facebook, iklan televisi dan lainnya.

Hal ini menyebabkan setiap perempuan ingin tampil cantik seperti narasi yang dilemparkan media kepadanya, bahwa cantik itu memiliki standar baku seperti bintang iklan, selebriti dan selebgram. Mitos kecantikan  ini menyebutkan bahwa cantik itu kulit glowing, cantik itu putih, cantik itu langsing, cantik itu awet muda.

Perempuan dapat dikatakan menjadi “Korban” propaganda media, akibatnya perempuan merasa tidak percaya diri atas dirinya. Ketidak percayaan diri ini muncul akibat media yang terus menyuarakan jika cantik itu seperti para selebriti, menjadi sempurna atas wajah serta penampilannya. Jika kita memperhatikan biasanya bintang iklan suatu produk selalu diperankan oleh perempuan yang cantik, berkulit putih, glowing, tinggi, mulus.

Tak mengherankan jika standar kecantikan perempuan akan mengikuti para bintang iklan tersebut. Dirinya akan berupaya untuk dapat mencapai standar kecantikan dengan membeli produk yang dipasarkan, dengan harapan dapat memililki tampilan sempurna seperti bintang iklan . Hal ini mengakibatkan pembelian produk kecantikan menjadi laris dipasaran salah satu contohnya produk kecantikan dari negeri gingseng Korea Selatan banyak diburu oleh perempuan Indonesia, sebab di percaya dapat menglowingkan wajah dengan mudah.

Media iklan memiliki kekuatan untuk mengarahkan wacana kecantikan sesuai dengan trend yang berkembang saat ini. Peran media iklan ini baik iklan yang tersebar di televisi, media cetak dan media sosial memiliki andil besar untuk mempengaruhi  pandangan perempuan mengenai definisi cantik. Banyaknya iklan yang bertebaran secara tidak langsung akan memberikan dorongan atau sugesti untuk perempuan agar membeli produk tersebut.

Iklan yang ditayangkan terus cara berulang-ulang bisa merubah pola pikir yang awalnya tidak tertarik menjadi tertarik. Ditambah dengan review dari selebriti dan pengguna lainnya membuat dengan segara untuk memiliki produk tersebut. Sehingga perempuan berupaya untuk menjadi cantik sesuai dengan tuntutan trent saat ini, seperti memiliki wajah glowing yang dianggap sebagai kecantikan sempurna.

Mitos kecantikan ini tidak hanya menyasar kaum perempuan saja, lelaki sekalipun dapat terjerumus pada mitos kecantikan. Sebab ketika ia diharuskan mendefinisikan kata perempuan  cantik maka akan tergambar perempuan yang putih, yang langsing, yang  glowing , berpayudara tegap, berhidung mancung dan awet  muda. Pandangan seperti ini tentu tidak melihat perempuan dalam wujud sesungguhnya, kecantikan hanya dilihat dari visualnya saja.

Baca juga:

Pendidikan dan Perempuan Bagai Dua Sisi Mata Uang


Seperti dalam gambaran Novel berjudul Perpustakaan Kelamin karya Sanghyang Mughni Pancawati, dimana tokoh utama pernah melukai hati kekasihnya dengan mengatakan “Tubuh kamu jadi gemuk”. Saat ia mengatakan hal itu, ia lupa bahwa kekasihnya itu memiliki kecerdasan, kesetian, keberanian, dan rasa cinta kepadanya. Dari sedikit cuplikan  ini jelas bahwa sejatinya yang menjadi korban mitos kecantikan bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki.

Tulisan ini tentu menyatakan jika banyak perempuan terjebak dalam mitos kecantikan begitupun dengan laki-laki. Kecantikan atau Ketampanan hanya dilihat dari satu sisi saja yaitu visual, dan mengesampingkan hal lain. mengutip novel Perpustakaan Kelamin bahwa Ketampanan/Kecantikan terletak pada caramu menjalani hidup, pada prinsipmu, dan pada kemampuanmu mendayagunakan akalmu.

Untuk apa tubuh bagus, tapi otakmu tolol! kamu tidak akan hidup untuk melacurkan diri, bukan ?. Kita disadarkan bahwa kecantikan visual tidak melulu penting, mengembangkan potensi kecerdasan yang apa pada diri kita dapat menambah poin lebih bagi diri sendiri.***

#suaramillenialkuningan 
#suaragenerasiZkuningan 
#inspiringgeneration



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Terjebaknya Perempuan dalam “Mitos Kecantikan”, Sadarkah ? Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan