Hot News
27 Februari 2020

The Art of Conflict

oleh : Coach Ari (FB. Ari M. Ridwan) ( IG; @Ari M. Ridwan)

(Trainer Amco / Leadership Trainer / Kepala Bagian Pembinaan Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam / Konsultan Permasalahan Pelajar dan Pemuda / Trainer Muda Kuningan / Mahasiswa Semester Akhir Pasca Sarjana Uniku Prodi Magister Manajemen / Instruktur Senam Kebugaran / Penulis Buku “Kembali Kepada Fitrah” ) 

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Selasa saya mengikuti rapat pimpinan. Ketika sedang berlangsung pembahasan, ada pembahasan yang menarik perhatian saya untuk saya jadikan bahan membuat konflik. Bukan hanya sekedar konflik, tapi konflik yang mudah-mudahan bisa menyadarkan bahwa suatu kebutuhan harus diprioritaskan daripada hanya sekedar keinginan.

Berawal dari rencana mapping wali asrama untuk tahun ajaran baru, ada wali asrama yang secara pengalaman dan postur memang cocok menjadi wali asrama. Kenapa postur? Ya, karena menangani anak-anak sekarang, khususnya SMA, perlu postur yang memadai agar bisa mengimbangi postur mereka. Tapi, info yang saya dapat sudah diajukan untuk menempati posisi yang lain. Sontak itu membuat saya langsung, mengambil hp dan memulai sebuah pendapat, bahwa yang bersangkutan tetap di wali asrama.  

Tidak lama kemudian, yang mengajukan untuk tidak di wali asrama lagi  langsung merespon dengan menyampaikan alasannya. Karena niat saya memang ingin membuat sebuah konflik, maka saya jawab setiap argumennya. 

Karena saya beradu argumen di sebuah grup WhatsApp, sontak membuat anggota yang lain merasa bahwa konflik tersebut khawatir membuat ketidakharmonisan bagi kedua belah pihak. Padahal bagi saya konflik itu penting untuk mendewasakan cara berpikir kita. 

Dan dari awal pun saya berniat untuk memunculkan konflik itu bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, hanya ingin menyampaikan pesan bahwa, "lembaga pendidikan yang berbasis asrama, harus memprioritaskan SDM yang kompeten untuk mendidik di asrama. Kenapa? Karena 60% kegiatan anak-anak ada di asrama. Kenapa? Karena jika di asramanya dikelola oleh orang-orang yang punya kompetensi dan pengalaman, maka ritme kerjanya pun akan lebih mudah dinikmati. Jika sudah bisa menikmati pekerjaannya, maka kinerjanya pun akan baik. Jika, kinerja pengelola asrama baik, maka anak akan mudah mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan di luar asrama. Begitupun sebaliknya."

Baca juga:  Untuk Kebaikanmu!

Setelah, dikira cukup. Baru saya calling down, dengan menyampaikan pesan yang intinya bahwa apapun keputusan terkait maping SDM tidak terlalu masalah buat saya, karena intinya saya hanya menjalankan amanah sebisanya. Siapapun yang nanti akan menjadi bagian dari amanah yang diberikan kepada saya akan coba saya kelola. 

Tapi terkait dengan maksimal atau tidaknya, memang tergantung input yang diterima. Jika inputnya bagus, maka akan sebanding lurus dengan ketercapaian, tapi jika inputnya masih harus dipoles, maka butuh waktu untuk merealisasikan targetan yang diberikan. Karena mengurus manusia berbeda dengan mengurus yang lain.

Sekali lagi beda pendapat itu baik, konflik karena beda pendapat itu baik, selama diracik dengan cerdik. Karena masakan yang enak pun, berawal dari kombinasi bumbu yang berbeda. So, the Conflict is the art to be understood.***

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: The Art of Conflict Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan